Hukum dan Kriminal
9-Aug-2007 14:12:52 WIB
JEJAK KASUS
Pembunuhan Diatas Bukit



Reporter/Cameraman : Fauzi Heri
Penulis Naskah : Arni Gusmiarni
Tayang : Kamis, 9 Agustus 2007 Pukul 12.30 WIB

Segmen I

Kematian memang seringkali datang tak terduga. Kadang juga terjadi begitu mengenaskan. Seperti yang terjadi pada seorang gadis remaja di Lampung, yang tewas dibunuh seorang pemuda. Alasannya terasa sepele, sang pemuda marah mendengar ucapan korban. Namun sejumlah orang yang mengenal korban meragukan alasan tersebut.

Pembunuhan itu terjadi diareal perbukitan di kawasan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung. Korbannya, seorang siswi SMU yang masih berpakaian seragam pramuka. Ditemukan dalam kondisi mengenaskan, sekitar pukul 14.30 WIB. Lehernya nyaris putus digorok senjata tajam. Darah korban berceceran disekitar lokasi kejadian. Berdasarkan ceceran darah tersebut, diduga ia baru saja dibunuh.

Petugas Poltabes Bandar Lampung yang melakukan olah TKP menemukan tas berisi pakaian dan peralatan sekolah milik korban. Dari barang - barang korban itulah identitas sang mayat diketahui, yakni Ratna Luthfiana Ismail, siswi kelas XI IPS I SMP Negeri 3 Tanjung Karang.

Mayat gadis malang itu ditemukan pertama kali oleh kekasihnya yang merupakan teman satu sekolah. Mereka berdua memang sudah berjanji akan bertemu di kawasan pebukitan itu setelah sekolah usai.

Namun menurut sang pacar, ia sudah mengingatkan Ratna agar jangan pergi sendirian. Entah kenapa, gadis yang pada hari Sabtu itu sempat jadi pembawa acara dalam upacara rutin sekolah, malah berangkat sendirian ke kawasan yang memang sepi tersebut.

Selain pacar korban, polisi juga memeriksa sejumlah saksi lain. Yang jelas, polisi tidak menemukan adanya tindak perkosaan. Anting dan jam tangan yang dikenakannya masih ada, namun telepon genggamnya tidak ditemukan. Sekitar 36 jam kemudian polisi berhasil menangkap tersangka pelakunya. Ia adalah Suhemi, seorang pemuda yang pernah bekerja sebagai tukang jagal ternak.

Tersangka mengaku nekad menghabisi nyawa korban karena merasa tersinggung dengan ucapan kotor yang dilontarkan korban saat tersangka melarangnya berada sendirian di atas bukit tersebut.

Sebagai barang bukti, polisi berhasil mengamankan sebilah golok yang digunakan untuk menggorok leher korban. Sementara motif tersangka yang mengaku tersinggung, masih terus digali polisi.

Ternyata korban pernah bertemu dengan tersangka sekitar dua minggu sebelum kejadian. Apakah yang terjadi saat pertemuan tersebut ada hubungannya dengan peristiwa pembunuhan ?. Sejumlah teman korban juga tak percaya dengan pemicu alasan tersangka membunuh gadis remaja itu.

Segmen II

Tersangka mengaku gelap mata saat melaksanakan pembunuhan itu, didorong kemarahannya pada korban. Namun di sisi lain, terbukti dari pengakuannya, ia melakukan aksinya dengan darah dingin. Pengakuan tersangka dan juga jalannya pra rekonstruksi yang sempat memancing kemarahan sejumlah teman korban.

Begitu tersangka sudah tertangkap, polisi pun melakukan pra rekonstruksi untuk mendapat gambaran awal mengenai kasus pembunuhan itu. Pra rekontruksi diwarnai kegeraman teman - teman korban terhadap aksi kejam pelaku. Tersangka yang bekerja serabutan itu mengaku Sabtu siang pada hari kejadian tersebut bermaksud mencari bambu karena itulah ia membawa golok.

Dibukit, ia melihat Ratna sedang berdiri sendirian diatas sebuah batu besar. Tersangka pun menegur Ratna. Ratna sempat lari menyelamatkan diri sambil melempar batu pada tersangka, namun berhasil dikejar. Awalnya tersangka sempat memukul kepala Ratna dengan batang kayu.

Usai pra rekonstruksi, teman - teman korban nyaris tak bisa menahan emosi ketika tersangka hendak dibawa kembali ke kantor polisi. Dari keterangan pacar korban, yang juga diakui tersangka, ternyata sebelumnya korban pernah bertemu dengan tersangka, walau mereka tidak saling mengenal. Saat itu tersangka sempat melakukan pemerasan terhadap korban dan kekasihnya.

Diduga, melihat korban sendirian Sabtu siang pada hari kejadian itu, tersangka pun kembali melakukan tindak pemerasan. Namun karena korban melawan, terjadilah tindak pembunuhan. Usai membunuh, tersangka menuju gubuk seorang petani kenalannya bernama Marsim. Marsim yang dimintai keterangan sebagai saksi di kantor polisi itu mengaku tidak tahu menahu soal tindak kejahatan tersangka.

Tersangka sendiri mengakui, ia tahu gubuk Marsim itu memang sedang kosong. Karena itulah ia menuju ke sana, untuk membersihkan diri.

Dipakainya baju Marsim, sementara bajunya yang berlumuran darah ia buang ke kali. Untuk sementara, dugaan keterlibatan keluarga tersangka pada kasus pembunuhan sadis itu juga tengah diperiksa polisi, terkait telepon genggam korban yang dititipkan tersangka pada kakaknya.

Bukan tindakan sadisnya itu saja yang membuat banyak orang tercengang. Usai membunuh itu tersangka masih sempat pergi menyaksikan sebuah acara hajatan. Disisi lain, terkait motif pembunuhan, sejumlah teman korban menuduh tersangka berbohong.

Segmen III

Bukan hanya pihak keluarga yang merasakan duka mendalam akibat kematian korban yang begitu tragis itu. Teman - teman korban pun merasakan kesedihan kehilangan teman yang mereka kenal ramah dan religius itu. Mereka juga tak percaya dengan alasan tersangka membunuh Ratna.

Inilah tempat tinggal Ratna Lutfiana, siswi SMU yang dibunuh dengan kejam dikawasan perbukitan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung, Lampung. Kesedihan mendalam begitu lekat terasa pada orang tua Ratna. Bayangkan saja. Mereka sedang pergi ke luar kota saat kejadian. Ketika ditinggalkan, anak sulung mereka itu dalam keadaan yang baik - baik saja.

Siapa sangka, Ratna yang dikenal saleh dan penurut itu menemui kematian dengan cara yang amat sadis. Ratna yang tewas dalam usia 15 tahun tersebut, langsung dimakamkan pada Sabtu malam, beberapa jam setelah kematiannya. Polisi sendiri memang masih terus menyelidiki berbagai kemungkinan dalam kasus pembunuhan itu.

Terungkap juga kalau sebelumnya tersangka yang kerja serabutan itu sering bertindak meresahkan di kawasan bukit yang sering jadi tempat remaja berkumpul itu.

Tersangka mengaku tindakan sadisnya itu dilakukannya tanpa berpikir. Spontan mendengar reaksi korban atas tegurannya. Namun teman - teman korban yang mengenal gadis yang dipanggil Nana itu meragukan pengakuan tersangka.

Ratna yang mereka kenal taat beragama itu tak pernah berkata keras, apalagi kasar. mereka curiga, ada motif lain dari tersangka. Apa yang menimpa Ratna memang tak ada yang menduga.

Apalagi ia tewas ditempat yang sering dikunjungi kaum muda di sekitar kawasan perbukitan tersebut, yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari sekolah korban. Sungguh sebuah penyesalan yang terlambat. Nyawa sudah melayang, sang pemuda pun harus bertanggung jawab. (Arni Gusmiarni/Dv)

Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :