
indosiar.com, Banjarmasin Timur - Nasib seseorang memang Tuhan Yang Maha Menentukan. Tak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi esok. Seperti yang terjadi di kawasan Jalan Pramuka, Banjarmasin Timur, Kalimantan Selatan.
Sesosok mayat pria tak dikenal, harus melepas nyawa dengan usus terburai. Tak banyak keterangan yang bisa didapat seputar ditemukannya mayat tak dikenal ini. Bahkan warga yang menemukannya enggan menjadi saksi dan menyebutkan identitas ketika melapor kepada Polsek Banjarmasin Timur lewat telepon.
Darah dan bau anyir dari lokasi ditemukannya mayat pria tak dikenal ini masih menyengat, ketika warga berkerubung di pinggir Jalan Pramuka, Banjarmasin Timur, Jumat pagi 10 Mei.
Sosok yang sudah tak bernyawa ini langsung dibawa aparat Polsek Banjarmasin Timur ke Rumah Sakit Ulin Banjarmasin, guna mendapatkan visum, penyebab kematiannya. Luka menganga di perutnya, menyebabkan ususnya terbuarai keluar.
Beberapa luka tusuk di tubuh pria ini, diperkirakan membuat ia langsung kehabisan darah, sebelum mendapat pertolongan medis, beberapa jam sebelum mayatnya ditemukan warga, di balik semak belukar, di pinggir jalan raya.
Polisi pun bekerja keras mengumpulkan keterangan dari warga sekitar lokasi ditemukannya mayat. Namun tak satupun yang mengaku mendengar kegaduhan ataupun ribut pertengkaran pada malamnya.
Dan yang lebih menyulitkan lagi, tak sepotong identitas pun ditemukan pada pakaian mayat pria ini. Polisi hanya membawa mayat tanpa identitas ini ke kamar jenazah Rumah Sakit Ulin, Banjarmasin. Untuk sementara polisi menetapkan mayat pria ini sebagai Mister 'X' alias mayat tak dikenal.
Hingga menjelang siang itu, aparat Polsek Banjarmasin Timur sudah hampir menemui jalan buntu mengungkap identitas, apalagi motif dan pelaku pembunuhan terhadap mayat pria tak dikenal tersebut. Bahkan untuk sementara mayat ini sudah ditandai dengan Mister X, alias mayat tanpa identitas.
Ketika semua jalan dan cara sudah ditempuh, dan belum menunjukkan titik terang, seperti mendapatkan durian runtuh, aparat Polsekta Banjarmasin Timur, sekitar jam 10 pagi tiba-tiba datang seorang remaja yang menyerahkan diri dan mengaku sebagai pelaku pembunuhan.
Polisi tidak langsung begitu saja mempercayai pengakuan Junaidi tersebut. Apalagi alasan Junaidi hanya karena tersinggung, ketika berpapasan malam itu di Jalan Pramuka. Ditengah keraguan menghadapi pengakuan remaja tanggung tersebut, aparat Polsekta Banjarmasin Timur mengirimkan sample darah yang ada di baju korban dengan darah di baju pelaku.
Untuk lebih meyakinkan, polisi meminta Junaidi menunjukan pisau atau parang yang digunakannya untuk membunuh Matruji. Junaidi dibawa polisi ke lokasi yang disebutnya tempat membuang pisau. Dan memang pisau tersebut ditemukan di dalam semak-semak, tak jauh dari lokasi ditemukan mayat Matruji.
Walaupun Junaidi telah mengakui sebagai pelaku pembunuhan terhadap Matruji, namun polisi tetap mengirimkan sampel darah korban dan sample darah yang terdapat di baju Junaidi, serta barang bukti pisau yang gunakan.
Ketika semua barang bukti sudah dinyatakan cocok dengan darah korban, barulah Junaidi diperiksa secara intensif tentang modus dan motif perbuatannya terhadap Matruji, sehingga Matruji bersimbah darah harus kehilangan nyawa.
Matruji, korban pembunuhan yang dilakukan Junaidi di Jalan Pramuka Banjarmasin Timur, tidak terlalu banyak dikenal masyarakat sekitarnya. Karena Matruji sendiri diketahui belum begitu lama berada di Kota Banjarmasin, dan menjadi pekerja serabutan. Di lingkungannya sendiri, Matruji dikenal keras, dan sering terlibat masalah.
Setelah mengetahui korban pembunuhan di Banjarmasin Timur adalah Matruji, aparat kepolisian Banjarmasin Selatan segera mencocokkan identitas korban dengan seorang buronan yang masuk dalam daftar pencarian orang, karena membunuh seorang tukang ojek di Jalan Prona, Gang Rambutan, Banjarmasin Selatan.
Setelah diteliti, dan kesaksian sejumlah teman korban, Matruji, pelaku pembunuhan di Banjarmasin Selatan ini, telah menjadi mayat, karena dibunuh oleh sepupu Hariri, seorang tukang ojek yang pernah dibunuhnya sebulan sebelumnya.
Matruji, korban pembunuhan oleh Junaidi, sebulan sebelumnya merupakan pelaku pembunuhan terhadap Hariri, seorang tukang ojek di kawasan Banjarmasin Selatan. Dalam peristiwa tersebut Hariri harus kehilangan nyawa dengan leher hampir putus ditebas clurit oleh Matruji.
Aparat Kepolisian Banjarmasin Selatan langsung memburu Matruji, yang sudah diketahui sebagai pelaku pembunuhan tersebut. Namun Matruji langsung menghilang, tanpa diketahui rimbanya, dan sudah ditetapkan sebagai buronan oleh aparat kepolisian.
