
indosiar.com, Jakarta - Hari - hariku hanyalah tidur dan tidur. Kondisi ini telah lama kualami, semenjak kakiku tak mampu lagi untuk menompang tubuhku yang gemuk ini. Aku sendiri tak tahu, apa nama penyakit yang telah Aku alami sejak 4 tahun lalu. Aku sudah berusaha ke dokter di beberapa puskesmas. Namun mereka tak pernah menjelaskan apa sebenarnya terjadi padaku. Kini, Aku hanya bisa pasrah menerima nasib.
Aku masih ingat kejadian 4 tahun lalu. Saat berjalan, tiba-tiba aku terjatuh tanpa sebab yang jelas. Aku masih sadar, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Tubuhku terasa lemas dan aku tak punya tenaga.
Aku berusaha berdiri dan menggerakkan kaki, namun tak mampu. Aku bingung, kenapa semua ini bisa terjadi ? Dan aku makin bingung, karena semua tanpa tanda-tanda penyakit yang menyerangku.
Aku makin tak mengerti karena tak bisa lagi berdiri, kakiku terasa lain. Aku berusaha datang ke dokter dekat rumahku, namun tak ada hasilnya. Berbagai puskesmas juga telah kusambangi, tapi tak ada satupun yang bisa memberi penjelasan tentang penyakitku. Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan menyerah.
Aku ingin sekali menemukan jawabannya. Aku tahu itu hanya ada di rumah sakit besar dan dokter-dokter ahli. Tapi aku sadar, aku tak punya biaya. Untuk makan sehari-hari saja, aku harus berusaha keras memenuhinya.
Aku juga tak bisa menyalahkan kondisi yang menimpaku ini. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan bahwa kemiskinanlah yang menjadi penyebab semua ini. Aku juga tak boleh merasa kesal dengan semua ini.
Seringnya aku berharap ketujuh putra putriku bisa membantu kehidupan orangtuanya. Tapi, semua hanyalah angan-angan, karena kehidupan keluarga mereka tak ubahnya seperti kami juga.
Apa yang kualami ini mudah-mudahan bisa menjadi cerminan bagi cucu-cucuku kelak. Setidaknya mereka harus menuntut ilmu setinggi mungkin. Aku sadar, kebodohanlah yang menyebabkan kami tak pernah beranjak dari kemiskinan, tapi semua sudah terjadi.
Hanya ada 1 keinginanku saat ini, aku ingin sembuh meski aku sendiri tidak mengerti bagaimana caranya. Agar Aku bisa bekerja lagi seperti dulu ? Memikul barang - barang, mencangkul ladang dan membersihkan rumah. Kasihan isteriku.
Mungkin sudah suratan nasib, bahwa aku dilahirkan sebagai orang miskin. Sejak kecil hingga kini, kehidupanku tak pernah berubah. Yah.. orangtua kami memang orangtua tak berada ! Hingga mereka tak bisa membantu kami, anak-anaknya mengubah nasib.
Gubuk ini adalah rumahku yang aku tinggali bersama anak dan isteriku, sejak 8 tahun lalu. Gubuk ini bahkan nyaris rubuh. Ini papannya bolong dimana-mana, kami tak punya apa-apa.
Satu-satunya harta yang berharga yang aku miliki adalah sepetak tanah yang aku dirikan gubuk ini. Yah... Aku membelinya setelah menabung bertahun-tahun bersama isteriku. Dulu aku tinggal di Sunter, Jakarta Utara, namun setelah aku membeli tanah dan membangun rumah, aku pindah kesini.
Meskinya jauh dari sehat, tapi disinilah kami dapat lebih menghargai apa makna kehidupan sebenarnya. Aku berusaha membahagiakan anak dan isteriku, meski seadanya. Namun semua kebahagiaan berubah saat musibah menimpa 4 tahun lalu. Aku tak lagi bisa mencari nafkah seperti dulu.
Untuk makan sehari-hari, kami terpaksa menjual buah pisang yang kami tanam . Aku bersyukur para tetangga disini sangat mengerti keadaanku. Mereka sering datang memberi bantuan ala kadarnya. Yah.. kadang Aku kasihan dengan isteriku, kini Ia menjadi tulang punggung keluarga, apalagi usianya lebih tua, tapi apa daya aku sendiri tak bisa berbuat apa-apa.
Kadang terbesit harapan, ada bantuan dari anak-anak, tapi aku juga mengerti keadaan mereka. Beban kehidupannya juga tak berbeda denganku. Iya hanya kepedihan yang aku rasakan jika memikirkan semua ini. Aku ingin bangkit tapi kakiku tak lagi bertenaga. Aku hanya bisa berdoa mudah-mudahan isteriku kuat menjalani semuanya. Untuk menghibur kami hanya bisa saling berbagi rasa, saling memberi kekuatan menghadapi kehidupan ini. (Dv/Ijs)