Hati Nurani

Kata orang kehidupan di Jakarta memang keras, dan kejam. Ternyata kini aku benar benar merasakannya. Dulu aku datang ke Ibukota Jakarta, dengan berjuta harapan. Bisa mendapatkan uang, dan hidup lebih baik daripada selalu berkubang kemiskinan di sebuah kampung, di Banyumas, Jawa Tengah.
Manusia boleh berencana, namun Tuhanlah yang menentukan.Ya kata - kata itu kini aku renungi dan aku resapi dalam alam. Betapa tidak, dulu aku adalah seorang professional, yang boleh dibilang memiliki masa depan yang cerah. Aku sarjana elektro, dari Institut Tekhnologi Bandung, sebuah perguruan tinggi terpandang di negeri ini.
Mak Ibit adalah potret wanita yang pantang menyerah untuk menghidupi keluarganya. Setiap hari ia harus berjalan belasan kilometer menjajakan makanan dan sayuran. Mak Ibit memang harus bekerja keras karena suaminya tergolek lemah setelah kakinya lumpuh akibat kecelakaan kerja.
Asep dan Dede awalnya lahir normal. Namun saat bayi mereka mengalami panas tinggi dan kejang. Akibatnya kedua kaki mereka lumpuh sama sekali tidak bisa digerakkan. Dan yang lebih menyedihkan keduanya juga gagu.
Kedua kakak beradik bernama Aris dan Iwan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah kini hanya bisa terdiam lesu. Kedua kakinya terkena lumpuh layu. Bahkan orangtuanya pun terpaksa memasung mereka karena tingkah laku mereka kadang membahayakan.
Beruntung hingga kini aku masih sehat. Bagaimana tidak, di usiaku yang kini sudah memasuki 94 tahun aku masih mampu menjajakan pisang berkeliling kampung dan komplek perumahan belasan kilometer di Kecamatan Pancoran Mas, Depok.
Atikah hanya tergolek lemah tak berdaya. Ia tidak bisa berjalan, karena kedua kaki yang membengkak menderita penyakit kaki gajah. Ia harus mengubur banyak impiannya, karena Atikah tidak memiliki uang untuk mengoperasi kakinya.
Adi Saputra bocah berusia 8 tahun warga Pasuruan, Jawa Timur memiliki tingkah yang aneh. Ia ingin terus bergerak kemana ia suka. Namun tatapan matanya kosong seperti tidak menyadari apa yang tengah ia lakukan.
Hilman, bocah berusia 8 tahun memang lahir tidak sempurna. Kedua kakinya lumpuh dan ia harus berjalan merangkak dengan kedua tangannya. Bibirnya sumbing sehingga ia tidak bisa berbicara normal seperti anak sebayanya.
Emong, pria yang telah berusia 85 tahun kini harus berjuang menghidupi keluarganya. Dengan fisik yang renta, ia harus berjalan belasan kilometer menjajakan minyak tanah keliling desa.

‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›

© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :