Hukum dan Kriminal
6-Aug-2007 15:01:36 WIB
JEJAK KASUS
Mayat Siapa di Gunung Sampah ?



Reporter,Cameraman : Agus Hermanto
Tayang : Senin, 6 Agustus 2007, Pukul 12:30 WIB

Dua bulan sudah berlalu sejak para pemulung sampah di Kota Semarang, Jawa Tengah, menemukan sejumlah potongan tubuh mayat manusia, korban pembunuhan. Hasil otopsi pun sudah selesai.

Namun ternyata, tak mudah mengungkap kasus pembunuhan ini. Jangankan menduga siapa pelakunya, hingga kini, identitas korban yang berjenis kelamin perempuan itu pun belum jelas. Mengapa demikian ?, Jejak Kasus menghadirkannya untuk Anda.

Segmen 1

Potongan mayat manusia itu pertama kali ditemukan seorang pemulung di lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang Barat, Selasa dini hari, tanggal 5 Juni lalu.

Yang pertama kali ditemukan adalah dua tangan dan satu kaki, terbungkus dalam sebuah tas plastik warna hitam. Tak berapa lama kemudian, para pemulung yang tinggal di lokasi TPA itu, menemukan potongan kepala mayat, lagi-lagi terbungkus tas plastik. Tak jauh dari tempat pertama potongan tubuh mayat ditemukan.

Tak ditemukan ceceran darah di tas plastik pembungkus potongan mayat tersebut. Meski sulit dikenali karena kondisinya telah rusak, polisi memastikan mayat terpotong-potong itu, berjenis kelamin wanita.

Keempat potongan tubuh manusia itu dibawa ke Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang, untuk keperluan otopsi dan identifikasi. Sementara potongan tubuh lain dari mayat tersebut yang diyakini juga ada di gundukan sampah itu terus dicari.

Beberapa jam setelah ditemukan bagian kepala, 2 tangan, serta 1 kaki mayat, polisi yang dibantu pemulung melakukan penyisiran, kembali menemukan potongan mayat. Kali ini bagian badannya. Sama seperti bagian badan yang lain, selain sudah rusak, kondisinya mirip daging yang telah direbus.

Diduga kuat, wanita malang tersebut mengalami kekerasan hingga menemui ajal sebelum akhirnya dimutilasi.

Pasalnya, di beberapa bagian tubuhnya ditemukan bekas luka yang menunjukkan adanya penganiayaan. Selain itu juga ditemukan sejumlah barang yang diduga milik korban, antara lain tas dan sebuah ikat pinggang.

Dalam tas plastik pembungkus mayat, polisi juga menemukan sejumlah barang yang diduga milik mayat terpotong-potong itu. Sayangnya, barang-barang tersebut tidak memberikan informasi apapun soal identitas korban. Sementara itu sejumlah orang yang kehilangan anggota keluarga mereka, berdatangan untuk melakukan identifikasi mayat.

Segmen 2
 
Seluruh potongan tubuh mayat tersebut dikirim polisi ke kamar mayat Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang, Jawa Tengah, untuk diotopsi.

Dari hasil otopsi diperkirakan usia korban antara 38 hingga 40 tahun. Namun dugaan daging tubuh korban mutilasi tersebut sengaja direbus sebelum dibuang, disanggah tim dokter. Kerusakan pada potongan mayat, kemungkinan terjadi bukan karena faktor direbus, melainkan karena proses alami akibat pembusukan.

Yang juga mengejutkan, rahim mayat wanita tersebut telah hilang, atau sengaja dihilangkan oleh pelakunya. Bekas irisan potongan tibuh korban, termasuk irisan untuk mengangkat rahim, terlihat sangat rapi, seperti dilakukan oleh orang yang berpengalaman.

Mayat itu sendiri diperkirakan sudah meninggal sekitar 3 hingga 4 hari sebelum potongan tubuhnya ditemukan. Sayang, pembusukan yang terjadi membuat identifikasi terhadap mayat tersebut sulit dilakukan.

Di sisi lain, polisi membuka kesempatan bagi warga yang kehilangan anggota keluarga mereka, untuk mengidentifikasi mayat. Diantaranya Mujiati, warga Pawiyatan Luhur, Semarang, Jawa Tengah. Keponakannya bernama Ayu Wulandari yang berusia 21 tahun, menghilang sejak bulan April 2007 lalu.

Ayu sempat pamit mencari kerja ke Yogyakarta. Namun sejak itu tak ada kabar apapun darinya.Tapi setelah polisi menunjukkan foto korban mutilasi, Mujiati tak yakin, itu adalah potongan tubuh keponakannya yang hilang tersebut. Demikian juga ketika ditunjukkan sejumlah barang seperti tas dan ikat pinggang, yang diduga milik korban mutilasi.

Selain itu juga sempat diduga mayat tersebut adalah mayat seorang wanita guru les bahasa Inggris yang tidak diketahui keberadaannya, seiring dengan kasus hukum yang melilitnya. Namun lagi-lagi, hal itu diragukan.

Polisi sendiri terus meneliti segala kemungkinan, termasuk memeriksa kembali tempat ditemukannya potongan mayat itu di TPA Jatibarang. Namun ternyata tak banyak petunjuk yang didapat.