Matruji, korban pembunuhan ini, sebelumnya dikenal sebagai seorang pemuda, dengan pekerjaan serabutan. Sementara Hariri, korban yang dibunuhnya adalah seorang tukang ojek, di kawasan Gang Rambutan, Banjarmasin Selatan. Menurut penuturan Sumiati, istri Hariri, beberapa hari sebelum dibunuh, suaminya pernah berurusan dengan Matruji, yang meminta tolong untuk menjualkan jam tangan. Beberapa hari kemudian Matruji kembali menemui Hariri guna menanyakan jam tangannya.
Namun tak seorang pun warga yang berada di Jalan Rambutan mengaku melihat langsung pertengkaran antara Matruji dengan Hariri, yang menyebabkan kematian Hariri, malam Rabu, 20 April itu. Puncak pertengkaran itu membuat Matruji mengeluarkan clurit dan menebaskannya ke leher Hariri hingga hampir putus.
Setelah melihat Hariri terkapar berlumuran darah di lehernya, Matruji langsung melarikan diri, dan tidak diketahui keberadaannya. Sementara mayat Hariri langsung dibawa pulang oleh keluarganya, setelah divisum Rumah Sakit Ulin, Banjarmasin.
Polsek Banjarmasin Selatan, yang menangani kejadian perkara, langsung memburu pelaku yang sudah diketahui bernama Matruji. Namun tak seorang pun dari keluarganya, maupun tetangganya yang mengetahui keberadaan Matruji.
Setelah sebulan mencari dan mengumpulkan keterangan, polsek Banjarmasin Selatan dikagetkan dengan ditemukannya Matruji, juga dalam keadaan mati terbunuh, 20 hari setelah ia membunuh. Sementara kasus terbunuhnya sang pembunuh ini ditangani oleh Polsekta Banjarmasin Timur.
Dengan terbunuhnya Matruji, kerja keras Polsekta Banjarmasin Selatan, boleh dibilang sudah selesai, dan langsung mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) kasus pembunuhan yang dilakukan Matruji.
Kepada aparat Polsekta Banjarmasin Timur, dan Tim Jejak Kasus, Junaidi alias Junai mengaku membunuh Matruji hanya karena tersinggung ketika berpapasan dengan Matruji malam itu. Junaidi mengatakan perbuatannya tersebut bukan karena dendam kepada Matruji, yang sudah dikenalnya beberapa bulan sebelumnya.

Setelah kematian sepupunya hampir sebulan lalu, Junaidi mengaku tidak pernah secara sengaja atau berencana mencari pembunuh sepupunya tersebut. Junaidi mengaku Matruji merupakan preman yang disegani banyak kalangan.
Namun kejadian malam itu merupakan suatu kebetulan, ketika pukul 10 malam, guna menghindari razia kepolsian karena tidak punya SIM, Junaidi mengambil jalan memutar lewat Jalan Pramuka yang sepi. Ketika tengah santai berkendara, sekilas dalam bayangan lampu sepeda motornya, ia melihat wajah pria yang pernah diingatnya sebagai pelaku pembunuhan terhadap Hariri, saudara sepupunya.
Ketika ia berhenti untuk memastikan orang yang dilihatnya tersebut, Junaidi justru juga diancam akan dibunuh. Hal ini membuat Junaidi naik pitam, dan langsung menusukkan pisau yang sudah diselipkan dipinggangnya.
Setelah melihat Matruji tidak lagi berdaya, dengan satu tikaman yang langsung menghujam perut, hingga membuat usus Matruji terburai, Junaidi langsung melarikan diri, dan membuang pisau tak jauh dari lokasi kejadian.
Malam itu Junaidi tidak pulang ke rumah istrinya. Ia langsung menuju rumah orang tuanya. Kepada ayahnya, Junai mengatakan baru saja berkelahi dengan orang, dan ia tidak tahu kondisi orang tersebut setelah ditinggalkan. Oleh Satuki, ayahnya, Junaidi disuruh istrirahat dulu, dan ia sendiri pergi mendatangi tetangganya yang kebetulan anggota kepolisian. Namun malam itu Satuki tidak bertemu dengan tetangganya tersebut.
Pagi harinya, Satuki kembali mendatangi tetangganya yang anggota kepolisian tersebut, dan menceritakan kejadian yang dialami Junaidi tadi malam. Diantar tetangga dan ayahnya, Junaidi menyerahkan diri kepada pihak kepolisian. Kedatangan Junaidi ke kantor polisi tentu membawa kabar baik bagi aparat kepolisian, yang tengah sibuk mengungkap identitas korban pembunuhan ini. Untuk menguatkan pengakuannya tersebut, Junaidi diminta membuktikan perbuatannya.
Ada yang janggal dari pengakuan Junaidi, yang mengaku kebetulan ketemu dengan Matruji malam itu. Sebelum bertemu, malam itu Junaidi sudah menyiapkan pisau, yang terselip di pinggangnya.
Alasan Junaidi menggantikan Satuki, ayahnya, yang bertugas sebagai penjaga malam di sebuah pasar di Kota Banjarmasin, membuat ia harus selalu membawa senjata tajam, yang akhirnya digunakan untuk membunuh Matruji.
Remaja lugu yang pendiam ini akhirnya harus berurusan dengan polisi, dan menghadapi ancaman hukuman yang tidak ringan. Walaupun Junaidi mengaku membunuh Matruji bukan karena dendam, namun pembunuhan terhadap Matruji tentu tidak bisa dipisahkan dengan pembunuhan Hariri, sepupu Junaidi, yang dilakukan oleh Matruji.(Idh)