Reporter : Sisca Tiur Gurning
Juru Kamera : Waluyo Adi Susanto
Produser : Widayat S. Noeswa
indosiar.com, Depok- Bagi banyak orang cacat tubuh menjadi halangan untuk bisa menjalani hidup secara normal. Namun tidak bagi Anen, ia berusaha keras mengubah kekurangannya menjadi kelebihan. Ia juga tidak mau menjadi beban apalagi meminta belas kasihan orang lain.
Suara-suara bising dan suara lengkingan khas pluit kereta api rasanya akrab sekali dengan kehidupanku. Ya ditempat inilah kehidupan aku gantungkan. Lembar demi lembar koran aku jajakan dan rupiah demi rupiah aku kumpulkan hidup sehari-hari.
Sudah puluhan tahun aku jalani pekerjaan ini. Ya aku memang buta, tapi aku tidak menyerah. Aku tetap berusaha mencari nafkah sendiri tanpa mau bergantung atau merepotkan orang lain, apalagi harus meminta-minta ke pinggir jalan.
Meski mataku buta, tapi tanganku seperti bisa melihat dan dapat membedakan koran-koran yang aku jajakan. Bahkan aku dengan cepat mengambil koran yang akan dibeli oleh pelangganku.
Begitu juga uang kertas recehan, aku hafal betul mana uang kertas ribuan, lima ribuan atau sepuluh ribuan. Ya Tuhan memang Maha Adil ada indra keenam yang aku miliki yang mungkin tidak dimiliki oleh orang-orang normal.
Stasiun dan kereta api seperti sudah menjadi rumah keduaku, setiap jam 6 pagi, aku sudah berangkat untuk mengambil koran dari agen langgananku. Aku tahu jam-jam berangkat kantor pasti banyak orang yang ingin membaca koran.
Bahkan aku juga sering menjajakan koran diatas kereta, meski harus berdesak-desakan dengan para penumpang dan pedagang lain aku hafal jalan yang harus aku lalui.
Saat awal aku memang banyak menemui kesulitan saat berjualan koran di stasiun kereta, apalagi jika menjajakan diatas kereta api, mulai ditipu orang hingga tersesat saat berjalan di rel kereta.
Namun aku tidak menyerah, aku anggap itu semua sebagai ujian yang harus aku jalani. Aku merasa Tuhan terus membimbingku untuk tidak pantang menyerah.
Tidak selalu koran yang aku bawa habis terjual. Jika koran pagi tidak habis, aku terpaksa harus menjual koran hingga sore harinya. Ya pekerjaan ini harus aku jalani, karena aku sadar tanpa bekerja aku mungkin hanya akan merepotkan oranglain atau bahkan aku jadi gelandangan atau pengemis jalanan.
Segmen 2
Hingga kini ia tidak pernah mengetahui kenapa kedua matanya buta. Ia hanya mensyukuri karunia Tuhan karena didalam kegelapan Tuhan masih menerangi mata hatinya.
Aku tak bisa membayangkan seandainya saja adikku Aminah dan suaminya Sanusi tidak menyuruhku tinggal di rumahnya, mungkin aku sudah hidup terlunta-lunta sebatangkara di Jakarta.
Di Gang Gandaria II No.47 Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Depok inilah aku sehari-hari berbaur bersama keluarga adikku dan tiga orang anaknya. Aku tidak tahu persis sejak kapan dan kenapa kedua mataku buta. Tapi kata kedua orangtuaku, mataku mulai terganggu sejak usiaku 3,5 tahun. Waktu itu aku menderita panas tinggi.
Mungkin karena kemiskinanlah aku tidak segera dibawa berobat. Ya aku tidak pernah menyalahkan siapa-siapa, apalagi kedua orangtuaku. Aku anggap ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa yang harus aku jalani.
Bukankah manusia harus bersyukur atas rahmat yang diberikan Sang Pencipta, karena Tuhan lebih tahu apa yang akan diberikan kepada umatnya. Karena itu kekurangan ini tak pernah aku pikirkan toh sampai di usiaku yang ke 43 ini aku tetap sehat tak kurang suatu apapun.
Meski aku hidup menumpang, namun aku tidak mau membebani adikku, aku berusaha membantu mencari nafkah dan membantu pekerjaan di rumah. Aku bersyukur, adikku dan suaminya sangat mengerti keadaanku. Aku justru kadang merasa berdosa kenapa aku merepotkan mereka dan seperti menjadi beban mereka.
Ingin rasanya aku hidup mandiri, tinggal di rumah sendiri meskipun harus mengontrak, namun keinginan itu harus sirna karena adikku selalu tidak mengijinkannya. Mungkin adiku tidak tega membiarkan aku hidup sendiri tanpa ada yang bisa mengurusnya.
Meski hidup susah, terpaksa kami tinggal bersama. Aku merasa disinilah makna kehidupan yang sebenarnya. Bagi banyak orang harta mungkin menjadi segala-galanya, tapi buat kami orang miskin ada yang lebih penting yaitu ikatan kasih sayang diantara keluarga.
Sebagai laki-laki yang normal, ada keinginan terpendam yang kadang malu mengungkapkannya, aku ingin menikah. Ya seperti laki-laki lain. Kini aku hanya bisa pasrah menjalani kehidupanku, semua aku kembalikan kepada Yang Maha Kuasa yang penentu nasib manusia, aku masih bersyukur meski Tuhan menakdirkan mataku buta tapi Tuhan masih menerangi mata hatiku, Tuhan memang Maha Besar dan Maha Adil. (Sup)