Hukum dan Kriminal
15-Jul-2005 18:06:24 WIB
JEJAK KASUS
Julius Dipenggal Saat masih hidup



Reporter : Farma Dinata

indosiar.com, Jakarta - Senin, 4 Juli lalu, masyarakat dikejutkan dengan penemuan potongan kepala dan sepasang kaki manusia, di sekitar kuburan Cina Kebon Nanas Jakarta Timur. Potongan potongan tubuh ini pertama kali ditemukan Maryam, seorang penjual nasi yang merasa terganggu dengan aroma busuk saat ia melintasi lokasi tersebut.

Maryam, yang berusaha mencari sumber bau tersebut, merasa curiga saat melihat gundukan karung yang terselip diantara tumpukan sampah. Bersama Sophi, temannya sesama penjual nasi, ia kemudian memeriksa karung itu.

Penemuan ini kemudian dilaporkan ke aparat Kepolisian Resort Jakarta Timur. Tim Forensik RSCM yang datang tidak lama setelah mendapat laporan, langsung meneliti potongan tubuh ini. Memperhatikan bentuknya, teridentifikasi korban adalah seorang laki-laki asal Indonesia Timur berusia sekitar 30 tahun. Selebihnya masih tanda tanya besar, karena tidak ditemukan identitas korban. Keesokan harinya,kasus ini menjadi berita utama beberapa koran ibukota.

Sehari setelah penemuan, polisi langsung melakukan penelusuran di sekitar lokasi, dan menemukan sebilah pisau pemotong daging, potongan pakaian serta beberapa puntung rokok yang diduga bekas dihisap para pelaku. Namun dari hasil pemeriksaan, pisau tersebut tidak identik dengan benda tajam yang memotong bagian tubuh korban.

Polisi belum mampu mengurai kasus ini secara utuh, namun dari pemberitaan di koran-koran, muncul warga yang mengaku mengenAli korban sebagai Julius Alexander Marsita, asal Maluku dan tinggal di kelurahan Harapan Jaya, Bekasi Utara. 

Hasil penelusuran pihak Polres Jakarta Timur terungkap, korban sudah dilaporkan hilang oleh keluarganya di Polres Bekasi sejak dua hari sebelumnya. Terakhir ia diketahui dijempur dua orang laki-laki dengan kendaraan motor, di tempatnya bekerja. Pihak Polres Jakarta Timur kemudian melakukan koordinasi dengan Polres Bekasi. Dari keluarga korban pula, polisi mereka-reka wajah laki-laki yang menjemputnya.

Mempelajari bukti-bukti yang mereka dapatkan, polisi menarik kesimpulan sementara, pemotongan tubuh dilakukan di tempat lain. Apalagi, potongan tubuh yang ada, masih belum lengkap, dan diperkirakan dibuang di tempat lain.

Bermodal keterangan pihak keluarga korban, polisi mendapat informasi, penculikan Julius terjadi tidak lama setelah ia melerai perkelahian temannya Riswandi Pasaribu Alias Ucok, dengan tiga orang pemuda. Tidak sulit bagi polisi melacak keberadaan Ucok, karena laki-laki itu, saat bersamaan sudah ditahan kepolisian sektor Bekasi Utara, buntut dari kasus perkelahian itu.

Kepada polisi Ucok mengakui, Julius memang telah menyelamatkan dirinya saat dikeroyok tiga pemuda, masing-masing bernama Enggi, Boy dan Roni. Namun setelah itu ia mengaku tidak tahu lagi nasib Julius, karena setelah perkelahian itu ia langsung ditangkap karena telah membacok salah seorang pelaku pengroyokan.

Dari Ucok pula, polisi kemudian memburu para pelaku pengeroyokan, dan berhasil membekuk dua diantaranya, yakni Enggi dan Boy. Keduanya mengakui telah membantai Julius, bersama 2 pemuda lainnya yakni Ali dan Enjon. Dua nama terakhir, akhirnya juga bisa dibekuk polisi. Namun menurut keempat tersangka, selain mereka ada empat pelaku lain yang juga ikut membantai Julius.

Empat hari berselang, dengan membawa para tersangka, polisi berhasil menemukan bagian tubuh lainnya, di kawasan Gading Serpong Tangerang. Bagian badan hingga ke pangkal paha tubuh Julius, ditemukan sudah hampir membusuk di semak belukar. Dengan temuan ini, lengkap sudah bagian tubuh Julius.

Besarnya perhatian masyarakat akan kasus ini, membuat polisi seperti berlomba dengan waktu. Pemeriksaan tersangka diintensifkan. Dari situ, polisi mendapat gambaran, bawah pembunuhan ini memang dipicu keterlibatan korban saat melerai perkelahian temannya Ucok, yang tidak terima dipalak tiga tersangka, Enggi, Boy dan rony, di Jalan Cemara Raya Harapan Jaya Bekasi. Dalam pertikaian itu, kibasan samurai Ucok berhasil melukai tersangka Ronny, yang membuat para tersangka kabur. Namun kehadiran korban di tempat itu, tidak bisa diterima para tersangka. Mereka merencanakan membuat perhitungan.

Untuk memperjelas bagaimana proses penculikan itu, Rabu lalu polisi menggelar rekonstruksi, di tempat kejadian perkara. Keempat tersangka dihadirkan, sementara untuk korban Yulius, dan empat tersangka lain yang belum tertangkap, diperankan orang lain.

Dalam rekonstruksi diperagakan, bagaimana 3 Juli 2005, tersangka Boy dan Lutfi, dengan senjata parang yang telah disiapkan, mendatangi Julius di tempat kerjanya di perumahan Harapan Jaya, Bulak Macan, Bekasi Utara, sekitar pukul setengah sembilan malam. Setelah ditemukan, Julius lalu dibawa ke sebuah lapangan badminton.

Seorang saksi yang berada di tempat tersebut, mengatakan, saat itu Julius dan kedua tersangka sempat terlibat adu mulut. Tapi saksi tidak tahu apa yang diributkan, karena ketiganya menggunakan bahasa Maluku. Ditengah keributan itu, tiba-tiba tersangka Boy memukul wajah Julius, yang selanjutnya korban dikeroyok.

Setelah itu, Boy dan Lutfi kemudian membawa Julius ke sebuah tempat sepi, di belakang Restoran 99, tidak jauh dari tempat tinggal Julius. Di tempat ini telah menunggu 6 tersangka lain yang sedang minum minuman keras.

Julius kemudian dipukuli kedelapan tersangka. Menurut keterangan saksi, saat itu ia melihat para tersangka memukul Julius, sambil mengeluarkan kata-kata bernada caci maki. Tersangka Angki, bahkan sempat menusukkan pisaunya ke paha dan dada kiri Julius. Belum cukup puas, para tersangka kemudian membawa Julius masuk kedalam rumah tersebut, dan membekap mulutnya. Di tempat itulah, tubuhnya kemudian dipotong-potong. Pemotongan, dilakukan tersangka Angky dan Ejhon.
 
Kepada penyidik, para tersangka mengakui, saat pemotongan dimulai, dengan memenggal kedua kaki, Julius masih dalam keadaan hidup. Julius baru dipastikan tewas, setelah kepalanya dipenggal dengan dua kali bacokan.

Potongan-potongan tubuh Julius kemudian dimasukkan ke dalam karung, untuk selanjutnya dibawa tersangka Enjhon, Ali dan Risto dengan sebuah mobil. Untuk mempersulit pengungkapan identitasnya, ketiga tersangka membagi dua bagian tubuh Julius, dan dibuang di tempat terpisah. Bagian kepala dan 2 tungkai kaki dibuang ke kawasan pekuburan Cina di Kebon Nanas Jakarta Timur, sementara bagian tubuh lainnya berupa badan hingga ke pangkal paha dibuang ke sebuah areal kosong di Kampung Rempong Sinang, Desa Pekulon Curug Tangerang.

Kasus mutilasi terhadap Julius ini memang mendapat perhatian besar masyarakat. Itu setidaknya terlihat, saat pemakaman tubuh korban di tempat pemakaman umum Budi Dharma, Cilincing, Jakarta Utara beberapa hari lalu. Suasana duka, tampak terlihat dari kerabat dekat korban, sejak peti jenasah dibawa dari rumah duka di Jalan Warakas Empat, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kakek korban mengakui, kepergian Julius dengan cara ini, sangat memukul perasaan mereka. Apalagi, dalam keluarga besar mereka, Julius sosok pemuda yang penuh tanggung jawab kepada keluarganya.

Pihak kepolisian sendiri, melihat, kasus ini belum selesai, karena masih banyak yang perlu terus diungkap. Didak saja soal motif para pelaku, tapi kemungkinan ada hal lain yang melatarbelakangi kasus ini. Kapolres Bekasi punya analisa sendiri soal kemungkinan itu.

Semua memang perlu diusut tuntas, agar masalahnya menjadi jelas. Karena, seperti analisa polisi, bisa jadi kasus mutilasi ini, tidak sesederhana yang dibayangkan masyarakat. Menilik cara para pelaku menghabisi nyawa korban misalnya, terlihat sangat sadis. Tersiar kabar, pemotongan itu sudah biasa dilakukan Angky dan Ejhon, dua tersangka yang menjadi algojo pemotongan. Dihadapan penyidik, keduanya bahkan mengaku pemotongan itu bagian dari ritual kepercayaan yang mereka anut. Polisi membantah kabar tersebut.

Hal lain, tentu saja yang terkait dengan korban sendiri. Julius, meski di mata keluarganya sebagai pribadi yang baik, santun dan bertanggungjawab terhadap keluarganya, tapi pihak kepolisian punya catatan sendiri terhadap pemuda berusia 30 tahun ini. Ia misalnya, pernah dipenjara karena kasus perkelahian dan baru 8 bulan lalu menghirup udara bebas. Namun dari kerabat dekatnya diketahui, dalam bergaul pemuda yang terakhir mencari nafkah sebagai pengrajin ini memiliki solidaritas tinggi terhadap teman-temannya. Kehidupannya memang kadang bersentuhan dengan dunia kekerasan, tapi tetap tidak ada yang membayangkan, kisah hidupnya akan berakhir seperti ini.

Para pelaku pembunuh Julius Alexander, tinggal menunggu hukuman, yang jika kelak terbukti, hampir dipastikan akan menghadapi ancaman berat. Karena polisi, sedikitnya telah berancang-ancang menjerat mereka pasal 340 dan pasal 55 KUHP. Pembunuhan berencana, dan pembunuhan yang dilakukan secara berama-sama.

Ancaman yang sama, sudah dipastikan membayangi pelaku lain yang kini masih dalam pengejaran. Polisi yakin mereka akan tertangkap, dan memuaskan harapan masyarakat.(Idh)

Video Streaming

Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :