Sosbud
26-Oct-2005 14:44:12 WIB
HORISON
Perihnya Hidup Jadi Peti di Tanah Rantau



Reporter : Sudrajat
Cameraman : Dedi Effendy
Lokasi : Kalimantan Tengah
Tayang : Rabu, 26 Oktober 2005, Pukul 12.00 WIB

Hamparan bukit pasir yang tandus, dan teriknya cuaca, seakan menyayat tubuh. Tak ada pohon besar yang tumbuh, tak ada hewan yang tengah berkeliaran. Yang terlihat hanyalah danau-danau kecil, bekas galian para penambang emas tanpa ijin atau istilah populernya disebut, Peti.

Pemandangan alam seperti ini ditemukan di wilayah penambangan emas yang ada di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Dari 11 kecamatan yang ada di Katingan, 8 diantaranya merupakan penghasil tambang emas, dan hampir sebagian besar digarap para penambang emas tanpa ijin. Biasanya mereka beralih menjadi penambang emas tak kala kerja menjadi pemotong kayu atau ilegal loging lagi seret.

Desa Hampalit atau orang Dayak Katingan menyebutnya dengan Desa Kereng Pange, adalah salah satu desa yang punya kandungan emas sangat besar. Dari areal 252 kilometer persegi, sebagian besar mengandung emas. Tidak heran, orang Kalimantan Tengah mengenal Desa Kereng Pange sebagai Texasnya Kalimantan Tengah. Transaksi uang hasil penjualan emas lumayan tinggi, dalam sehari ratusan juta rupiah beredar di desa ini.

Namun dari 8 ribu jiwa penduduknya, hanya 25 persen yang bekerja sebagai penambang, selebihnya bekerja sebagai pedagang. Dan umumnya yang bekerja sebagai Peti justru warga pendatang, umumnya berasal dari Jawa Timur. Saat ini kurang lebih ada sekitar 200 Peti, yang sehari harinya bergelut dengan pasir dan terik matahari, demi mendapatkan satu hingga 3 gram emas sehari.

Yanto, misalnya. Pria asal Blitar, Jawa Timur, yang berusia 33 tahun ini, terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya, akibat terik matahari yang terus menerus menerpa tubuhnya. 7 tahun lebih Yanto berburu emas di Desa Hampalit.

Biasanya untuk menambang emas atau ngadumping, istilah mereka, tak bisa dilakukan sendirian. Minimal ber-4 sekali ngadumping. Dan tiap kelompok Peti harus bekerja sama dengan pemilik mesin penyedot air. Mesin penyedot air in, merupakan modal utama untuk ngadumping. Harganya mencapai 13 juta rupiah, jumlah yang tak mungkin terjangkau bagi para Peti.

Semenjak kenaikan harga BBM, Yanto dan teman-teman seprofesinya lebih banyak mengeluh. Penghasilan mereka sebagai penambang emas, kini tak sebanding lagi dengan ongkos produksi yang dikeluarkan. Ironisnya, jika lagi tak bernasib mujur, tanah yang mereka gali terkadang sama sekali tidak menghasilkan emas.

Jika beruntung, sehari Yanto dan kelompoknya, biasa menghabiskan 40 liter solar dengan perolehan emas sekitar 4 gram. Sementara harga jual emas berkisar 137 ribu rupiah per gram. Jika dihitung, hasil penjualan emas tersebut setelah dikurangi bagi hasil dengan pemilik mesin penyedot air dan setelah dikurangi ongkos pembelian solar, praktis Yanto dan anggota kelompoknya hanya mendapatkan uang tak lebih dari 20 ribu rupaiah.

Meski pendapatan minim, Yanto dan kelompoknya, terbilang masih beruntung bisa menambang emas. Banyak teman-teman seprofesinya yang lain, yang tak lagi bisa berbuat apa-apa semenjak harga BBM naik. Mereka hanya bisa menghabiskan waktu di gubug dengan kegiatan tak berarti.

Apalagi saat ini, dimana ilegal loging tengah digalakkan, persaingan semakin ketat. Banyak bermunculan para Peti. Yanto dan para penambang Peti lainnya, adalah potret menyiasati hidup, ingin merubah nasib. Namun merantau ke tanah seberang tak selalu bisa dijadikan jaminan meraih kehidupan lebih layak.(Idh)

Nama:
Email:

More HORISON:
[ more Horison ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :