jeruk bali
Sosbud
1-Aug-2008 16:54:13 WIB
HATI NURANI
Buta Bukan Halangan



Reporter : Sisca T Gurning - Erwin Saputra
Juru Kamera : Warsam Aji
Produser : Widayat S. Noeswa
Tayang : Jumat, 01 Agustus 2008, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Jakarta - Setiap manusia harus menjalani hidupnya seperti apa yang telah digariskan Yang Maha Kuasa. Sepahit apapun harus dijalani. Itulah yang dilakoni oleh Zulhadi (27), ia hidup dalam kebutaan. Ia beristrikan seorang wanita yang juga tuna netra. Ia harus menghidup istri dan 4 orang anaknya.

27 tahun, aku Zulhadi hidup dalam kegelapan. Mataku tak lagi mampu melihat sejak aku berusia 5 tahun. Aku sangat sadar, manusia jauh dari kesempurnaan hingga aku berlapang dada menerima cobaan ini.

Meski awalnya terasa sangat berat, disaat teman-teman kecilku menikmati indahnya dunia anak-anak, aku malah mulai akrab dengan kegelapan.

Memang aku terlahir dari keluarga yang hidup pas-pasan. Orangtuaku hanyalah petani karet di Jambi. Menurut ibunya, saat usiaku menginjak 5 tahun tubuhnya mengalami panas hebat, akibatnya fatal, pengliatanku mulai terganggu. Mataku rabun.

Meski orangtuaku jauh dari kecukupan, namun upaya mengobati penyakitku tak surut. Pengobatan medis dan tradisional diupayakan semampu orangtuaku, namun hasilnya jauh dari harapan. Mungkin sudah suratan buatku mataku akhirnya tak lagi mampu melihat. Ya aku buta.

Perlahan aku berbesar hati menerima cobaan ini dengan bermodalkan kepercayaan diri aku bisa menjalani hidupku sampai saat ini. 8 tahun lalu, tepatnya tahun 2008 aku meninggalkan tanah kelahiranku menuju Jakarta. Dengan berbekal ijazah dan kemampuan pijat, aku mengadu untung di ibukota. Pendidikanku memang cuma sampai Sekolah Menengah Pertama, namun aku yakin di Jakarta aku bisa hidup meski dengan kerja keras luar biasa.

Menginjakan kaki di Jakarta aku langsung menjadi pemijat keliling. Profesi inilah yang menjadi sandaran hidupku dan keluargaku. Beruntung aku memiliki Kasmini, istriku yang senantiasa menemaniku menjalani hidup ini. Sama sepertiku, Kasminipun tidak melihat, ia juga buta.

Kasmini malah tak pernah melihat dunia sedikitpun. Istriku buta sejak lahir, nasib yang samalah yang menyatukan kami. Dari pernikahan ini Tuhan menganugerahkan 4 orang anak. Dua laki-laki dan dua perempuan, sungguh bahagia keluarga kami. Namun himpitan ekonomi kerap menganjal perasaanku dengan 4 orang anak,aku harus membiayai hidup keluarga.

Kadang disaat-saat menyendiri dalam hati aku bertanya kepada Yang Maha Kuasa mengapa cobaankku begitu besar. Ya berat, aku menanggung hidup anak dan istriku, bahkan terpaksa di sulung dititipkan kepada keluarga istriku di Jawa Tengah.

Kadang ingin rasanya melihat raut wajah anak-anakku, namun itu cuman mimpiku, aku hanya bisa meraba wajah anakku seraya membayangkannya. Beruntung tak satupun anakku yang terlahir buta. Tugasku kini tinggal membesarkan anak-anakku dengan segenap daya. Sejak tahun 2007, aku membanting setir dari pemijat keliling menjadi pedagang kerupuk keliling. Ini semata-mata demi anak-anakku meski aku harus memeras keringat membanting tulang dengan segala keterbatasan.

Cobaan bukan hanya miliku. Anakku Dewi Kusrini juga harus merasakan kepahitan hidup orangtuanya. Kadang ia kerap mendapat cemoohan teman-teman sekolahnya. Rasanya aku berkeinginan menyekolahkan anak-anaku setinggi mungkin. Sanggupkah aku.

Segmen 2

Tak sebersitpun di benak Zulhadi untuk meminta belas kasihan oranglain. Rasa tanggungjawab dan harga diri mengalahkan semua itu. Setelah 7 tahun menjadi pemijat keliling, ia kini berdagang kerupuk, meski hasilnya juga tidak seberapa.

Aku memang memiliki keinginan menyekolahkan anak-anakku, namun aku sadar dengan takdir yang diberikan Tuhan kepadaku. Untuk itu aku hanya bisa pasrah dan berusaha sebisaku mengikuti hidupku yang mengalir.

Sekarang aku tinggal di rumah kontrakan dibilangan Joglo, Jakarta Barat bersama istri dan anak-anakku. Setiap bulan aku harus menyisihkan uang 350 ribu rupiah untuk sewa rumah kontrakan. Uang sebesar itu sangat berarti buat kami yang masih sulit keluar dari pintu kemiskinan.

Sebagai pedagang kerupuk ikan, dalam sehari kalau beruntung aku bisa meraup laba 25 ribu rupiah. Tidak jarang aku hanya mampu membawa pulang belasan ribu rupiah saja.

Kerupuk-kerupuk ikan inilah yang menjadi tumpuhan hidup keluargaku. Biasanya 60 an bungkus kerupuk aku bawa setiap harinya dengan menyusuri jalan-jalan di Jakarta aku mencari peruntunganku. Berkilo-kilo meter aku berkeliling menjajakan kerupuk ikan ini.

Jangan bayangkan perjalanan kelilingku itu mulus. Aku kerap tersandung persoalan apalagi masalahnya kalau bukan karena aku tidak bisa melihat. Kadang aku tersenggol motor atau tertabrak mobil, bahkan cemoohan pun kerap ku terima. Sekali waktu aku pun pernah terjerembak kedalam parit.

Sebagai pasangan tuna netra kehidupan rumah tangga yang kami bangun penuh suka duka. Kesulitan yang kami rasakan tentu lebih banyak dari mereka yang hidup normal, tapi aku dan Kasmini, istriku sudah sepakat memberi tekad akan menghadapinya bersama. Hanya dengan tekad itu kami kuat menghadapi segala rintangan.

Kami bertekad akan bersama-sama mengarungi hidup membesarkan anak-anakku menghadapi masalah. Aku hanya berkeinginan menyekolahkan anak-anakku hingga mencapai ke perguruan tinggi. Kadang ada tetanggaku yang turut prihatin atas kehidupan keluargaku, kehidupanku dan keluarga rupanya mengusik nurani mereka.

Kami sadar inilah garis kehidupan yang harus dilalui menjadi pasangan suami istri yang tuna netra membangun rumah tangga membesarkan anak-anak adalah hidup yang aku harus hadapi setiap harinya dengan semua keterbatasanku.

Didalam hidup kegelapan aku hanya bisa berdoa dan berharap agar Tuhan memberikan kesehatan dan rejeki bagi keluargaku. Tuhan yang menciptakan umat, pasti akan merawat dan memberikan jaminan hidup bagi umatnya, apalagi seperti aku. (Sup)

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :