Reporter : Erwin Saputra indosiar.com, Jakarta - Aku tidak pernah membayangkan akan menjalani hidup yang keras di kota Jakarta, namun nasiblah yang memaksa Aku harus pergi jauh merantau meninggalkan keluargaku. Ya kini Aku harus bekerja mencari uang. Aku tidak bisa lagi melanjutkan sekolah, seperti teman - temanku karena orangtuaku tak punya biaya.
Asep Roni, bocah berusia 13 tahun adalah potret kehidupan yang teramat dekat dengan keseharian kita, namun terkadang kita tidak memperdulikannya. Jutaan anak - anak Indonesia bernasib sama seperti Roni. Mereka tidak bisa meneruskan sekolah dan harus bekerja karena lilitan kemiskinan.
Aku ditakdirkan lahir dari orangtua yang miskin. Disebuah kampung kecil di Padalarang, Jawa Barat. Orangtuaku bekerja sebagai buruh tani atau kadang menjadi pekerja kasar. Mereka tidak berpendidikan dan sepertinya tidak pernah memikirkan nasib sekolah kami anak - anaknya.
Asep Roni namaku, teman - teman dan keluargaku sering memanggilku Apen. Tepat 2 bulan yang lalu atau selepas tamat SD Aku memberanikan diri ikut kerabat orangtuaku yang bernama Tajudin untuk hijrah ke Jakarta. Tajudin memang asli Padalarang, rumahnya sangat dekat dengan rumahku, sehingga kedua orangtuaku tidak kuatir melepas kepergianku.
Tekad Aku ke Jakarta sangat bulat karena orangtuaku sudah tidak mampu lagi untuk membiayai Aku untuk melanjutkan sekolah ke SMP. Di Jakarta Tajudin jualan cobek atau ulekan. Cobek - cobek ini dibawa dari kampung halaman. Kini Aku untuk sementara numpang tinggal dirumah kontrakan Tajudin yang sempit dikawasan Pondok Aren, Bintaro.
Meski menumpang tapi Aku juga harus ikut iuran membayar uang kontrakan sebesar 400 ribu per bulan. Selain itu setiap hari Aku juga harus menyisihkan uang makan 5 ribu rupiah. Setiap pukul 08.00 pagi Aku sudah mulai berjalan kaki menjajakan cobek yang terbuat dari batu. Bisa dibayangkan betapa berat bebanku memikul dagangan ini.
Aku menjajakan cobek - cobek ini di perumahan mewah dikawasan Bintaro. Dari pintu ke pintu Aku mencoba menawarkan daganganku. Yah..pekerjaan ini memang melelahkan ! Pundakku terasa sakit menahan beban berat sambil terus berjalan. Jika sudah tak tahan Aku memilih berhenti sambil menunggu pembeli.
Rezeki hanya Tuhan yang tahu. Kadang saat Aku berjalan menjajakan dagangan, tiba - tiba ada orang yang datang memberi uang, mungkin mereka tak tega melihatku.
Segmen 2
Roni mempunyai cita-cita menjadi seorang polisi. Karenanya rasa lelah dan letih tak lagi dihiraukannya, yang ada hanya mendapatkan uang agar bisa menabung untuk mewujudkan cita-citanya.
Meski Aku berasal dari keluarga miskin, namun tak pernah terlintas dalam benakku untuk meminta belas kasihan orang lain. Pantang bagiku menjadi pengemis atau meminta - minta kepada orang lain. Yang ada hanyalah bagaimana caranya bekerja mendapatkan uang yang halal.
Pekerjaan inilah yang bisa Aku lakukan saat ini. Aku berharap dari pekerjaanku ini Aku bisa mendapatkan uang untuk hidup dan sisanya Aku tabung agar bisa melanjutkan sekolah ke SMP. Ya Aku punya cita - cita yang tidak mungkin tercapai jika Aku tetap hidup bersama orangtuaku di kampung. Aku ingin menjadi polisi.
Tapi ternyata hidup memang berat, keinginan tidak selalu sesuai kenyataan selama beberapa bulan Aku berjualan Aku merasakan betapa sulitnya mencari uang. Kadang - kadang dalam 1 hari hanya 1 atau 2 cobek yang terjual.
Bahkan hari ini meski Aku sudah berjalan jauh berkeliling perumahan belum satu pun daganganku terjual. Kehidupan Jakarta memang keras, rasa belas kasihan, toleransi dan saling menghargai, seperti hilang ditelan kebisingan kota.
Orang - orang kecil seperti kami sering dianggap warga kelas dua. Yah.. sering Aku mengalaminya betapa kejamnya orang Jakarta. Tidak jarang Aku diusir oleh Satpam di perumahan ini karena dianggap mengganggu atau tertabrak motor dan mobil saat melintas dijalanan.
Pengalaman hidup ini membuat Aku semakin berhati - hati. Tapi Aku sangat ikhlas menjalani hidup ini yang penting Aku harus tetap bekerja agar Aku bisa mendapatkan uang dan mewujudkan cita - cita yang terpendam.
Aku tahu banyak orang iba melihatku. Mereka selalu bertanya mengapa kamu tidak sekolah ? Kenapa kamu bekerja seperti ini ? atau dimana orangtuamu ? Mungkin mereka tahu anak - anak seusiaku mestinya masih menikmati masa - masa sekolah.
Bermain sesukanya bersama teman sebaya tapi Aku memang bukan mereka Anak - anak yang beruntung memiliki orangtua kaya. Tapi perjalanan hidupku tidak membuatku kusurut, justru Aku terpacu untuk untuk terus bekerja dan bekerja, karena Aku masih menyimpan cita - cita dan Aku harus mendapatkannya. (Sup/Dv)