Hukum dan Kriminal
2-Aug-2007 16:12:09 WIB
JEJAK KASUS
Para Praja Berulah Lagi



Reporter : Budi Rahmat
Penulis Naskah : Cecep Hendar
Juru Kamera : Budi Rahmat - Cecep Hendar
Tayang : Kamis, 02 Agustus 2007, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Jatinangor
- Belum juga usai kasus kekerasan yang menyebabkan kematian seorang praja IPDN oleh seniornya di Kampus IPDN beberapa bulan lalu, kini muncul kasus baru di IPDN. Hanya, kali ini terjadi di luar kampus. Para calon pamong abdi negara itu terlibat pengeroyokan yang menewaskan seorang warga. Sebuah kasus yang menambah buram citra kampus IPDN.

Saat itu hari Minggu, tanggal 22 Juli 2007, sekitar jam 9 malam, mobil ambulan membawa jenazah Wendi Budiman bin Rohman ke kamar mayat Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Jawa Barat.

Wendi adalah warga Desa Cikeruh, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat yang menjadi korban pengeroyokan sejumlah pemuda berambut cepak yang belakangan diketahui sebagai mahasiswa atau Praja IPDN.

Pengeroyokan terhadap pemuda berusia 21 tahun itu terjadi disebuah tempat bilyard di Jatinangor Town Square atau Jatos pada Sabtu malam tanggal 21 Juli 2007. Saat itu Wendi tengah bersama ke 4 temannya.

Sementara teman-temannya berhasil melarikan diri, malang bagi Wendi, ia terjebak dikeroyok sekitar 8 orang praja. Wendi pun mengalami luka parah setelah kepalanya dibenturkan ke tembok.

Ketika diantar pulang ke rumah, Wendi dalam kondisi setengah sadar. Minggu paginya, pemuda itu dibawa ke Puskesmas setempat yang lalu merujuknya ke Rumah Sakit Umum Sumedang. Namun akibat lukanya yang parah, pemuda lajang itu pun meninggal sekitar jam 5 sore.

Keluarga korban tidak tinggal diam menghadapi musibah ini. Mereka melaporkan tewasnya Wendi ke kepolisian setempat.

Untuk itulah korban Wendi dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung guna keperluan otopsi.Minggu malam itu juga polisi melakukan olah TKP (tempat kejadian perkara) di tempat permainan bilyard di Jatos Sumedang.

Dari keterangan yang diperoleh polisi, perkelahian terjadi di luar arena permainan. Meskipun para pelaku pengeroyokan pada malam kejadian tidak mengenakan seragam, pegawai tempat permainan bilyard itu mengenali mereka sebagai Praja IPDN.

Sejumlah saksipun dimintai keterangan. Mereka antara lain adalah pengelola tempat permainan bilyard, petugas keamanan Jatos serta 2 orang teman Wendi yang lolos dari aksi perkelahian tersebut.

Polisi bergerak cepat dengan memeriksa para praja yang terkait dengan kasus pengeroyokan dan menetapkan tersangkanya. Di sisi lain, sejumlah praja pun memberi kesaksian yang menunjukkan Wendi dan teman-temannyalah yang memulai perkelahian pada malam itu.

Terkait tewasnya Wendi dalam aksi pengeroyokan di Jatos, sebuah pusat perbelanjaan di Jatinangor Sumedang, Jawa Barat, polisi melakukan pemeriksaan terhadap 10 praja IPDN. Apa yang terjadi pada Sabtu malam itu berawal dari persinggungan korban dengan salah satu lulusan IPDN. Hal itu berdasarkan keterangan para saksi baik dari pihak IPDN maupun teman korban yang ada di tempat kejadian. Hanya saja berbeda versi.

Misalnya saja keterangan ketiga orang Purna Praja atau lulusan IPDN ini. Masing-masing bernama Gondo, Megawati dan Irma. Menurut mereka, korbanlah yang memulai perkelahian tersebut.

Saat itu sekitar jam 10 malam, mereka bertiga dan seorang Purna Praja lain bermaksud main bilyard di Jatos yang terletak di lantai 3. Di dalam lift mereka bertemu dengan 5 orang pemuda yang belakangan diketahui adalah Wendi dan ke 4 kawannya.

Karena tercium bau alkohol, Gondo pun berasumsi para pemuda itu adalah preman. Dan berupaya menjauhkan teman perempuannya dari para pemuda tersebut. Kebetulan, Wendi berada persis di belakang Gondo.

Pengeroyokan yang dilakukan Wendi dan kawan-kawannya baru berhenti setelah Irman dan Megawati berteriak minta tolong saat pintu lift terbuka. Namun apa yang disampaikan alumnus IPDN itu berbeda dengan kesaksian kedua teman korban Hardik dan Iwan yang juga ada dalam lift tersebut. Menurut mereka, tidak ada pengeroyokan. Yang terjadi adalah perkelahian satu lawan satu antara Wendi dan Gondo.

Soal sundutan rokok di tengkuk Gondo, di mata Iwan dan Hardik, Wendi melakukannya tanpa sengaja. Mengingat saat itu lift penuh sesak dengan muatan 10 orang. Orang-orang yang keluar dari tempat bilyard ternyata banyak diantaranya Praja IPDN.

Melihat kakak kelas mereka berkelahi, para praja itupun langsung mengeroyok Wendi dan teman-temannya. Dan apa yang terjadi selanjutnya, baik Gondo dan dua kawannya serta teman-teman Wendi mengaku tidak ada yang tahu Gondo, Irma dan Megawati menenangkan diri didalam ruang bilyard. Sementara Hardik dan Iwan lari menyelamatkan diri.

Barulah usai pemukulan, diantar Iwan dan teman-temannya serta seorang satpam, Wendi pulang dibonceng naik motor dalam kondisi setengah sadar. Tak disangka, pemuda itu tewas ke esokan harinya.

Bagi keluarganya, Wendi bukan hanya pemuda baik dan bertanggungjawab. Ia juga tulang punggung keluarga. Penyesalan akan nasib tragis yang dialami pemuda itu akibat kesalahpahaman mungkin sulit terobati. Disisi lain, polisi sudah menetapkan para tersangkanya.

Jenazah Wendi dimakamkan tidak jauh dari tempat tinggalnya di Desa Cikeruh, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Kepergian anak kedua dari 6 bersaudara itu diantar ratusan warga. Namun tak terlihat ada perwakilan IPDN yang hadir saat pemakaman berlangsung.

Tunangan Wendi, Mimin Tarminah, tak kuasa menahan duka. Impian pernikahan yang rencananya akan berlangsung usai lebaran nanti pupus sudah.

Dalam usianya yang muda, almarhum Wendi pun sudah mampu membantu orangtuanya yang hanya bekerja sebagai petani. Biaya sekolah ke empat adiknya korban yang menanggung. Entah bagaimana sepeninggal Wendi nanti.

Tak lama setelah pemakaman, ratusan warga yang kebanyakan adalah tukan ojek, rekan kerja Wendi berunjuk rasa didepan pintu gerbang Kampus IPDN. Mereka menuntut IPDN agar bertanggungjawab atas kematian rekan mereka. Tak hanya itu, mereka pun menuntut IPDN dibubarkan.

Demonstrasi tersebut berlangsung hingga sore hari. Para pengunjuk rasa tetap ingin bertemu dengan rektor menyampaikan tuntutan mereka. Akhirnya sekitar jam 4 sore, Pelaksana Tugas Rektor IPDN Johanis Kaloh menemui para pengunjuk rasa.

Johanis sendiri keberatan kalau kejadian yang menimpa Wendi itu dibebankan kepada IPDN. Karena peristiwa itu sendiri terjadi di luar kampus sehingga tidak ada sangkut pautnya dengan sistem pendidikan di IPDN.

Akhirnya Senin malam sekitar pukul 22.00 WIB, polisi menetapkan 5 orang Wasana Praja atau Praja Tingkat IV IPDN sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan yang mengakibatkan Wendi tewas itu.

Kelima Wasana Praja itu sudah mengakui semua perbuatannya, status tersangka merekapun didukung oleh saksi-saksi dan barang bukti yang sudah diamankan penyidik untuk proses lebih lanjut.

Hidup bersosialisasi memang butuh toleransi tinggi. Jika emosi dikedepankan, maka yang terjadi niscaya bencana adanya. Seperti nasib tragis yang menimpa Wendi. Mungkin Wendi memang berbuat salah dengan sundutan rokoknya. Namun bukan berarti ia lantas patut dianiaya sedemikian rupa hingga menyebabkan kematiannya. (Arni Gusmiarni/Sup)

Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :