jeruk bali
Hukum dan Kriminal
11-Sep-2006 16:16:12 WIB
JEJAK KASUS
Nasib Naas Sopir Tembak



Reporter: Ery Sofyan Hakim
Juru Kamera: Ahmad Hadiyin
Tayang, Senin, 11 September 2006, Pukul 12.00 Wib

indosiar.com, Jakarta - Merampok taksi, seringkali menjadi jalan pintas bagi mereka yang punya niat jahat untuk mendapatkan uang. Keberadaan sopir taksi yang sendirian didalam mobil memungkinkan rencana perampokan berjalan dengan mulus.

Tak jarang berakhir dengan kematian sang sopir. Hal itu juga yang menimpa salah seorang sopir taksi di Jakarta beberapa waktu lalu. Ia tewas digorok. Sial baginya, karena sebetulnya ia hanyalah seorang sopir pengganti alias sopir tembak.

Kejadian naas kembali menimpa seorang sopir taksi. Marsudi, demikian nama sang sopir digorok lehernya dikawasan Cilandak, Jakarta Selatan, 8 Agustus lalu.

Saat dilarikan ke Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, kondisi sopir Taksi Koperasi ini sangat mengenaskan. Luka mengangga dibagian leher masih mengeluarkan darah segar. Bekas tusukan sedalam 15 centimeter dibagian pangkal leher, diduga sebagai penyebab kematiannya.

Kejadian itu jelas mengemparkan sesama sopir taksi khususnya rekan-rekan korban. Mereka langsung mendatangi rumah sakit tempat korban dibawa. Dan pada saat hampir bersamaan, pelaku pembunuhan yang ternyata berpura-pura jadi penumpang taksi juga dibawa polisi ke rumah sakit bersangkutan.

Sejumlah rekan korban emosi mencoba menyerang pelaku penggorokan yang terdiri dari dua orang saat akan dibawa aparat kepolisian.

Malam itu sebetulnya korban hanya menggantikan rekannya si sopir taksi yang asli. Atau istilah populernya sopir tembak. Kejadiannya sendiri berlangsung disebuah gang buntu di Jalan Haji Saidi Jakarta Selatan. Beruntung ada seorang petugas satuan pengamanan atau Satpam yang curiga.

Para pelaku yang terdiri dari 2 orang pemuda itu naik taksi yang dikendarai korban dari Pasar Festival Kuningan Jakarta. Setelah sampai di Gang Buntu itulah, satu orang bertindak sebagai penjerat leher yang lain sebagai penggorok leher korban menggunakan pisau kater.

Berkat kesigapan warga dan petugas keamanan disekitar lokasi kejadian, 2 pelaku pembunuhan akhirnya berhasil ditangkap. Ironisnya, keduanya mengaku hanya ingin merampok uang untuk tambahan ongkos pulang.

Kedua pemuda inilah pelaku pembunuhan Marsudi sang sopir tembak itu. Suryana (18) dan Joe Saputra (19). Keduanya mengaku, keputusan merampok diambil seketika karena kehabisan ongkos untuk pulang ke rumah mereka di Jalan Deli, Jakarta Utara.

Meskipun awalnya saling tuduh, akhirnya Joe Saputra mengakui dirinyalah yang punya usul merampok taksi. Selama tiga bulan terakhir, Marsudi mencari tambahan nafkah bagi keluarganya sebagai sopir tembak alias sopir pengganti bagi taksi yang biasa dibawa temannya. Seperti juga yang terjadi pada malam naas itu.

Sebagai sopir tembak, Marsudi banyak memanfaatkan waktu malam hingga pagi hari yang biasa disebut ngalong dikalangan sopir taksi. Karena di pagi harinya, Marsudi harus mengoperasikan bus Kopaja sebagai pekerjaan utama yang selama dia geluti.

Biasanya, ayah 3 anak itu cukup berhati-hati memilih penumpang. Tapi entahlah, malam itu di Pasar Festifal Kuningan, Jakarta Selatan, Marsudi menaikan dua orang pemuda yang ternyata membawa maut baginya. Marsudi segera menjalankan mobilnya menuju Tanjung Priok sesuai keinginan penumpangnya.

Namun ditengah perjalanan, sang penumpang berubah tujuan. Bukan langsung ke Tanjung Priok, tapi putar-putar dulu. Ditengah jalan, 2 pemuda itu saling memberi kode.

Di Jalan Haji Saidi IV Gang Buntu kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, aksi jahat itu akhirnya dilaksanakan. Untungnya saat itu ada seorang Satpam yang curiga melihat taksi tersebut. Kedua tersangka yang bergegas keluar segera dikejar. Begitu tertangkap, sejumlah warga yang saat itu ada dilokasi segera menghajar kedua pemuda tersebut.

Berdasarkan catatan pihak Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan, sebetulnya kejahatan pada sopir taksi secara kuantitatif tidaklah tinggi.

Namun memang seringkali mendapat perhatian media massa karena kejadiannya seringkali berlangsung diarea publik yakni di jalanan.
 
Banyak hal memang harus dilaksanakan agar tindak kejahatan semacam ini tidak berulang kembali.

Istri korban jadi bingung akan masa depan anak-anaknya karena sang kepala keluarga telah tiada. Sementara itu ayah salah seorang tersangka bahkan sampai meninggal dunia karena ulah sang anak.

Selama ini almarhum Marsudi beserta istri dan ketiga anak mereka tinggal di rumah mertua almarhum dikawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Menurut sang istri Ernawati, sehari-hari suaminya bekerja sebagai sopir bus Kopaja jurusan Blok M - Manggarai, Jakarta.

Kebutuhan hidup yang kian meningkat membuat sang suami memutuskan jadi sopir taksi pengganti. Upaya menambah penghasilan dari sopir tembak itu baru dijalani selama 6 bulan belakangan ini.

Mimpi yang dirasa sebagai firasat itu memang tak disangka menemukan jawabannya pada Senin malam, 8 Agustus lalu. Padahal beberapa jam sebelum kematian, korban masih bertemu dengan adik dan rekan-rekan korban di pangkalan taksi. Tak ada yang menyangka, perbicangan mereka saat itu akan jadi yang terakhir.

Ernawati sendiri sadar benar resiko semacam itu membayangi profesi sampingan sang suami. Menurut Erna yang berusaha tegar didepan anak-anaknya tindakan dua tersangka muda itu tidak hanya menghilangkan nyawa suaminya, tapi juga sekaligus nyawa dirinya dan ketiga buah hati mereka.

Sebagai sopir tembak, suaminya tidak mendapat santunan apapun. Bantuan dari teman-teman korban sebagai bentuk solidaritas cukup menolong kondisi mereka. Tapi tentu tak mungkin selamanya mereka bergantung pada bantuan itu.

Berserah diri pada Kehendak Yang Maha Kuasa, diiringi harapan para pelakunya diganjar sesuai hukum yang berlaku dijadikan sang istri sebagai dorongan untuk bangkit menata hidup. Walau kenangan hidup mengenal almarhum selama 20 tahun, pasti bukanlah hal muda untuk dibiarkan apalagi melalui perpisahan yang sangat tragis seperti ini.

Tindakan dua pelaku pembunuhan sopir taksi Joe Saputra dan M Suryana ternyata juga mengejutkan sebagian warga Jalan Deli Jakarta Utara tempat kedua tersangka tinggal. Betapa tidak, kedua pemuda itu dikenal pendiam dan tidak pernah bermasalah dengan lingkungan sekitarnya selama ini.

Peristiwa ini begitu memukul orangtua masing-masing keluarga tersangka, hingga mereka pun menutup diri untuk diwawancara. Begitu dalam rasa terpukul itu, hingga ayah dari M Suryana, salah satu tersangka meninggal dunia akhir Agustus lalu, 4 hari setelah kejadian.

Semoga ancaman hukuman penjara yang akan dilalui para tersangka, bisa membuat mereka jera. Sebab akibat perbuatan mereka, seorang perempuan dan 3 anak-anak kehilangan kepala keluarga. (Suprie)

Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :