Nusantara
26-Oct-2005 15:49:24 WIB
HORISON
Jika Wayang Punya Peran Lain



Reporter : Iwan Munandar
Cameraman : Iwan Agung
Lokasi : Tegal, Jawa Tengah
Tayang : Rabu, 26 Oktober 2005, Pukul 12.00 WIB

Kota Tegal, terletak di pesisir utara Pulau Jawa, dikenal pula sebagai bandar niaga. Perputaran roda perekonomiannya melaju secepat budaya pesisiran yang melekat pada sebagian besar warga Tegal. Budaya pop yang diusung arus globalisasi, tanpa disadari menggeser nilai-nilai tradisional, menciptakan jarak antara masyarakat dengan akar budaya setempat.

Ditengah banyaknya pilihan hiburan yang ada, warga Tegal cenderung menyenangi pertunjukan kesenian yang bernuansa modern. Ini terlihat pada setiap pementasan seni tradisional, penontonnya didominasi warga yang telah berusia lanjut.

Adalah Ahmad Jamnuri, populer sebagai Ki Barep. Seorang guru olah raga di sebuah sekolah kejuruan di Kota Tegal, merasa prihatin dengan kondisi ini. Kurangnya kepedulian generasi muda Tegal terhadap kesenian tradisional, membuat kesulitan tersendiri bagi seniman setempat untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian tradisional seperti wayang.

Timbullah ide menyajikan pagelaran wayang dengan kemasan berbeda. Konsep yang diusung Ki Barep, memadukan budaya tradisional dengan modern. Unsur tradisional terwakili oleh sosok wayang kulit dan wayang golek yang dimainkannya.

Sedangkan unsur modern, tercermin dari musik rock sebagai pengiring. Ki Barep menyebutnya sebagai wayang rock. Agar pesan-pesan yang disampaikan tepat sasaran, tema yang dipilih dalam pementasan pun seputar permasalahan anak muda sekarang, seperti narkoba, seks bebas, hingga sekitar dunia pendidikan.

Ini semua dilakukan Ki Barep, sebagai upaya menarik perhatian kalangan muda, untuk menunjukkan bahwa kesenian tradisional wayang masih eksis hingga kini. Memang bukan pekerjaan yang mudah untuk memulai sesuatu yang baru.

Meski telah memperkenalkan wayang rock sejak tahun 2004 lalu, Ki Barep masih kerap menerima kritikan tajam atas konsep wayang yang dimainkannya, yang dinilai tidak mengikuti aturan baku atau pakem pewayangan yang telah dianut para dalang sejak berabad-abad lampau.

Lazimnya lakon wayang dipentaskan malam hingga dini hari, namun Ki Barep memilih waktu petang hari untuk mementaskan wayangnya. Alasannya, agar remaja belasan tahun, punya kesempatan untuk menonton.

Dukungan terhadap upaya pelestarian seni budaya tradisional dengan unsur modern seprti yang dilakukan Ki Barep, walau tidak banyak namun tetap ada. Dan sesungguhnya reaksi atas pembaruan suatu budaya bernilai tinggi, pada akhirnya berpulang kepada kearifan masyarakat untuk menilainya.

Bagi masyarakat Tegal, sosok Haji Mujtahid, tak asing lagi. Ustadz kelahiran Tegal 44 tahun lalu ini, punya cara unik saat berdakwah. Sejak tahun 2003, ia menggunakan media wayang dalam setiap ceramahnya, dipadu dengan gaya bicaranya yang kental dengan logat Tegalan dan humoris. Tak heran, jika sosoknya sulit untuk dilupakan masyarakat Tegal dan sekitarnya, bahkan hingga indramayu dan kota-kota pesisir lain di Jawa Tengah.

Dari pengalamannya menggunakan wayang sebagai media dakwah, masyarakat lebih dapat menerimanya, dibanding dengan menyampaikannya secara langsung. Ini terbukti, setiap kali berdakwah, selalu dipadati masyarakat.

Bisa dibilang, Haji Mujtahid adalah seorang mubaligh yang membawa nuansa berbeda dalam berdakwah. Menurutnya, menyampaikan pesan agama tak selalu harus dalam konteks formal atau suasana serius. Menggunakan cara sindiran hingga berujung pada tawa dan canda, dianggap sebagai cara paling jitu. Suguhan musik bernuansa Islam, yang tampil di sela-sela waktu ceramahnya, menjadikan acara berdakwah tak lagi membosankan.

Konsep berdakwah gaya bapak berputra 4 ini, tak selamanya berjalan mulus. Sikap kontra sesekali menghiasi perjalanannya. Suara miring tersebut disikapinya dengan lapang dada. Pria yang mengecap pendidikan di sejumlah pesantren ini yakin, selama punya niat baik, Insya Allah konsep lantun dan dakwah yang disampaikannya akan selalu mendapat hidayah dari sang khalik.

Dengan mengangkat tema dakwah yang aktual di tengah masyarakat, kehadiran Haji Mujtahid selalu ditunggu-tunggu penggemarnya. Mujtahid sendiri sesungguhnya enggan dijuluki seorang mubaligh. Apa yang dilakukannya selama ini lebih kepada jalan hidup dan karunia yang dilimpahkan Allah kepadanya.

Baginya menyampaian syiar agama tak selalu harus menuding perbuatan salah yang dilakukan orang. Membuat orang lain sadar dengan sendirinya dan seutuhnya kembali ke jalan yang dimulyakan alloh lebih berharga, ketimbang sederet atribut yang melekat di badan.(Idh)

Nama:
Email:

More HORISON:
[ more Horison ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :