Sosbud
10-Nov-2005 15:15:35 WIB
HORISON
Selayar, Pulau Tanpa Perahu Layar



Reporter: Windu Tiastuti
Juru Kamera: Joni Suryadi
Tayang: Rabu, 9 November 2005, Pukul 12.00 WIB
Lokasi: Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan

Panas matahari yang memantul pada batu-batu padas gersang terasa menyengat kulit, saat satu-satunya kapal motor dari Tanjung Bira, merapat di Pelabuhan Pulau Selayar, yang masuk wilayah perairan Sulawesi Selatan.

Pemandangan batu padas gersang silih berganti dengan rimbunan pohon kelapa, yang ditanam disepanjang jalan poros menuju Kota Benteng, Kota Kabupaten Selayar. Dari sela pohon kelapa, laut membentang biru dan bersih. Inilah pulau yang mendapat status kabupaten maritim pertama di Indonesia.

Meski menyandang gelar kabupaten maritim, namun sebagian besar penduduk Selayar menggantungkan hidup dari pertanian. Pulau di ujung selatan Sulawesi ini memanjang 100 kilo meter ke arah selatan, dan memiliki lebar 30 kilo meter.

Di sela-sela batu padas hitam yang terkesan kering dan tandus ini, orang Selayar bercocok tanam tumbuhan pangan seperti jagung. Namun di daratan Sulawesi, Pulau Selayar lebih dikenal lewat kopra dan buah jeruk keprok, yang oleh penduduk Selayar sendiri disebut Monte Hongkong.

Disebut demikian karena sejak dulu buah jeruk hasil perkebunan mereka banyak dibeli oleh kaum etnis Cina. Jeruk keprok hasil perkebunan di Selayar bercita rasa khas. Aromanya tajam dan rasanya manis segar. Kombinasi antara aroma dan rasa ini merupakan hasil dari kondisi tanah yang tandus dan kurang air.

Tak seperti umumnya pulau kecil, masyarakat nelayan di Selayar hanya menjadi kaum minoritas. Padahal laut Sulawesi yang membentang luas, sering menjadi jalur migrasi berbagai jenis ikan. Antara bulan September hingga Desember, jutaan cumi-cumi akan bermigrasi dari perairan selat Bali, menuju perairan Australia, melalui selat NTT dan selat Bone.

Perairan Selayar pada bulan-bulan tertentu juga menjadi jalur perlintasan ikan tuna sirip biru yang harganya sangat mahal. Saat yang sangat menguntungkan bagi para nelayan Selayar, yang umumnya menangkap ikan dengan bagan-bagan perahu.

Menangkap ikan dengan bagan perahu dilakukan dengan cara tradisional. Nelayan umumnya berangkat saat petang hari, beriringan menuju perairan diantara pulau-pulau kecil yang bertebaran disekitar Pulau Selayar.

Pulau Selayar dikelilingi sekitar seratus dua puluh lima buah pulau-pulau kecil, enam puluh diantaranya telah dihuni manusia. Perahu bagan kebanyakan bukan milik sendiri. Para nelayan muda ini mengoperasikan bagan milik orang lain yang punya modal besar.

Diperlukan biaya ratusan juta Rupiah untuk membuat satu perahu bagan dengan seluruh perlengkapan penangkap ikan seperti ini. Modal akhirnya menjadi salah satu kendala yang membuat kegiatan perikanan di Selayar tak kunjung mengalami kemajuan. Untuk menangkap ikan dan cumi-cumi, nelayan menggunakan tipuan cahaya.

Sebagian besar ikan yang tertangkap, tidak didaratkan di Selayar. Para pengepul datang langsung dengan perahu yang dilengkapi peti-peti es. Transaksi jual beli dilakukan di tengah laut. Cara ini tentu saja hanya menguntungkan pengepul.

Nelayan tidak memiliki harga tawar. Pengepul sering menekan harga dengan dalih ikan di darat sedang sepi peminat, sehingga mereka membeli dengan harga murah. Sebaliknya, di darat harga ikan menjadi mahal.

Selayar memang tak punya tempat pendaratan ikan yang terkoordinir. Ikan dari perahu sampai ke konsumen sedikitnya telah melalui empat tangan. Masing-masing menaikkan harga untuk mencari keuntungan.

Ketiadaan tempat pendaratan ikan inilah, yang membuat pengepul menjual ikan hasil tangkapan nelayan ke Bira, bahkan hingga ke Makassar. Hanya sedikit yang sampai pada masyarakat Selayar.

Perairan disekitar Selayar yang kaya ikan, juga menarik nelayan dari daratan Sulawesi seperti Sinjai dan Bone, untuk menangkap ikan hingga Selayar. Nelayan-nelayan ini menggunakan perahu pukat mini.

Jenis perahu yang justru tidak dimiliki oleh nelayan Selayar sendiri. Akibatnya nelayan Selayar, hanya mampu menangkap jenis-jenis ikan permukaan saja. Ikan di pedalaman perairan Selayar, justru dinikmati nelayan lain.

Upaya pemerintah setempat membangun tempat pendaratan ikan sedang dalam proses pelaksanaan. Namun bukan sekedar sarana di darat yang diperlukan untuk memajukan nelayan Selayar.

Permodalan untuk membuat perahu dan peningkatan pengetahuan untuk teknik penangkapan dengan alat modern, tentunya menjadi bagian yang harus dipikirkan pula. Kika kabupaten berstatus maritim ini ingin memakmurkan nelayannya. (Tom)

Nama:
Email:

More HORISON:
[ more Horison ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :