Hukum dan Kriminal
6-Aug-2005 14:59:48 WIB
JEJAK KASUS
Pernikahan Petaka Metta



Reporter: Eliza Amanda
Juru Kamera: Andi Trisna Pramudya


Apa jadinya bila pernikahan tanpa dilandasi cinta. Contoh seperti di Kota Yogyakarta ini. Rupanya sangat mengharukan. Agus dan Metta telah lebih dari 3 tahun menikah, namun mereka belum bisa mengendalikan diri dan menghargai pasangannya sebagai seorang manusia.


indosiar.com, Yogyakarta - Hidup serumah rupanya justru menjadi neraka. Mulailah Agus sering mengomel, mengamuk, hanya karena soal-soal kecil. Bukan hanya sekali, Agus melakukan kekerasan pada Metta. Penganiyaan terus berlanjut bahkan tak peduli meski saat itu Metta sedang mengandung anak mereka 7 bulan.


Bagi mereka, masalah kecil tampak sebagai sebuah masalah yang sangat besar. Ayah Metta akhirnya mengetahui sifat menantunya. Namun dia tidak mau mengambil sikap gegabah dan tetap berusaha mendamaikan kedua belah pihak.


Saat Metta harus bekerja di warung internet karena suaminya tidak lagi memberi nafkah. Percekcokan semakin sering terjadi. Tidak cuma itu, Metta juga melihat suaminya mulai selingkuh dengan wanita lain.


Agus mengatakan saat itu ia memang sedang emosi karena melihat isterinya beberapa kali dibonceng oleh pria lain. Ketika menanyakan hal itu kepada Metta, isterinya itu malah menjawab dengan perkataan kasar, sehingga ia merasa tertantang.


Ia lebih terkejut lagi saat mengetahui isterinya telah mengajukan gugatan cerai kepada pengadilan agama, tanpa meminta persetujuannya lebih dulu. Pria berusia 26 tahun ini menampik sering kali menganiaya isterinya. Ia malah mengatakan sebaliknya, isterinya lah yang sering bersikap keras.


Akhirnya, Metta memutuskan pisah ranjang untuk menenangkan diri sementara waktu. Puncaknya Metta mengambil keputusan untuk mengugat cerai suaminya dengan bantuan ayah dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk wanita dan keluarga di Yogyakarta.


Semula Metta menduga mereka akan benar-benar pulang. Namun arah jalan yang dipilih Agus makin lama makin menjauh dari rumah. Setelah hampir satu jam menghabiskan waktu perjalanan, Agus ternyata membawa Metta dan anaknya ke Kali Kuning, sebuah bukit di kawasan Cangkringan, Yogyakarta.


Sesampainya di lokasi perbukitan. Agus bukannya mengajak anaknya bermaian, malahan adu mulut kembali terjadi. Ternyata Agus belum menyerah juga, masih saja dia memintai isterinya mencabut surat gugatan cerai. Sayangnya, Metta menolak sambil balas mengomel dan marah-marah kepada Agus. Agus tidak mampu menerima kenyataan ini, sehingga mendorong Metta ke jurang.


Tuhan ternyata berkehendak lain terhadap Metta. Meski didorong ke jurang sedalam 200 meter, Metta masih berumur panjang. Ibu beranak satu ini ternyata hanya tersangkut di bibir jurang, yang dalamnya sekitar 60 meter dari atas bukit.


Setelah lolos dari maut, cedera yang dialami Metta ternyata tidak terlalu parah. Metta hanya mengalami patah tulang di lengan kanannya. Metta menceritakan bagaimana dirinya bisa sampai selamat dari jurang curam itu.


Kini, Metta kembali tinggal di rumah orang tuanya di Kawasan Suryo Putra, lingkungan sekitar Kraton Yogyakarta bersama Anggit, anaknya. Metta berusaha tegar menerima kenyataan pahit yang telah dialaminya.


Sekilas Metta memang tampak sebagai wanita yang kuat. Namun jauh di lubuk hatinya, Metta sangat hancur. Luka ditangannya mungkin bisa sembuh perlahan-lahan. Namun perih akibat dilukai suaminya, tidak akan pernah sembuh.


Beberapa saat setelah mendorong isterinya ke jurang, Agus pulang ke rumahnya. Ketika itu juga, ia menceritakan pada ayahnya tentang semua peristiwa yang terjadi di Kali Kuning. Atas saran ayahnya, Agus menyerahkan diri ke Polres Sleman, Yogyakarta. Saat itu, ia memperkirakan isterinya pasti sudah tewas.


Penyidik berkesimpulan kasus ini murni spontan, tidak ada unsur Agus berencana membunuh isterinya. Meski sempat mendorong dan menganiaya Metta, polisi juga tidak menemukan bukti-bukti direncanakan. Sementara ayah Metta tidak menerima jika kasus ini dianggap hanya sebagai kasus penganiayaan.


Dengan tegas, ayah korban menuduh Agus telah merencanakan pembunuhan terhadap isterinya sendiri, terutama saat ia merebut dompet berisi identitas korban beberapa saat sebelum kejadiaan.


Seiring dengan proses hukum yang akan dijalani Agus, proses persidangan perceraian Agus dan Metta, kini sudah memasuki tahap akhir. Sidang dijalani tanpa kehadiran Agus. Menurut pengacara Metta, kekerasan dan penganiayaan berlarut-larut sebenarnya tidak akan dialami Metta, jika sejak awal ia mau melaporkan kasus ini ke LBH atau polisi. (Tom)


Video Streaming

Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :