jeruk bali
Ekonomi
1-Aug-2008 17:06:25 WIB
HATI NURANI
Anakku Harus Mengais Beras



Reporter : Sisca T Gurning - Erwin Saputra
Juru Kamera : Warsam Aji
Produser : Widayat S. Noeswa
Tayang : Jumat, 01 Agustus 2008, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Jakarta - Hidup buat Teti tidaklah mudah. Ia harus membesarkan 7 orang anaknya tanpa didampingi suami. Dengan kemampuan sebisanya ia menjadi pemulung disekitar tempat tinggalnya. Sementara itu anaknya terpaksa mengais beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur.

Bila Aku bisa memilih tidak ingin rasanya mengalami hidup seperti ini. Aku mempunyai 7 anak dan suami menikah lagi. Enam tahun lalu suamiku memutuskan mempunyai istri kedua dan sejak itu ia tidak pernah menafkahi anak - anak lagi.

Sejak itulah Aku memutuskan memulung rongsokan, seperti gelas dan botol plastik minuman mineral tidak jauh dari rumahku di Pasar Induk beras Cipinang, Jakarta Timur.

Hari - hariku diisi mengurus anak - anakku. Dari hasil memulung setiap harinya mendapat uang antara 8 hingga 10 ribu rupiah dan Aku habiskan hanya untuk membeli lauk pauk untuk anak - anakku makan.

Anakku yang kelima Kamal (12 tahun) sudah 3 tahun terakhir ini jadi pengais tumpahan beras di Pasar Induk Cipinang. Tiga hingga 4 liter setiap harinya ia bawa pulang. Beruntung Aku dan anak - anak masih bisa berteduh ini berkat kebaikan mertuaku.

Kami tinggal berhimpitan diruangan 3 X 3 meter. Bisa dibayangkan semua kegiatan dilakukan diruangan ini, tidur, memasak dan mencuci. Itu pun ditambah dengan keluarga adikku.

Sudah lama pula kami tidak menikmati aliran listrik. Hari gelap hanya diterangi nyala lilin, namun bersyukur kami masih bisa berteduh.

Kadang Aku kerap marah dengan diriku sendiri. Kenapa hidupku harus menderita seperti ini. Anak - anakku semuanya harus putus sekolah. Mereka tidak bisa mengenyam pendidikan bahkan ijazah dari Sekolah Dasar saja mereka pun tak punya.

Ini adalah Kamal anakku. Ia tak lagi bersekolah. Sekecil itu harus bekerja. Beras tumpahan yang melimpah dan berceceran di Pasar Induk Cipinang setiap hari, akhirnya menjadi lahan untuk mengais rejeki warga disini, termasuk Kamal.

Awalnya dia hanya ikut teman - teman sebayanya mencari beras. Tapi akhirnya saat ini Aku sangat bergantung dengan hasil beras yang dikais Kamal setiap hari.

Setidaknya beras yang dibawa anakku pulang bisa untuk makan kami sehari - hari dan sisa pungutan beras Aku jual ke tetangga 4 ribu rupiah per liternya. Lumayan, dengan ditambah pendapatanku dari memulung cukup untuk bisa membeli minyak tanah dan lauk sehari.

Sebenarnya Aku kasihan melihat anakku Kamal, setiap hari dari pukul 8 pagi hingga siang Kamal harus mengais beras.

Berlari mengejar mobil pengangkut beras dan berusaha melongok ke dalam bak, apakah ada tumpahan beras yang bisa kais ? Bisa beruntung dia segera melompat ke atasnya dan mulai mengumpulkan butir demi butir beras.

Aku tahu kalau anakku Kamal sebenarnya ingin sekali bersekolah. Anakku ini tidak pernah mau membuat Aku susah. Tak pernah Aku dengar keluhannya. Aku terus berharap agar nasib anak - anakku tidak seperti diriku kelak. Walau sekolah tidak mereka dapat, namun hidup mereka bisa lepas dari kemiskinan. (Dv/Sup).

 

 

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :