
indosiar.com - Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan anak-anak muda ini rada-rada aneh mungkin. Eh, tapi jangan salah, ini tuh namanya parkour, sebuah kegiatan semacam olahraga.
Parkour yang merupakan gabungan atletik, senam dan seni itu dianggap sebagai cara baru manusia beradaptasi dengan lingkungan, tanpa bantuan alat. Cukup menggunakan kekuatan dan kelenturan tubuh.
Di negeri asalnya, Perancis, parkour dilakukan dengan berlari dan melompati bangunan di lingkungan perkotaan, kayak pagar dan atap gedung.
Nah, parkour ini merupakan salah satu dari sekian banyak aktivitas yang mewarnai Urbanfest 2008, pada akhir Juni lalu di Pantai Carnival, Ancol, jakarta.
Urbanfest 2008 yang menghadirkan ekspresi kreatif anak muda itu adalah yang kedua kalinya digelar. Kalau tahun lalu masih mencari-cari bentuk, tahun ini keliatannya lebih mantap tuh.
Terbukti dari beragamnya komunitas yang berpartisipasi. Hehehe, kapan lagi bisa ngerasain diloncatin sepeda begini?.
Acara yang cuma digelar dua hari itu bener-bener padat kegiatan. Pengunjung tinggal pilih, apa yang menarik. Singkat kata, semua kreasi anak muda dipersilakan tumplek abis-abisan di sini.
Nah, ini adalah salah satu karya seni yang dibuat sebuah komunitas seni rupa dari Bandung, Jawa Barat. Berbagai jenis sampah, dibentuk jadi monas dan orang-orangan.
Tapi bukan mentang-mentang dari Bandung, terus sampahnya ngangkut dari sana juga lho. Semua sampah itu berasal dari para pengunjung yang datang ke Urbanfest ini.
Hebatnya, budaya jalanan yang dikembangin anak-anak muda itu nggak melulu sebatas soal kebebasan berekspresi buat senang-senang doang. Belakangan aktivitas mereka tumbuh dan berkembang menjadi sebuah industri yang menjanjikan.
Jadi selain sebagai konsumen, mereka juga terlibat langsung sebagai para pelaku industri. Sayangnya, potensi ini masih kurang digarap di tanah air.
Nah, Urbanfest ini juga maunya menjadi ajang pembuktian kalau anak muda bisa ikut berperan dalam menggerakkan roda ekonomi. Sepeda lowride ini misalnya.
Sebagai sebuah alat transportasi, mungkin nilai fungsional sepeda berbodi rendah itu nggak optimal. Karena lebih mengacu ke bentuk fashion. Disinilah terbuka lebar celah bisnis bagi anak-anak muda.
Untuk memodifikasi sepeda-sepeda ini perlu biaya yang nggak sedikit, bisa belasan bahkan puluhan juta rupiah. Para pelaku bisnis modifikasinya ya mereka-mereka para pencinta sepeda low ride itu juga.
Nah, kebayang dong sebetulnya gimana potensinya?. Apalagi jumlah peminatnya yang disebut lowrider, makin lama makin banyak.
Contoh lain, pastinya adalah fenomena grup-grup band indie. Para pemusik yang tidak tersentuh major label. Yang memproduksi dan mendistribusikan sendiri hasil karya mereka.
Dalam Urban Fest 2008 ini, pihak penyelenggara mengundang sekitar 40 grup band indie dari berbagai kota di tanah air. Selain beraksi di panggung besar, mereka juga diberi kebebasan manggung di pinggir-pinggir jalan. Keren banget loh.....
Singkat kata, nggak ada yang salah deh dengan mengeskpresikan diri, selama itu tidak mengganggu ruang hidup orang lain. Justru jadikan ekspresi itu sebagai peluang munculnya kreatifitas, yang membuat hidup jadi lebih berarti!.(Ijs)