Hukum dan Kriminal
11-Jul-2005 12:53:43 WIB
JEJAK KASUS
Kencan Terakhir si Tukang Pijit



Reporter : Sukwan Hanafi
Juru Kamera : Medi Kuswendi

indosiar.com, Kalsel - Muinah seorang wanita paro baya yang dikenal bisa memijit di kampung Kecamatan Satui, Tanah Bumbu, Kalimanatan Selatan, Minggu dinihari 12 Juni lalu ditemukan telah berlumuran darah oleh anak dan menantunya, di pintu rumahnya. Namun setelah dibawa ke rumah sakit terdekat, dan dirujuk lagi kerumah sakit umum di Banjarmasin, nyawanya tak tertolong lagi. Apa yang terjadi ketika hujan lebat di rumahnya? Mari kita ikuti kisahnya dalam episode Jejak Kasus hari ini.

Pagi itu Muinah berteriak minta tolong di kegelapan subuh, tepat di depan pintu rumahnya. Sambil memegang perutnya yang penuh berlumuran darah, dengan sisa-sisa tenaganya, Muinah terus berusaha berteriak minta tolong.

Untunglah seorang tetangganya yang berjarak 50 meter dari rumah Muinah masih mendengar sayup-sayup teriakan tersebut, dan langsung membangunkan anak dan menantu Muinah.

Setelah memastikan itu suara mertuanya, Sahib langsung berlari menuju rumah mertuanya, yang tinggal sendirian, di rumahnya yang berjarak 30 meter dari rumahnya. Didepan pintu, ia melihat mertuanya sudah terduduk lemah dan berlumuran darah. Walaupun masih bisa bicara, namun bicaranya sudah tidak terlalu jelas. Ketika ditanya siapa yang melakukan penusukan, Muinah tidak bisa menyebutkan orangnya, karena tidak tahu namanya.

Ketika sudah terang, sudah banyak warga yang berdatangan ke rumah Muinah, dan bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Kepada menantunya, Muinah hanya menyebutkan bahwa adiknya mengenal orang yang menusuknya.

Rohana, adik Muinah yang tiba di lokasi kejadian, segera menanyakan pelaku pembunuhan tersebut kepada Muinah yang sudah sekarat. Kepada adiknya ini, Muinah hanya menyebutkan bahwa pelakunya adalah orang yang dulu pernah mengejarnya di pasar.

Dalam perjalanan ke Banjarmasin tepatnya di Desa Kintab, Muinah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sahib dan anggota keluarga yang membawanya akhirnya membawa jenazah Muinah pulang kembali ke kampungnya.

Sebagai anaknya, Khoinah tidak mengetahui ada permasalahan apa ibunya selama ini. Sepengetahuannya tak ada yang menagih hutang, bahkan ibunya juga tidak memiliki benda-benda berharga, yang membuat dia diincar orang lain.

Khoinah, dan Sihab suaminya serta para tetangganya hanya menyerahkan permasalahan kepada aparat Polsek Satui, yang langsung datang tak lama setelah mendapat laporan warga.

Dari beberapa bukti yang ditemukan di lokasi kejadian, polisi mulai melacak pemilik benda-benda tersebut. Ditambah keterangan Muinah sesaat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. Namun tentu tidak mudah menemukan pelakunya, apalagi tanpa bekal nama sama sekali.

Awalnya polisi mengumpulkan keterangan beberapa anggota keluarga yang dicurigai sebagi pelaku penganiayaan terhadap Muinah, hingga menewaskan wanita separuh baya yang sudah tinggal sendirian tersebut.

Sesuai dengan keterangan Muinah, bahwa adiknya mengenal pelaku yang menusuknya, polisi pun meminta keterangan dari adik korban. Walaupun mengatakan mengenal wajahnya, namun adik korban mengaku tidak mengetahui nama Ardiansyah yang pernah menggodanya di Pasar Satui tersebut.

Dari baju pelaku yang ditinggalkan, polisi mulai melacak siapa Ardiansyah tersebut. Dipimpin kanit Reskrim, Iptu Uskian, aparat Polsek Satui pun langsung melacak keberadaan pelaku, yang memang sehari-harinya berada di Pasar Satui sebagai juru parkir.

Semua petunjuk sudah mengarah kepada Ardiansyah, mulai dari keterangan adik korban, hingga baju Ardiansyah yang tak sempat dipakainya lagi ketika lari dari rumah korban. Teman-teman Ardiansyah di Pasar Satui mengenali semua pakaian yang tertinggal tersebut, bahkan sebilah keris, sebagai milik Ardiansyah.

Ketika menemukan Ardiansyah di rumah orang tuanya, ia sempat menyangkal kalau bernama Ardiansyah. Ia mengaku bernama Candra, dan mengatakan bahwa Ardiansyah baru saja keluar rumah. Namun polisi tentu saja tidak mempercayai keterangan tersebut, dan langsung membawanya ke Polsek Satui.

Di kantor polisi walau sudah mengakui perbuatannya, Ardiansyah justru menyebut nama lain sebagai otak pelakunya. Orang yang disebutnya tak lain adalah Hendro, kakak kandungnya sendiri. Untunglah polisi tidak mudah terkecoh dengan keterangan tersebut. Dari bukti yang ada, dapat disimpulkan bahwa Ardyansah melakukannya sendiri. selain itu, Muinah sendiri sebelum meninggal hanya menyebutkan satu orang.

Dalam rekonstruksi ulang yang dilakukan Polsek Satui, terbukti Ardyansah melakukan seorang diri, dengan motif ingin memiliki uang yang ada dalam dompet Muinah. Ardyansah menusuk Muinah karena Muinah berteriak minta tolong.

Dari Ardiansyah polisi pun mulai mengungkap kejadian sebenarnya dibalik pembunuhan terhadap Muinah, sang tukang pijit tersebut. Menurut Ardiansyah, selain tukang pijit, Muinah juga bisa melakukan pelayanan lainnya terhadap pasien pria, terutama tentunya yang muda.

Keterangan bahwa Muinah juga bisa melakukan pelayanan lainnya di dapat dari teman-temannya nongkrong di Pasar Satui. Rasa penasarannya itulah yang mendorong Ardiansyah menemui Muinah dengan alasan ingin di pijit.

Selain motif ingin melakukan hubungan badan dengan Muinah, polisi juga menemukan indikasi bahwa Ardiansyah ingin mendapatkan uang yang ada di dompet Muinah. Karena pembunuhan itu sendiri terjadi karena Ardiansyah gagal merebut dompet yang berisi uang milik Muinah.

Apapun alasan Ardiansyah, namun tetap saja ia telah menghilangkan nyawa orang lain, yang membuatnya harus menghadapi hukuman berat.

Muinah memang sudah lama menjadi bahan gunjingan di kalangan Pasar Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, sebagai tukang pijit atau pintar mengurut sekaligus bisa memberikan pelayanan ekstra, kepada pasien laki-laki. Sementara Ardyansah merupakan seorang pemuda tanggung yang tergoda untuk mencoba, berdasarkan berbagai cerita yang didapatnya di seputaran Pasar Satui, Sungai Danau.

Menurut penuturan sejumlah orang di Pasar Satui, Ardyansah belum lama berada di kawasan pasar. Sejak sebulan terakhir, hampir setiap hari Ardyansah berada di Pasar Satui. Kadang ia membantu parkir mobil yang masuk pasar. Tapi ia lebih sering menganggur di Pasar Satui.

Sebagai seorang pemuda tanggung, di Pasar Satui, Ardyansah sempat beberapa kali menggoda Rahona seorang gadis remaja, yang sering datang membantu kakaknya Muinah berdagang sayur di pasar. Namun Rohana tak pernah menanggapi godaan yang dilakukan Ardyansah.

Pergaulannya di Pasar Satui lah Ardyansah mulai menanam benih petaka. Ketika beberapa temannya membisikkan bahwa Muinah, yang dikenal bisa mengurut, juga bisa memberikan pelayanan lain kepada kaum pria, rasa penasarannya pun tumbuh.

Karena penasaran, Ardyansah pun menyiapkan diri untuk mendekati Muinah, dengan alasan mau diurut. Sore itu, permintaan Ardyansah langsung diiyakan oleh Muinah, yang saat itu tengah berkemas hendak pulang. Muinah langsung mengajak Ardyansah datang ke rumahnya.

Sambil menunggu Muinah pulang, Ardyansah makan nasi goreng. Kepada temannya ia bercerita bahwa akan diurut oleh Muinah. Seorang temannya pun menyarankan Ardyansah untuk menenggak sejenis obat yang dipercaya bisa menambah kejantanannya. Obat tersebut pun diminumnya sebanyak 20 butir.

Ketika Muinah sudah siap untuk pulang, Ardyansah sudah menunggunya. Karena sore itu gerimis tidak berhenti, mereka sempat berteduh. Malam itu mereka meneruskan perjalanan melalui jalan tanah sepanjang 10 kilometer menuju rumah Muinah.

Sesampainya di rumah, badan mereka sudah basah kuyub. Muinah langsung masuk ke biliknya, sedangkan Ardyansah menunggu di ruang depan. Muinah memberikan selembar sarung kepada Ardyansah, untuk mengganti pakaiannya yang basah kuyub.

Saat mengganti bajunya, Muinah sempat melihat pisau yang terselip di pinggang Ardyansah. Ketika ditanyakan, Ardyansah mengatakan untuk jaga diri saja. Sebelum diurut, Ardyansah menyelipkan pisau yang dibawanya kebawah kasur.

Ketika baru beberapa menit mulai dipijit, Ardyansah mulai mengutarakan niat sebenarnya datang malam itu. Muinah langsung menyetujui keinginan tersebut dengan syarat jangan diceritakan kepada orang lain. Karena sama-sama kecapean, keduanya langsung tertidur pulas, hingga jam tiga subuh. Muinah langsung tersentak bangun, dan langsung mandi, karena harus bersiap berangkat ke pasar.

Saat Muinah mandi, Ardyansah melihat tas korban, dan tergerak untuk melihat isinya. Sejumlah uang yang ada dalam tas dipungut dan dihitung isinya. Namun waktu itu belum terniat untuk mengambil uang tersebut.

Menurut Ardyansah, awalnya ia mencoba minta uang secara baik-baik kepada Muinah, untuk ongkos ojek pulang ke rumah. Namun Muinah menolak memberi dengan alasan nanti saja di pasar. Ardyansah berfikir ia harus pulang sebelum terang, maka ia pun gelap mata merampas dompet Muinah.

Melihat Muinah berlumuran darah, Ardyansah langsung melarikan diri di kegelapan malam, dan bahkan tak sempat memakai bajunya lagi. Ia lari dengan hanya mengenakan sarung yang diberikan Muinah sebelum dipijit.

Keluarga korban sebelumnya sempat mengingatkan agar Muinah yang tinggal sendiri di rumahnya, jangan menerima sembarang tamu yang datang untuk diurut, apalagi di malam hari.

Namun kenyataan tak bisa dipungkiri. Muinah akhirnya harus tewas ditangan seorang pemuda, pelanggan yang baru pertama kali datang, yang meminta pelayan ekstra, dan justru meminta uang kepadanya.

Dari bukti yang ada, dan hasil rekonstruksi yang dilakukan memang benar apa yang digunjingkan orang selama ini, bahwa Muinah adalah seorang tukang pijit yang sekaligus bisa memberikan pelayanan ekstra kepada laki-laki yang berminat.(Idh)

Streaming Tukang Pijit

Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :