jeruk bali
Sosbud
8-Aug-2008 15:58:19 WIB
HATI NURANI
Semangat yang Tersisa



Reporter : Erwin Saputra
Juru Kamera : Waluyo A. Susanto
Produser : Widayat S. Nuswa
Tayang : Jumat, 8 Agustus 2008, Pukul 12:30 WIB

indosiar.com, Jakarta - Sebagai seorang ibu hatiku seperti tersayat - sayat setiap melihat anakku Neng Aisyah. Sejak lahir anak perempuanku ini menahan derita yang tiada akhir. Tubuhnya cacat, tulang belakangnya melengkung dan ada benjolan besar yang nyaris menutup punggungnya. Yang lebih menyedihkan pahanya terserang penyakit herpes. Aisyah, sering menangis kesakitan.

Sepintas kondisi anakku seperti anak normal lainnya, namun dibalik itu ada penekan panjang yang selalu dirasakannya. Lihatlah tulang belakangnya bengkok, seperti huruf S. Dan telapak kakinya lebar hingga mengganggu saat ia berjalan. Ya Tuhan... ternyata anakku juga menderita penyakit aneh, ada cairan yang menutup sebagian tubuhnya !

Sementara beberapa tahun terakhir, Neng Aisyah kena penyakit herpes yang menyerang pahanya. Ya Tuhan.. jika saja Aku bisa mewakili tubuh anakku, aku rela penyakit itu hinggap ditubuhku ! Biarkan anakku bahagia tanpa deraan kecacatan dan penyakit aneh, yang tak kunjung sembuh.

Aku sudah melakukan berbagai upaya untuk menyembuhkan penyakitnya. Mulai dari pengobatan medis hingga pengobatan tradisional sudah aku lakukan berkali - kali, namun lihatlah anakku tetap saja menderita.

Hampir setiap malam, jika penyakitnya kambuh anakku selalu menangis kesakitan. Aisyah mengeluh tubuhnya nyeri seperti ditusuk - tusuk jarum. Kadangkala badannya juga panas tinggi. Sementara jika herpesnya sedang kambuh, Aisyah merasakan gatal yang teramat sangat.

Kalau sudah begitu, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa menangis sambil berdoa agar Tuhan Yang Maha Kuasa meringankan beban anakku. Memang aku kini tidak lagi bisa membawanya Aisyah ke dokter, karena aku tidak punya uang. Suamiku hanya bekerja sebagai buruh angkut.

Untuk hidup sehari - hari saja rasanya tidak cukup. Aku hanya bisa mengobati anakku seadanya saja. Jika ada rejeki, baru aku membawanya ke dokter puskesmas. Hingga kini, aku tidak terlalu persis penyakit apa yang menyerang punggungnya, hingga ada cairan yang membuat benjolan besar. Yang aku ingat, sewaktu aku mengandung Neng pada usia kehamilan 8 bulan, aku pernah terjatuh ke dalam selokan. Mungkin itu yang membuat anakku menjadi cacat.

Meski hidup dalam deraan rasa sakit, Aisyah tidak pernah menyerah. Aisyah terus bersemangat meraih cita - citanya, bahkan kadang ia lupa ia harus berjuang melawan penyakitnya.

Hampir 9 tahun lamanya, aku membesarkan Neng Aisyah. Rasanya, waktu yang teramat panjang karena hanya penderitaannya yang menghiasi perjalanan hidupnya. Tapi aku bersyukur, Aisyah termasuk anak yang shaleh dan berbakti kepada orangtua. Setiap berangkat sekolah ia selalu memohon restu pada orangtua.

Ia kini sudah bersekolah kelas 3 SD di kawasan Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Yang membuat aku tambah bersyukur, Neng Aisyah punya semangat yang luar biasa untuk sekolah bahkan ia bercita - cita untuk bersekolah setinggi - tingginya.

Meski dalam hatiku selalu bertanya, mana mungkin aku bisa mewujudannya ? Maafkan aku nak. Aku tahu cita - citamu amat mulia, tapi aku, ibumu ini rasanya tidak bisa memenuhinya. Meski aku sendiri tidak bisa membaca dan menulis, namun aku selalu memberi dorongan Aisyah untuk terus belajar. Aku memang tidak bersekolah sejak dari kecil. Ya.. mungkin saja orangtuaku dulunya tidak mampu untuk menyekolahkan aku !

Anakku juga suka menggambar, jika ada waktu luang ia selalu menggambar apa saja yang ia sukai. Aku tinggal dikawasan Tanah Merdeka, Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Aku mengontrak 1 kamar berukuran 3 x 4 meter.

Disinilah aku berteduh bersama anak dan suamiku. Aku baru 2 bulan tinggal disini. Sebelumnya Aku mengontrak, tempat tinggalku berpindah - pindah. Jujur, aku tidak punya cukup uang untuk mengontrak. Hidup di kota besar, seperti Jakarta memang keras dan kadang kejam. Pernah suatu ketika aku diusir dari rumah kontrakan karena tidak dapat melunasi pembayaran sewa kontrakan.

Tapi Tuhan memang Maha Adil. Kali ini aku bertemu orang yang sangat berhati mulia. Rohana, pemilik kontrakan ini sangat mengerti penderitaanku. Bahkan aku hanya diminta membayar 150 ribu rupiah per bulan. Padahal seharusnya 300 ribu rupiah per bulan.

Ya Tuhan ... hidup ini memang penuh misteri ! Mesti aku mendapat cobaan berat, tapi aku selalu bersyukur atas apa yang Engkau berikan kepadaku. Karena aku sadar, aku hanya menjalani takdirMu. Tapi Ya Tuhan .. kabulkanlah satu permintaanku, bebaskan anakku dari derita panjangnya. Tunjukkan jalan kesembuhanMu untuk Aisyah, anakku. (Dv/Ijs)

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :