jeruk bali

Hati Nurani

Purnomo adalah potret seorang pejuang yang tulus dan ikhlas berkorban untuk tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peperangan boleh menghentikan langkahnya di medan pertempuran. Namun tidak akan pernah menghentikan semangatnya untuk berjuang menghidupi anak dan istrinya.
Lalu lintas di Jakarta terutama dikawasan Jakarta memang sangat padat, terutama di jam berangkat dan pulang kantor. Di lintasan kereta api seperti ini, kadang orang tidak sabar dan ingin menerobos. Karena itu, ditempat ini sering terjadi kecelakaan, orang, atau mobil yang tertabrak kereta.
Aming, pria berusia 85 tahun adalah sosok ayah yang tidak pernah melupakan tanggungjawabnya. Di usianya yang uzur, Aming tetap sabar dan penuh kasih sayang merawat anaknya yang lumpuh dan gagu sejak lahir.
Bagi kebanyakan orang berkumpul dengan anak dan istri adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya, bisa berbagai suka dan duka. Namun bagiku, berkumpul dengan keluarga sebuah impian yang teramat mahal.
Kata orang kehidupan di Jakarta memang keras, dan kejam. Ternyata kini aku benar benar merasakannya. Dulu aku datang ke Ibukota Jakarta, dengan berjuta harapan. Bisa mendapatkan uang, dan hidup lebih baik daripada selalu berkubang kemiskinan di sebuah kampung, di Banyumas, Jawa Tengah.
Manusia boleh berencana, namun Tuhanlah yang menentukan.Ya kata - kata itu kini aku renungi dan aku resapi dalam alam. Betapa tidak, dulu aku adalah seorang professional, yang boleh dibilang memiliki masa depan yang cerah. Aku sarjana elektro, dari Institut Tekhnologi Bandung, sebuah perguruan tinggi terpandang di negeri ini.
Mak Ibit adalah potret wanita yang pantang menyerah untuk menghidupi keluarganya. Setiap hari ia harus berjalan belasan kilometer menjajakan makanan dan sayuran. Mak Ibit memang harus bekerja keras karena suaminya tergolek lemah setelah kakinya lumpuh akibat kecelakaan kerja.
Asep dan Dede awalnya lahir normal. Namun saat bayi mereka mengalami panas tinggi dan kejang. Akibatnya kedua kaki mereka lumpuh sama sekali tidak bisa digerakkan. Dan yang lebih menyedihkan keduanya juga gagu.
Kedua kakak beradik bernama Aris dan Iwan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah kini hanya bisa terdiam lesu. Kedua kakinya terkena lumpuh layu. Bahkan orangtuanya pun terpaksa memasung mereka karena tingkah laku mereka kadang membahayakan.
Beruntung hingga kini aku masih sehat. Bagaimana tidak, di usiaku yang kini sudah memasuki 94 tahun aku masih mampu menjajakan pisang berkeliling kampung dan komplek perumahan belasan kilometer di Kecamatan Pancoran Mas, Depok.

‹ First  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›

© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :