
Lesung. Saat ini, mungkin tak banyak generasi muda Indonesia, yang pernah melihat langsung, atau menyentuhkan tangannya pada benda yang pernah populer dimasa silam. Pergeseran masa, ikut pula menggeser eksistensi lesung. Dahulu lesung digunakan sebagai alat penumbuk padi, untuk memisahkan gabah dan bulir padi. Disamping itu, lesung juga berfungsi sebagai alat musik yang menarik hati.
Suasana beberapa desa, di kawasan Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, beberapa bulan terakhir ini mengalami perubahan. Terutama di sore hari. Salah satunya adalah di Desa Begajah. Suasana yang biasanya tenang dan senyap, berganti dengan suara bertalu - talu, hasil beradunya alu dan lesung, yang dimainkan oleh ibu - ibu warga desa tersebut.
Kothekan, atau musik lesung, demikian warga di Kecamatan Sukoharjo menyebutnya. Tetabuhan yang dulu biasa dimainkan usai panen padi, atau sebagai penanda bila ada warga yang memiliki hajatan ini, sempat menghilang selama lebih dari seperempat abad lamanya. Ketika mesin penggilingan padi mulai merambah desa - desa, lesung - pun perlahan - lahan terpinggirkan.
Momentum ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke - 60 yang lalu, dijadikan momen kebangkitan bagi musik lesung di wilayah Sukoharjo. Sehingga wajah sore hari di Kecamatan Sukoharjo, seperti di Desa Begajah, kini ramai dengan permainan musik lesung. Wanita - wanita yang usianya telah lewat senja, sangat antusias menyikapinya, karena aktifitas ini, seperti menghadirkan lagi memori masa kecil mereka. Semangat ini juga menular pada kaum ibu generasi muda.
Antusiasme menghidupkan kembali musik lesung, semakin terasa hangat, ketika musik lesung, mulai ditanggap dalam berbagai acara atau hajatan warga kampung. Seperti yang tampak di kediaman salah seorang warga, di salah satu sudut Kecamatan Sukoharjo.
Puluhan warga, tua muda, laki - laki perempuan, besar kecil, nampak asyik menikmati beradunya alu dan lesung, yang terlantun dalam sebuah kesatuan harmoni nada. Untuk memainkan musik lesung bukanlah perkara mudah. Mereka rajin berlatih setiap sore hari, untuk mengenal irama dan ketukan pada lesung.
Setiap bagian dari lesung, bila dipukul akan menghasilkan suara yang berbeda. Tidak ada yang tahu pasti mengapa, karena memang tujuan awal pembuatan lesung, adalah untuk menumbuk padi, bukan untuk bermain musik. Namun demikian permainan yang dulu dilagukan sebagai pengusir lelah ini, sempat mengecap masa keemasan di era tahun 70 - an.
Musik lesung biasanya dimainkan oleh 7 orang penabuh, dan 4 hingga 5 orang penyanyi. Sementara itu beberapa orang lainnya, terlihat hanyut dalam alunan musik, dan menari dengan penuh ekspresi.
Mereka yang menonton, juga tampak tak henti menggoyangkan anggota tubuh mereka, atau bahkan ikut bernyanyi. Diantara deretan para penonton, sebagian besar terdiri dari mereka yang telah lanjut usia. Kedekatan yang mereka miliki terhadap musik lesung sangatlah erat, karena mereka seperti merangkai kembali kenangan masa lalu, saat musik lesung menjadi bagian dari keseharian permainan masa kanak - kanak.
Kesadaran untuk kembali menghidupkan seni yang berakar dari pedesaan ini, memang sebuah semangat yang patut diacungi jempol. Karena selain menghadirkan kembali seni yang nyaris terlupakan, diantara pesatnya industri hiburan modern, musik lesung juga kembali menghadirkan keceriaan, ditengah - tengah warga Kecamatan Sukoharjo.(Idh)