Tampaknya sang pelaku beruntung, karena kantung plastik hitam tempat pembungkus mayat, dikira sampah biasa, hingga lolos terbawa sampai ke tempat pembuangan akhir tersebut.

Walaupun tak mengira penyelidikan kasus ini sedemikian lama, namun upaya mengungkapkannya terus dilakukan polisi. Rasa optimis atas penyelesaian kasus ini mulai terasa ketika setelah hampir satu bulan berlalu, hasil DNA menyatakan mayat korban mutilasi tersebut punya kemiripan dengan Sofariyanti alias Sofa, salah satu wanita yang dilaporkan hilang oleh keluarganya.

Pihak keluarga Sofa sudah sekitar 2 tahun tidak pernah memperoleh kabar ataupun tahu keberadaan perempuan yang sudah menikah dua kali itu. Semua ciri fisik yang dimiliki korban, cocok dengan profil Sofa. Hal itu membawa polisi memeriksa mantan suami dan juga suami Sofa.

Belakangan, identitas korban mutilasi itu diragukan sebagai Sofa Riyanti. Apa yang menyebabkan keraguan tersebut ?. Dan siapakah Sofa? Inilah bagian akhir dari Jejak Kasus.

Sekitar tiga minggu setelah ditemukannya mayat wanita terpotong enam tak dikenal di TPA Jatibarang Semarang, Polda Jawa Tengah mengumumkan hasil otopsi dan tes DNA sang mayat.

Korban bergolongan darah O tersebut memiliki gigi yang terawat, dan juga tidak ada penambalan. Dari hasil otopsi diketahui, rahang mulut bagian bawah sang mayat lebih maju dibandingkan rahang atas.

Polisi juga menyebarkan foto struktur gigi wanita korban mutilasi tersebut, dengan harapan masyarakat luas bisa mengenali jati diri korban.

Pencocokan dna mayat korban mutilasi terhadap 9 orang perempuan yang dilaporkan hilang di wilayah Semarang, menemukan hasil pada awal Juli 2007. Diduga kuat, mayat tersebut, adalah Sofariyanti alias Sofa.

Wanita berusia 39 tahun yang bekerja sebagai pemijat di sebuh hotel di Semarang tersebut, merupakan warga kelurahan Wonoyoso, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Semarang. Setelah melakukan uji DNA keluarga, ternyata hasilnya positif, sama dengan hasil tes DNA mayat.

Musriyanti, ibu Sofa, yang ditemui Tim Jejak Kasus menuturkan, putrinya itu hilang sejak dua tahun lalu, tanpa pamit pada keluarga. Sofa yang bekerja sebagai pemijat itu diketahui hilang, saat menghadapi sidang gugatan cerai dengan Sumardi, suami keduanya.

Pihak panti pijat Matsuri, Hotel Plaza Semarang, membenarkan Sofa adalah wanita pemijat yang bekerja di tempat itu. Sofa yang dikenal sebagai salah satu primadona ini, bekerja sebagai pemijat sejak tahun 1999 lalu, dan beberapa kali keluar masuk kerja di panti pijat tersebut. Karena wajahnya yang cantik, dan supel dalam bergaul, Sofa punya banyak pelanggan, terutama dari kalangan menengah ke atas.

Sementara itu, setelah memeriksa secara lengkap keluarga Sofa, polisi juga menggeledah rumah Sumardi, mantan suami Sofa, di Desa Balongsari, Karangjati Kabupaten Semarang.

 Polisi bahkan sempat memasang police line, di depan lokasi rumah yang digeledah, untuk mendapatkan petunjuk apakah ada keterkaitan antara mutilasi tersebut dengan persoalan rumah tangga Sofa.

Pemeriksaan polisi juga diarahkan pada Budiono, suami pertama Sofa yang kini bermukim di Desa Kembangarum, Mranggen Demak. Budiono sendiri mengaku tidak tahu menahu keberadaan mantan isteri yang sudah bercerai dengannya sekitar 10 tahun lalu.

Lelaki yang bekerja sebagai petani itu tidak yakin kalau korban mutilasi tersebut adalah mantan istrinya. Ia malah yakin, Sofa masih hidup.

Suami terakhir Sofa, Sumardi, juga tak luput dari pemeriksaan polisi. Sebelum menghilang, pernikahan Sofa dengan lelaki yang kini tinggal di Depok, Jawa Barat itu, diambang perceraian. Pasangan tersebut seringkali cekcok. Biasanya dipicu kecemburuan Sumardi atas pekerjaan Sofa sebagai pemijat yang punya banyak pelanggan pria. Seperti Budiono, Sumardi pun tak yakin Sofa sudah tiada. Malah menurutnya Sofa tengah bersama lelaki lain.

Dari hasil pemeriksaan terhadap Budiono maupun Sumardi, polisi tidak menemukan bukti mereka terlibat dalam kematian Sofa. Belakangan keluarga Sofa bahkan meragukan itu mayat Sofa. Hal ini seperti membawa penyelidikan kembali ke titik nol.

Dan hingga kini, walau polisi terus mengembangkan penyidikan, tak ada lagi perkembangan yang menunjukkan kemajuan dalam pengungkapan kasus ini. Sang mayat tetap jadi misteri, apalagi tersangkanya.(Arni Gusmiarni/Ijs)

Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :