Hukum dan Kriminal
18-Jul-2005 12:19:10 WIB
JEJAK KASUS
Dendam Kesumat Sang Keponakan



Reporter : Sukwan Hanafi
Cameraman : Medi Kuswedi

indosiar.com, Kalimantan Selatan - Kampung Imban, salah satu kampung Kalimantan Selatan, awal Juni lalu digemparkan oleh peristiwa pembunuhan keji. Seorang wanita beranak dua, ditemukan berlumur darah, dengan wajah yang sudah remuk dan tubuh penuh luka sabetan senjata tajam. Pihak kepolisian cukup repot mengungkap kasus ini, karena pandainya pelaku menyembunyikan identitasnya. Siapa sebenarnya sang pembunuh? Kita simak saja kisahnya.

Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Kehidupan masyarakatnya yang tenang, Rabu awal Juni lalu tiba-tiba diguncang peristiwa pembunuhan mengerikan. Bariah, wanita beranak dua di kampung tersebut, ditemukan tewas. Tubuh wanita yang akrab dipanggil Acil itu ditemukan bersimbah darah, tergeletak di kebun karet miliknya. Banyak luka sabetan senjata tajam di tubuhnya. Sementara wajahnya, tampak lebam terkena hantaman benda tumpul.

Satu jam berselang, pihak Kepolisian Sektor Bati-bati datang ke lokasi kejadian, tidak lama setelah dilapori warga. Mereka langsung mengamankan tempat kejadian perkara.

Marhan, suami korban, yang pertama kali memberi tahu warga soal kejadian yang dialami isterinya tersebut, kepada polisi mengatakan, isterinya tewas karena diseruduk babi hutan. Namun polisi memiliki pandangan lain, dan mereka terus memperdalam untuk membuka munculnya kemungkinan lain.

Di tempat kejadian, polisi menemukan sejumlah barang bukti yang kemudian diamankan untuk kepentingan penyidikan. Diantaranya berupa pakaian bekas korban yang berlumur darah, sebilah samurai dan golok panjang. Barang-barang itu kemudian disita sebagai barang bukti.

Tempat kejadian, mereka datangi kembali, untuk mendapatkan lebih banyak petunjuk soal siapa sebenarnya sang pembunuh. Dan harapan itu mereka dapatkan. Seorang pemuda bernama Iwan, muncul dan mengaku menemukan petunjuk yang dibutuhkan polisi.

Hendro, laki-laki yang di hari kejadian diketahui menghilang dari kampung, malam itu juga langsung diburu. Petugas mendapat kabar, laki-laki itu pergi ke rumah orang tuanya di Kampung Kuala Kapuas, masih di wilayah Kecamatan Bati-bati.

Polisi dan sang pembunuh, seperti bermain petak umpet. Adu kemahiran, dan saling mengintip. Polisi, misalnya, setelah gagal mendapatkan bukti kuat untuk mendudukkan Hendro sebagai tersangka, mereka makin mengintensifkan pengusutannya. Iwan, pemuda yang sebelumnya memberi petunjuk kepada polisi soal dugaan keterlibatan Hendro, dijadikan target untuk diperiksa.

Dalam pemeriksaan, awalnya Iwan membantah, namun dengan berbagai teknik penyidikan pihak kepolisian, pemuda itu akhirnya mengakui, bahwa memang dia yang membunuh Bariah. Namun menurut Iwan, ia tidak melakukannya sendiri, tapi bersama orang lain.

Berhasil membekuk dan mendapatkan pengakuan Iwan, memang menjadi modal awal yang sangat berharga bagi polisi dalam upaya mereka mengungkap kasus ini. Dengan modal itu, mereka kemudian mengembangkan kasus ini. Karena Iwan mengaku, ia tidak sendiri dalam mengeksekusi Bariah. Ia bersama seorang laki-laki lain, dan Marhan, suami korban, menjadi target berikutnya untuk dicurigai. Dasarnya, polisi tidak percaya pengakuan laki-laki itu, bahwa sang isteri tewas karena diseruduk babi.

Namun, dengan alibinya yang diperkuat sejumlah teman sekerjanya, Harman berhasil meyakinkan polisi, bahwa pada waktu isterinya dibunuh, ia sedang berada di lingkungan tempatnya bekerja. Harman kemudian dilepas. Tapi polisi mendapat berkah lain. Dari Iwan, mereka mendapat informasi tambahan, bahwa pembunuhan itu dilakukannya bersama keponakan korban sendiri bernama Khairul.

Polisi sempat dibuat terperanjat dengan keterangan terbaru tersebut, karena pemuda yang akrab dipanggil Arul itu, seperti halnya Iwan, sempat berada di tempat kejadian perkara saat petugas mengevakuasi korban.

Dua tersangka pembunuh telah didapatkan. Dan polisi menelusuri motif dan latarbelakang keduanya melakukan tindakan ini. awalnya polisi menduga, pembunuhan ini bermotif dendam.

Dugaan itu mengacu pada pengakuan tersangka Khairul, yang mengaku sakit hati karena sering dipergunjing korban soal kebiasaannya membuat ulah di kampung itu. Namun polisi memperdalam hilangnya kalung korban. Menurut tersangka Khairul, sebenarnya niat awalnya hanya untuk memberi pelajaran kepada isteri pamannya tersebut, dengan cara menakut-nakutinya agar tidak lagi berani menggunjingkan dirinya.

Selepas mengikuti apel pagi petugas satpam di perusahaan tempatnya bekerja, ia lalu memanggil Iwan dan menyampaikan rencananya tersebut. Rencana selepas mengikuti apel pagi petugas satpam di tempatnya bekerja, ia kemudian mengajak temannya Iwan melaksanakan niatnya tersebut. Keduanya lalu mematangkan rencana itu di warung yang terletak di pinggiran kampung.

Sesuai rencana, mereka kemudian berjanji bertemu di kebun karet korban, tempat yang mereka pilih untuk menakut-nakuti wanita tersebut. Khairul datang lebih dulu, dengan membawa dua senjata tajam. Sebilah golok dan sebilah samurai. Menyusul kemudian Iwan. Mereka kemudian memematangkan rencana, menunggu kedatangan calon korbannya.

Khairul, ternyata memang sangat mengenal kebiasaan bibi iparnya ini. Karena belakangan terbukti, perhitungan waktu dan tempat yang ia rancang, terbilang tepat. Mereka akan melakukan sebuah aksi mirip ninja. Di sebuah tempat, diantara banyak pohon karet, ia menunggu Iwan.

Sementara di rumah korban, Marhan, suami korban, pulang dan mendapati rumahnya dalam keadaan kosong. Marhan mengaku, saat itu tidak ada perasaan apa-apa darinya. Ia bahkan menunggu kedatangan isterinya yang ia tahu, sedang berada di kebun karet milik mereka. Namun ketika waktu terus bergulir, sang isteri belum juga muncul, ia mulai dihinggapi rasa gelisah.

Menurut Marhan, saat pertama melihat kondisi isterinya, tidak ada dugaan isterinya dibunuh. Ia yakin, sang isteri tewas karena diseruduk babi hutan, yang memang banyak berkeliaran di kebun karet mereka.

Iwan mengakui, tindakan mereka sudah kebablasan. Mereka panik, saat korban mengenali mereka, dan lupa niat awal untuk sekedar memberi pelajaran. Menurut tersangka Iwan, saat melihat korban sudah tak berdaya, ia merasa tidak tega dan akhirnya pergi dari tempat itu. Karena itu Iwan mengaku tidak tahu, kalau seperginya dia dari tempat itu, ada sesuatu yang diambil Khairul dari tubuh korban.

Namun bagi polisi, semua tindakan yang dilakukan kedua tersangka memiliki implikasi hukum. Dan polisi merasa telah mendapat gambaran kasus pembunuhan ini secara utuh. Kedua tersangka, menurut polisi, melakukan pembunuhan ini, dengan motif sendiri-sendiri. Khairul misalnya, menghabisi nyawa isteri pamannya tersebut karena motif dendam, dan itu diakui tersangka.

Sementara Iwan, ikut menghabisi nyawa wanita yang kerap dipanggil Acil itu karena motif ingin mendapatkan imbalan uang, walau itu dibantahnya saat diperiksa penyidik. Menurut Iwan, ia menuruti ajakan Khairul karena sehari sebelumnya telah diancam Khairul.

Kedukaan kini, dirasakan keluarga korban. Marhan misalnya, mengaku sangat terpukul setelah mengetahui, isterinya ternyata bukan tewas karena diseruduk babi tapi karena sangaja dibunuh, dan pembunuhnya adalah keponakan, anak kakak kandungnya sendiri.

Melihat luka perasaan yang kini dialami Marhan dan kedua anaknya, harapan itu cukup beralasan. Karena pihak kepolisian Tanah Laut pun menilai, kadar kejahatan yang dilakukan kedua tersangka, memenuhi unsur untuk digunakannya pasal dengan ancaman seberat itu. Ada unsur perencanaan, sebagaimana diatur pasal 340 KUHP, penganiayaan berat seperti disyaratkan pasal 351 KUHP, dan unsur pencurian dengan kekerasan, sebagaimana diatur pasal 365 KUHP, dengan ancaman terberatnya, hukuman mati. Tinggal bagaimana hakim melihat kasus ini, untuk kemudian memutus perkaranya.(Idh)

Video Streaming

Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :