
Merokok membawa kenikmatan tersendiri. Kalimat itu seringkali meluncur dari mulut mereka, para perokok. Merokok bisa melepaskan kepenatan pikiran, membuat rileks, bahkan kadang menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang tertentu. Sebatang rokok pun bisa menjadi teman setia yang tiada duanya di saat-saat menunggu seperti ini.
Begitu pula di kala santai sore hari, kenikmatan mengepulkan asap rokok seolah tak tertandingi. Bahaya mengancam dibalik campuran tembakau dan cengkih dalam gulungan kertas ini, tak lagi dihiraukan. Meski harga rokok produksi pabrik dari tahun ke tahun harganya naik, penikmat rokok tak juga surut.
Bahkan, disaat harga kebutuhan pokok merangkak naik akibat kenaikan BBM, para perokok berat masih saja punya cara lain menikmati tembakau. Tetap menghisap rokok kegemarannya hanya saja kuantitas dikurangi, sesuai isi kantung. Ada juga yang terpaksa merubah kebiasaan merokok, beralih dengan cara lain, menghisap rokok lintingan, rokok buatan sendiri.
Sebut saja Mbah Sukiran, warga Dusun Gamplong Sumber Rahayu, Moyudan, Sleman Yogyakarta. Sejak awal merokok, ia memang lebih suka rokok lintingan. Sesekali saja ia menghisap batangan rokok produksi pabrik yang kini harganya rata-rata perbungkus diatas 5000 rupiah. Selain hemat, kenikmatan saat menghisap rokok lintingan, tak bisa dibandingkan dengan rokok kemasan. Tembakau, cengkih dan sausnya, bisa diracik sesuai seleranya sendiri.
Umumnya di daerah pedesaan, tak sulit mendapatkan tembakau, cengkih dan saus untuk membuat sendiri rokok lintingan. Di setiap pasar tradisional, mudah dijumpai pedagang tembakau rajangan. Misalnya di Pasar Bringharjo, Yogyakarta. Tembakau rajangan yang diperjual belikan disini , berasal dari berbagai daerah, seperti Jawa Tengah yang dikenal sebagai salah satu daerah utama penghasil tembakau rajangan.
Tembakau-tembakau yang diiris lembut dalam kondisi basah dan dijemur di terik matahari ini, namanya dikenal sesuai daerah asalnya, seperti tembakau Jawa Timur, tembakau Semarang, tembakau Pakem, atau tembakau Boyolali yang banyak dicari orang. Di pasar tradisional, harga eceran tembakau ini bervariasi, tergantung kelasnya.
Selama beberapa kurun waktu belakangan ini, pedagang-pedagang tembakau rajangan, menghadapi kendala sulitnya menjual tembakau. Salah satu penyebabnya, banyak pabrik rokok yang menolak pasokan tembakau dari petani biasa. Pembeli tembakau eceran kini juga berkurang seiring dengan naiknya harga BBM belum lama ini.
Di kota besar, kondisinya jauh berbeda. Pedagang tembakau eceran, yang biasa mangkal di stasiun kereta api, justru mengalami nasib sebaliknya. Kenaikan harga BBM, membawa keberuntungan tersendiri. Pelanggan rokok lintingan bertambah, keuntungan pun berlipat. Asep Hendris Sopian, misalnya, yang baru satu tahun berdagang rokok lintingan di Stasiun Depok Kota. Dengan bermodalkan satu unit alat giling sigaret kretek tangan, dalam sehari Asep bisa menjual sedikitnya 4 bungkus ramuan tembakau siap saji atau sekitar 300 batang rokok lintingan.
Biasanya Asep menjual dalam bentuk pak kecil berisi 5 batang rokok. Satu pak ia jual 1000 rupiah, jika 12 pak terjual semuanya, ia memperoleh 12.000 rupiah. Setelah dikurangi 3500 rupiah untuk harga tembakau dari distributor, maka ia mengantungi 8500 keuntungan bersih perbungkus tembakau racikan yang terjual. Sebelum kenaikan harga BBM, sehari 2 bungkus habis terjual.
Konsumennya pun beragam, mulai dari anak muda hingga orang tua, bahkan kini ia punya pelanggan tetap. Soal rasa, Asep menjual 5 macam rasa tembakau. Seperti halnya rokok kemasan pabrik, rokok linting buatan Asep ada yang rasa coklat, kretek, super, filter dan mild. Bungkusnya pun menyerupai rokok kemasan pabrik.
Soal aroma tembakau, tentu tak bisa dibandingkan dengan rokok pabrik. Asep bahkan meracik sendiri rasa tembakaunya. Kadang ia mencampur 2 rasa berbeda, kadang 4 rasa tembakau. Pasokan tembakau ini diperolehnya dari penjual tembakau asal Cilacap, Jawa Tengah. Selain menjual rokok lintingan, ia juga menjual alat giling rokok yang terbuat dari kayu. Harganya 10 ribu rupiah berbuah. Begitu juga dengan perlengkapan yang lain seperti kertas, busa filter dan lem kertas.
Bagi perokok berat yang sulit menghentikan kebiasaannya, rokok lintingan tanpa merek buatan Asep ini, bisa jadi rokok alternatif. Namun bagaimana pun, hidup sehat dengan menjauhkan diri dari rokok, adalah pilihan hidup yang bijak.(Idh)