Sosbud
8-Oct-2008 15:43:34 WIB
HORISON
Lampion Lebaran Gaya Yogya



Tim Liputan : Mas'Ud Fahlafi
Editor  : Bagus Andriansari
Produser  : Arni Gusmiarni

indosiar.com - Lebaran adalah saat yang dinanti umat muslim. Sebuah Hari Kemenangan, setelah sebulan berpuasa menahan hawa nafsu. Banyak cara merayakannya, seperti di Yogyakarta yang menyalakan lampion saat malam takbiran, menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri.

Sekitar 10 hari sebelum lebaran, Jalan Imogiri Timur, Yogyakarta, berjejer aneka bentuk lampion sepanjang jalan. Lampion beraneka bentuk inilah, yang memeriahkan malam lebaran. Ada yang bentuknya bintang, dan yang kupu-kupu bentuknya cantik juga. Dan yang juga banyak disuka adalah lampion bergambar Naruto.


Basiran, adalah salah satu dari puluhan dari pengrajin lampion di Yogyakarta. Bermodal bambu, Basiran meraup berkah yang hanya ada di bulan Ramadhan ini. Dari rumah sederhana, yang sempat roboh saat gempa 2 tahun lalu, ia memulai kariernya ini.

Potongan bambu yang sudah dibelah sesuai ukuran yang diinginkan, mesti dihaluskan untuk mempermudah proses pembuatan kerangka lampion. Dibantu istri, dua anak dan kerabatnya, selama bulan puasa dari pagi hingga siang, Basiran membuat aneka kreasi lampion. Sementara pekerjaannya sebagai tukang bakso keliling, selama ramadhan dilakukannya sore hari.

Sudah sekitar 10 tahun Basiran bikin lampion lebaran. Gara-garanya ngak sengaja, waktu itu anak bungsunya minta dibelikan lampion. Tidak kurang dari 600 lampion dengan harga Rp 6000, sudah ia hasilkan selama bulan puasa kemarin. Bentuknya pun bermacam-macam. Kalau udah jadi, ayah 2 anak itu pun keliling kampung dengan motor setianya.

Posisi rumah Basiran yang bukan berada dipinggir jalan raya, membuatnya harus sedikit aktif keliling menjajakan kreasinya. Dengan jualan keliling lampion lebaran, Basiran bisa mengantongi keuntungan hingga Rp 1,5 juta. Cukup untuk keperluan berlebaran.

Sejak mulai menjadi tradisi setiap Idul Fitri, pekerjaan membuat lampion pun tak lagi hanya menjadi pengisi waktu ngabuburit, tapi sudah jadi sumber tambahan penghasilan di bulan ramadhan. Seperti Setio Nugroho, warga Wirokredan, Banguntapan, Bantul. Tahun ini aja, Setio berani membuat 1800 lampion yang dijual dengan harga Rp 10 ribu per buahnya.

Berbeda dengan Basiran yang hanya menggunakan bambu, lampion buatan Setio bisa dibilang lebih modern karena menggunakan stereofoam, sebagai bahan bakunya. Dengan sifat stereofoam yang lebih mudah dibentuk, model lampion pun tak lagi konvensional. Jika sebelumnya lebih bernuansa kotak atau lingkaran, kini bentuknya lebih bervariasi. Mulai kupu-kupu, helikopter dan tokoh kartun, Naruto.

Ngak jarang untuk mencari ide, Setio pun mesti rajin nonton film kartun. Karena bentuknya yang variatif. Ada aja yang biasanya mampir, lihat-lihat karya Setio dan pulang dengan membawa lampion. Ada yang untuk dipakai sendiri, ada yang buat dijual lagi.

Susah untuk melacak sejak kapan tradisi memakai lampion waktu malam takbiran di Yogyakarta ini berawal. Mungkin ada pengaruh budaya Tionghoa yah. Yang dikenal sudah ratusan tahun punya tradisi menyalakan lampion saat peristiwa besar. Yang jelas, lampion aneka bentuk ini menambah semaraknya malam takbiran.

Praktis dan indahnya lampion rasanya lebih menggoda buat anak-anak. Dan yang pasti, saat takbir keliling, anak-anak tentu lebih senang bermalam Idul Fitri ditemani Naruto atau Sponge Bob, daripada obor bau minyak dan berasap.(Ijs)

Nama:
Email:

More HORISON:
[ more Horison ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :