jeruk bali

Hati Nurani

Aku memang berbeda dengan kebanyakan remaja sebayaku. Saat lahir, dokter mengatakan bahwa Aku mengalami cacat diseluruh tubuhku. Tulangku kekurangan kalsium, karena saat dalam kandungan, tali pusarnya hampir putus. Sehingga Aku kekurangan asupan kalsium.
Bagiku dunia kini terlihat gelap gulita. Terangnya sinar matahari, tak mampu lagi menerangi pandangan mataku. Ya.....sejak setahun lalu, mataku buta total. Aku tidak tahu penyakit apa yang menyerang mataku ini. Bahkan mata kananku, kadang masih mengeluarkan darah.
Meski nampak ceria, Endang dan Luki tetap tidak bisa menutupi kepedihan yang mereka rasakan. Tulang kaki dan tangannya tumbuh tidak normal. Jika disentuh atau terjatuh mereka akan menangi kesakitan. Mereka pun tidak mampu berdiri.
Asti dan adiknya Ahmad sungguh menderita kulitnya bersisik seperti ular. Jika sedang kambuh, mereka merasakan panas dan perih yang teramat sangat. Orangtuanya juga tidak pernah membawa mereka berobat karena ketiadaan biaya.
Tak ada kata yang bisa mewakili kepedihan Iyut Fitriani, seorang gadis belia berusia 15 tahun. Sejak bayi kepalanya ditumbuhi tumor yang kian hari kian membesar. Orangtua Iyut tak punya biaya untuk mengobatinya hingga ia harus pasrah menerimanya.
Een Sukaeshi dulunya adalah seorang guru disebuah SMA di Cirebon, Jawa Barat. Namun takdir mengubah kebahagian hidupnya. Sejak 21 tahun silam, Een hanya bisa berbaring lemah di kamar tidurnya karena kedua kakinya lumpuh.
Tak banyak pilihan bagi Aminah. Wanita renta yang kini usianya hampir 80 tahun. Hidup baginya adalah sebuah perjuangan dari pengabdian, karena kemiskinannya Aminah harus terus bekerja untuk menghidupi anak dan cucunya.
Bagiku hidup ini tidak ada pilihan, kecuali menerima takdir dari Yang Maha Kuasa. Senang, susah, bahagia dan menderita, kini sudah sulit aku bedakan. Betapa tidak. Hari - hariku kini harus menghadapi kenyataan yang teramat pahit.
Aku kini sudah berusia 37 tahun. Boleh dibilang Aku tidak memilik kesempurnaan hidup. Sedari kecil hidupku tidak bisa lepas dari belaian dan perhatian ibuku, Usnah. Karena kakiku tidak sempurna, bentuknya lebih pendek dari badanku.
Usianya kini 17 tahun, namun Opik anakku, hanya bisa berbaring di dalam rumah. Opik tak ubahnya seorang bayi. Ia tidak bisa melakukan apa - apa. Untuk makan dan minumpun harus disuapi. Ya Tuhan andai saja Opik terlahir normal, aku pasti sangat bahagia.

 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›

© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :