Nusantara
29-Oct-2008 15:05:48 WIB
HORISON
Wayang Berwarna dari Mika



Tim Peliput : Sudaryono
Editor  : Bagus Andriansari
Produser  : Arni Gusmiarni 

indosiar.com - Bulan Oktober yang lalu, Yogyakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-247. Sudah tua yah. Beragam acara digelar disana, salah satunya Festival Sihiran, yang memadukan unsur religius dengan budaya Jawa. Dalam festival, juga ada wayang kulit yang tampil berwarna dan menggunakan teknologi modern dalam pementasannya.

Wayang kulit yang tampil penuh warna ini, adalah kreasi sekelompok seniman muda Yogyakarta, yang mengkombinasikan unsur tradisi dengan nuansa modern. Wayang Mikael, demikian mereka menamakannya, dipentaskan sebagai bagian dari acara Festival Sihiran di Yogyakarta.

Festival Sihiran dimulai tanggal 18 Oktober, berlangsung di Wonokromo, Plered Bantul, Yogyakarta. Dalam festival ini tampil sejumlah kolaborasi seni yang berakar dari Arab dengan nuansa Islamnya. Tapi dibawakan dalam kultur Jawa.

Selain itu juga, dalam 2 hari pelaksanaannya, Festival Sihiran ini ingin memperkenalkan sesuatu yang lain.

Beda dengan pagelaran wayang kulit pada umumnya, pementasan Wayang Mikael tampil edukatif. Banyak menampilkan musik modern dan memanfaatkan perangkat multimedia.

Kemunculan Wayang Mikael di jagat seni itu, relatif baru. Yakni pada bulan Februari 2008. Namanya yang unik, Mikael, ternyata merupakan singkatan, Mika dan Eling. Kira-kira artinya begini, wayang mika yang diharapkan untuk pengingat perjalanan manusia.

Lakon yang dibawakan malam itu tentang seorang anak muda yang mencari jati dirinya ditengah masyarakat yang dipimpin penguasa yang bertabiat buruk. Cerita yang dikisahkan, termasuk yang dibawakan pada Festival Sihiran itu, dibikin sendiri sama sang dalang. Kebanyakan tentang perjalanan hidup manusia yang sarat persoalan, diwarnai dengan spirit keIslaman.

Selain sang dalang, ada 3 musisi dan seorang vokalis yang berperan dalam pentas ini. Meskipun menggunakan musik kontemporer pada saat pementasan, mereka juga memberi ruang pada komunitas lain, untuk berkolaborasi.

Seperti yang ini, mereka mengajak kelompok hadrah dan kesenian tradisional berupa shalawatan mundro dari Plered, Bantul. Bukan sekedar memanfaatkan teknologi komputer, wayang Mikael ini juga menampilkan aksi teater diatas panggung dengan sejumlah aktor. Bahkan, sang dalang ikut tampil didepan panggung, mengajak para penonton ikut serta dalam lakon.

Keikutsertaan para penonton itu bisa dalam bentuk mengkritisi tontonan yang dihadirkan atau sekedar ingin berpuisi atau menyanyi.(Ijs)

Nama:
Email:

More HORISON:
[ more Horison ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :