
indosiar.com, Pondok Gede - Kelahiran adalah takdir. Dan kehidupan adalah jalan menuju harapan. Kata bijak itu patut kita renungkan kembali, manakala kita sadari hidup yang kita lalui tak seindah yang kita harapkan. Banyak cobaan. Pahit getir dirasa tak sebanding dengan usaha keras yang telah dilakukan.
Seorang gadis di Jawa Timur, paham betul apa arti pahitnya hidup. Sejak kecil hidupnya terombang-ambing sampai akhirnya jatuh dan terjebak dalam suasana yang tidak pernah ia bayangkan. Semua berawal dari kecerobohannya sendiri.
Ini kisah tentang seorang gadis bernama Puji. Seorang gadis belia berusia 18 tahun, asal Ngawi, Jawa Timur, yang 6 bulan terakhir bekerja sebagai pembantu di rumah salah satu keluarga di kawasan Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi.
Gadis bernama lengkap Warsini Puji Astuti ini, sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi pembantu rumah tangga. Cita-citanya cukup sederhana menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri. Sama seperti kebanyakan gadis belia di kampungnya yang putus sekolah.
Namun nasib menentukan lain. Lamarannya ditolak dan ia pun tak punya pilihan lain. Ia jalani pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Namun tidak ada yang tahu, ke ibukota ia datang membawa beban derita mendalam. Ia tengah berbadan dua. Dan selama itu, ia menyimpan rapat derita itu, sampai akhirnya ia tak kuasa melawan waktu. Ia melahirkan bayinya.
Akhir Juli lalu, Puji menjadi bahan pembicaraan. Ia membunuh bayinya. Atas sangkaan telah membunuh bayinya, Puji pun berurusan dengan polisi. Seakan ingin menjawab pertanyaan banyak orang, Puji pun memberi penjelasan tentang asal usul cabang bayinya itu.
Peristiwanya berawal pada Nopember 2004 lalu. Tepatnya saat umat muslim merayakan hari Idul Fitri. Keluguannya telah menjadi awal kehancuran hidupnya.
Tekad Puji sudah bulat. Ia harus pergi ke Jakarta. Saat mendengar kabar ada satu keluarga di ibukota yang membutuhkan tenaga pembantu rumah tangga, ia pun menangkap peluang itu sebagai batu loncatan menuju cita-citanya bekerja di luar negeri.
Menurut Puji, ia seperti ditakdirkan untuk terus menderita dalam hidupnya. Ia anak seorang petani miskin di desanya dan sejak kecil hidupnya terombang ambing dimakan waktu. Padahal, ia anak bungsu dari 3 bersaudara tapi ia tak pernah merasakan kemanjaan.
Peristiwa perkosaan seakan menjadi puncak dari derita yang ia alami. Menurut Puji, 2 bulan setelah kejadian itu ia tetap mencoba merajut mimpinya menjadi TKW. Ia datang kesalah satu penyalur TKW di Jakarta, namun ia gagal menjalani test. Hamilnya terdeteksi.
Satu bulan setelah itu, ia mencoba lagi peruntungan. Ia menerima tawaran seorang pria bernama Simanjuntak, yang kebetulan sedang mencari tenaga pembantu untuk keluarga mertuanya di Bekasi. Sejak itulah, ia bekerja dikeluarga itu dan ia menyimpan rapat derita yang ditanggungnya.
Namun tak ada bangkai yang tak tercium, walau disimpan rapat. Itu pula yang terjadi dengan Puji. Walau ia telah berusaha menutupi dengan menjaga jarak, namun warga sekitar tempat tinggalnya mengendus gejala perubahan fisiknya.
Seorang ibu bahkan mengaku pernah dengan sengaja datang kerumah sang majikan, dengan dalih hendak menagih iuran RT. Kebetulan Puji yang menyambut kedatangannya.
Puji tak kuasa lagi menahan malu. Ditengah malam saat semua anggota keluarga majikannya tertidur lelap, sang bayi mendesak untuk segera dilahirkan. Puji pun pasrah. Dan ia tidak mengenali dirinya lagi.
Puji memang tak bisa melawan waktu. Dan iapun tak memahami, ketika suatu sore ia merasakan sakit perut begitu hebat. Malam harinya sakit perut itu belum juga mereda. Ia mencoba mencari penawar, dengan pergi ke dapur.
Pihak kepolisian Pondok Gede, Bekasi, melihat motif tindakan Puji ini, murni karena gadis ini panik, saat ia melahirkan bayi. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan ia harus menyimpan semuanya termasuk dari keluarga majikan.
Untuk kepentingan penyidikan, polisi telah menahan semua alat bukti yang mereka temukan. Potongan tubuh sang bayi, kain pembalut penuh bercak darah, plastik hitam serta sebilah golok yang digunakan Puji untuk menggorok dan memotong-motong bagian tubuh anaknya.
Namun dalam penanganan kasus ini, pihak kepolisian Pondok Gede tidak mau bekerja setengah-setengah. Mereka melihat, jika benar, Puji juga seorang korban. Korban kebiadaban 4 lelaki yang telah memperkosanya.
Puji sendiri kini menjalani pemeriksaan. Polisi menjeratnya dengan 3 pasal sekaligus. Yakni pasal 341 subsider pasal 338, serta pasal 351 KUHP dan ia menghadapi ancaman masuk penjara selama 15 tahun. Ini seakan menjadi penegasan, apa yang Puji sendiri yakini bahwa ia hadir didunia hanya untuk kepahitan, yang matang bersamanya.(Idh)