Hukum dan Kriminal
4-Aug-2005 16:16:16 WIB
JEJAK KASUS
Langkah Pintas Seorang Penganggur



Reporter : Sukwan Hanafi
Juru Kamera : Herman Worotikan

indosiar.com, Pontianak - Pembunuhan keji beberapa waktu lalu terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat. Seorang wanita ditemukan tewas tidak lama setelah keluar dari rumahnya. Warga disekitar kejadian dibuat binggung dan sempatt saling mencurigai soal siapa sebenarnya sang pembunuh.

Kebahagiaan menyelimuti keluarga besar Hamunandar, warga Sungai Tinyuk, Pontianak, Kalimantan Barat. Anak sulung mereka Lusiana melahirkan seorang bayi laki-laki hasil perkawinannya dengan seorang pemuda kampung bernama Handani.

Cucu pertama laki-laki pula bagi Hamunandar dan istrinya bagai hadiah tak terhingga untuk pria seusianya. Hamdani bagi Hamunandar merupakan menantu yang baik. Walau belum memiliki pekerjaan, namun pemuda ini rajin membantu pekerjaannya sebagai nelayan.

Ibarat kata, Makan Tak Makan Asal Kumpul, Hamunandar tak keberatan Lusiana dan Hamdani tinggal bersama mereka, sampai mereka mampu hidup mandiri.

Namun tidak dengan Hamdani, hidup bergantung dan tinggal serumah dengan mertua tetap saja tidak nyaman. Ia ingin hidup mandiri. Tinggal terpisah dan bebas menikmati perannya sebagai kepala rumah tangga. Keinginan itu terus membayangi hari-harinya.

Awal Juli lalu saat anaknya berusi 41 hari, sudah bisa dibawa keluar rumah Hamdani menemani istrinya membawa Robiansyah anak mereka untuk diimunisasi. Diperjalanan, Hamdani mengajak istrinya mampir dulu ke rumah orangtuanya yang berjarak sekitar 2 kilometer dari tempat itu. Sejak lahir sang bayi belum pernah dibawa ke rumah orangtuanya.

Tapi ceritanya menjadi lain, ketika sampai sore Lusi, Hamdani dan anak mereka belum juga kembali ke rumah. Hamunandar yang menunggu mulai diliputi perasaan gelisah.

Maut tak ada yang biasa menebak dan itupula yang terjadi dengan Lusi. Ibu muda ini ditemukan telah menjadi mayat tergeletak diantara rawa, sedikit tertutup semak kering di perkebunan milik mertuanya. Di lehernya ditemukan luka sayat. Hamunandar sangat terpukul.

Kematian Lusi membuat kaget semua pihak. Pukulan terberat tentu saja dirasakan keluarga besar Hamunandar. Mereka langsung melaporkan kejadian ini ke polisi, minta diungkap siap sebenarnya sang pembunuh.

Pihak kepolisian Sektor Sungai Pinyu, Pontianak, tidak lama setelah menerima laporan langsung turun ke lokasi tempat mayat Lusi ditemukan.

Hamdani kemana dia ?. Hamunandar dan istrinya binggung. Sampai siang hari, sang menantu tidak menampakan batang hidungnya. Sampai akhirnya keluarga memutuskan mengubur jenazah Lusi. Muncul banyak dugaan dari yang menganggap ia ikut terbunuh, sampai pada spekulasi, ia diculik kawanan pembunuh istrinya.

Tapi bagi Hamunandar, sempat terlintas di benaknya kecurigaan, justru Hamdani yang telah membunuh anaknya. Ia hanya tidak mau gegabah dengan mengungkapkan kecurigaan itu kepada korban lain. Sebagian warga pun mengaku binggung.

Walau ada terlintas dugaan Hamdani yang membunuh, tapi pikiran itu coba mereka singkirkan. Karena dalam keseharian, tidak tampak ada masalah diantara kedua pasangan muda tersebut. Demikian pula dengan polisi.

Mereka tidak mau menduga-duga sebelum ada petunjuk yang kuat. Namun mereka akui, hilangnya Hamdani menjadi catatan penting dan harus dijawab sebagai pintu masuk bagi mereka mengungkap kasus ini.

Beberapa orang warga termasuk anggota keluarga Lusi dan Hamdani kemudian dimintai keterangan. Berbekal barang bukti sandal, polisi kemudian menyusuri tapak kaki yang diduga milik Hamdani dan mengarah kesebuah tempat.

Upaya polisi akhirnya menuai hasil. Hamdani ditemukan didalam hutan, tidak jauh dari tempat itu. Dihadapan penyidik, Hamdani tidak banyak memberi penjelasan. Ia lebih banyak diam dan menjawab pertanyaan seadanya. Namun setelah kepadanya dihadapkan sejumlah bukti, Hamdani mengakui memang dia yang telah membunuh Lusi.

Menjadi laki-laki pengangguran, hidup tergantung dan tinggal serumah dengan mertua memang menjadi masalah besar bagi setiap suami. Demikian pula dengan Hamdani.

Dibalik penampilannya yang ceria dan penurut, ia menutup rapat kegundahan perasaan itu. Hanya Lusi yang tahu bagaimana perasaan sang suami. Mereka sering terlibat keributan.

Keceriaan Hamdani selama tinggal serumah dengan mertuanya ternyata hanya semu. Ia merasa memedam perasaan dan itu luput dari pantauan mertuanya. Soal ketidak betahannya di rumah mertua itu, diakui tersangka saat menjalani pemeriksaan di kepolisian. Menurut Hamdani, hal yang paling tidak ia sukai sang mertua sering ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.

Senin 4 Juli lalu, saat istrinya pamit mau imunisasi anaknya ke puskesmas, Hamdani memutuskan ikut. Lusi yang berharap suaminya tetap tinggal di rumah membantu pekerjaan ayahnya terpaksa mengalah.

Namun ia tetap dongkol, apalagi kemudian Hamdani bukan mengantar ke puskesmas. Tetapi malah mengajak ke rumah orangtuanya.

Untuk mendapat gambaran lebih jelas, polisi kemudian menggelar rekonstruksi di tempat kejadian perkara dengan menghadirkan langsung Hamdani. Lusi diperankan orang lain. Hamdani ditempatnya menjalani kurungan hanya bisa merenungi akibat perbuatannya. Ia merasa menyesal dan siap menebusnya. (Sup)

Video Streaming

Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :