Sosbud
7-Nov-2005 16:36:16 WIB
HORISON
Nasib Petani Tak Menentu



Reporter : Sudrajat
Juru Kamera : Nyoman Ifrozin
Tayang : Rabu, 2 November 2005, Pukul 12.00 WIB

Pemandangan berupa hamparan hijau tanah pertanian nan subur masih banyak dijumpai di negeri ini. Namun, pemandangan yang menyejukkan mata ini, tak sejalan dengan kehidupan para petaninya.

Nasib para petani kerap diombang-ambing oleh kebijakan pemerintah. Belum lama ini, digulirkan rencana untuk mengimpor beras sebanyak 250 ribu ton dari Thailand. Dipastikan, nasib petani akan kembali terpuruk.

Bagi petani seperti Pak Timan, yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidupnya pada hasil sawah, merasakan betul pahit getir akibat impor beras yang dilakukan pemerintah. Apalagi saat ini, biaya untuk kebutuhan pokok meningkat seiring dengan naiknya harga BBM.

Padahal, saat-saat sekarang ini, Pak Timan dan petani-petani lain, justru tengah menikmati hasil panen. Di pasaran, harga gabah kering panen mencapai Rp 1.700,- per kilogram mendekati ketentuan harga yang dipatok pemerintah sebesar Rp 1.730,- Ini sudah memberikan keuntungan bagi petani.

Apalagi beras miskin atau raskin, harga jualnya mencapai Rp 1.000,- per kilogram. Hal ini membuat girang para petani, karena dengan demikian mereka akan mendapat keuntungan Rp 700,- per kilogram. Dan rencana pemerintah untuk mengimpor beras dari Thailand bulan November sebesar Rp 250 ribu ton, sangat disesalkan petani.

Alasan pemerintah mengimpor beras karena menipisnya persediaan beras di Perum Bulog dinilai sejumlah kalangan tidak tepat. Menurut data Ditjen Tanaman Pangan menunjukkan stok beras di Bulog sampai akhir tahun 2005 mencapai 1,7 juta ton. Dengan jumlah produksi mencapai 54 juta ton gabah atau setara dengan 34 juta ton beras. Sementara kebutuhan beras dalam negeri mencapai 31 juta ton. Ini berarti stok beras mencukupi.

Belum lagi jika ditilik lebih jauh, harga beras impor jauh lebih mahal daripada beras lokal. Pemerintah membeli beras impor dengan harga 280 Dollar per ton atau sekitar Rp 3.100,- per kilogram, setelah ditambah bea masuk Rp 350,- , maka harganya menjadi Rp 3.450,- per kilogram. Sedangkan harga beras lokal sebesar Rp 3.100,- per kilogram.

Jika pemerintah tetap memaksakan impor beras dengan persyaratan harga beras eceran kelas menengah mencapai Rp 3.500,- per kilogram dan stock beras dibawah satu juta ton, bukannya tak mungkin, nasib petani lokal makin terpuruk.

Apalagi saat musim tanam sekarang ini, biaya produksi meningkat tajam akibat naiknya BBM. Olah tanah sebelum BBM naik sebesar Rp 375 ribu per hektar. Sekarang menjadi Rp 450 ribu hingga 700 ribu per hektar.

Pembenahan di sektor pertanian, tampaknya harus terus dilakukan dengan mengedepankan kepentingan bersama tidak sekedar kepentingan segelintir orang. Semaksimal mungkin merubah paradigma dari importir menjadi eksportir seperti yang pernah dilakukan Republik ini di masa lalu. (Tom)

Nama:
Email:

More HORISON:
[ more Horison ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :