Hati Nurani

Berjuang dengan gigih, dan tidak mengenal kata menyerah. Merupakan tekadku dalam menjalani roda kehidupan. Aku yakin, jika kita tidak ingin dihantui kesengsaraan, maka kita harus tetap berusaha. Meskipun usaha yang kita jalani, kadang tidak memberikan hasil yang maksimal.
Perjuangan Ade Ismail memang patut diteladani. Walaupun ia terlahir sebagai tuna netra, namun ia tak pernah menyerah untuk menggapai cita-citanya. Ia kini adalah seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta.
Kerasnya kehidupan di Jakarta, tidak membuatku putus asa. Untuk menghidupi keluarga, Aku bekerja sebagai petugas keamanan sipil atau hansip. Penghasilan sebagai hansip, jauh dari kata sekedar cukup, tetapi Aku jalani demi memenuhi kebutuhan hidup keluargaku, dan ke 2 anakku yang menderita cacat.
Namaku Iwan, sudah 32 tahun Aku tinggal di wisma ini. Aku menderita sejumlah cacat bawaan sejak lahir. Kecacatan inilah yang menyebabkan Aku tidak bisa beraktifitas sebagaimana manusia normal.
Robi adalah potret kaum pinggiran yang terbuang dari hiruk pikuknya ibukota. Ia tak punya uang untuk menyewa rumah, sehingga iapun tinggal di gubuk-gubuk liar. Robi harus bekerja keras demi menghidupi 8 anaknya dan seorang istri, yang sedang didera berbagai penyakit.
Karnadi, bocah belasan tahun harus bekerja keras demi mewujudkan cita-citanya. Dari pagi buta hingga malam tiba, hampir tak ada waktu yang tersisa, ia rela menjadi seorang pemulung untuk menabung demi mewujudkan impiannya.
Syahri kini tergolek lemah. Ia tidak pernah mengerti penyakit apa yang sedang ia derita. Empat tahun sudah berlalu, namun ia tak bisa menemukan jawabannya.
Nur'ani adalah gadis yang malang. Sejak lahir ia terserang penyakit bawaan. Tubuhnya tak mampu memproduksi sel darah merah. Penderitaannya semakin menjadi ketika tubuhnya digeroti penyakit lainnya.
Dalam sebulan terakhir Samiah, gadis malang asal Serang mungkin meratapi nasibnya. Setiap malam ia harus menangis menahan rasa sakit dan nestapa. Kedua matanya tak lagi bisa melihat cahaya, semuanya mendadak gelap gulita.
Himpitan kemiskinan membuat Mulyana harus menderita sepanjang usianya. Tangan kanannya lumpuh seusai mendapati imunisasi polio. Namun Mulyana tak lagi meratapi nasibnya. Di usia senjanya ia kini hanya ingin bertugas sebagai orang tua.

 1 2 3 4 5 6 >  Last ›

© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :