jeruk bali
Nusantara
22-Aug-2008 16:31:01 WIB
HATI NURANI
Menembus Batas Malam



Peliput : Iwan Agung
Produser : Widayat S Noeswa
Tayang : Jumat, 22 Agustus 2008, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Jawa Tengah - Melihat guratan wajah mbah Sutirin seperti membuka lembar hitam kisah hidup kaum papa. Usianya kini 88 tahun, masa yang seharusnya menghabiskan sisa-sisa hidup dengan penuh kebahagiaan. Namun mbah Sutirin harus berpeluh memeras keringat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dinginnya kota Solo telah menjadi sahabat kehidupanku, Ya betapa tidak, jika malam tiba buatku itu adalah saat untuk mencari rejeki. Aku rela meninggalkan rumahku di Boyolali, 25 kilometer dari kota ini untuk membawa satu pikul kacang rebus.

Aku tahu kota Solo tidak pernah tidur di malam hari. Banyak orang yang menginginkan suasana malam di kota ini. Di tempat lesehan inilah aku menawarkan daganganku. Rejeki hanya Tuhan yang tahu, entah karena kasihanan melihat tubuh rentaku atau memang orang orang ini menyukai daganganku, kacang rebusku selalu ditunggu.

Yah..aku sadar tidak setiap hari adalah hari yang bersahabat dengan ku. Kadang daganganku masih tersisa, tapi aku selalu mensyukuri rejeki yang datang pada ku hari ini. Jika malam tiba, aku beranjak meninggalkan keramaian kota. Badanku teramat lelah, tapi aku bahagia aku bisa membawa rupiah untuk istriku.

Di masjid inilah aku mengadu. Rumahku teramat jauh untuk pulang malam ini. Usai sholat malam aku merebahkan diri, menunggu datangnya pagi.

Yah..orang orang disekitar masjid sangat mengenalku. Sudah puluhan tahun aku menjalani pekerjaan ini, meski aku sadar tubuhku teramat renta untuk memikul beban yang berat, apalagi jika harus berjalan kaki menyusuri sudut - sudut kota.

Di rumah istriku sudah menunggu, aku tahu ada harapan terpancar di wajahnya. Istriku tentu bahagia, aku datang membawa uang. Rumah ku adalah potret kehidupanku yang sebenarnya. Tidak ada kemewahan yang ada hanya kesederhanaan. Kebahagiaan ada di hati kami, bukan harta atau kekayaan.

Aku merasa bahagia karena hidup apa adanya dan berusaha menjalankan apa yang menjadi kewajibanku untuk mencari uang. Tubuh tua ku memang sudah rapuh..Tapi aku tak pernah menyerah, ku tak menghiraukan istriku yang memintaku berhenti bekerja.

Aku sadar aku tidak punya sawah dan ladang untuk menyandarkan hidup, hanya ini yang masih bisa aku lakukan. Aku juga tidak mau mengganggu kehidupan 5 anaku. Aku juga tak berfikir hari esok, Yang ada hanyalah berjalan dan terus berjalan. (Sup/Hr)

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :