
Indahnya kisah kasih sepasang anak manusia baru teruji ketika masalah menghadang. Seperti yang dialami seorang janda muda di kawasan Brebes, Jawa Tengah. Ia dibunuh dengan keji, dalam keadaan hamil tua. Diduga, pelakunya adalah sang kekasih. Siapakah dia dan benarkah dugaan tersebut?. Jejak Kasus menghadirkannya untuk Anda.
Tanggal 24 Juli 2007, adalah hari ditemukannya mayat seorang wanita tanpa identitas, yang sedang hamil tua. Ia tewas dengan tubuh tertelungkup di sebuah hutan pinus, di Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah.
Mayat perempuan malang itu ditemukan pertama kali oleh Warto, seorang penderes getah pinus di hutan tersebut. Sebetulnya Warto sudah melihat korban sehari sebelumnya. Tapi karena hanya melihat dari jauh, Warto mengira, perempuan itu sedang menanti kekasihnya atau ingin menyendiri. Karenanya ia pun tak mau mengganggu.
Penemuan mayat itu kemudian dilaporkan ke perangkat desa setempat. Tak lama polisi pun datang ke tempat kejadian. Tim medis yang memeriksa korban menemukan bekas luka akibat pukulan benda tumpul di mulut dan kepala bagian belakang. Sementara tulang leher wanita yang sedang hamil tua itu patah.
Polisi menduga, sebelum tewas, korban terlebih dulu dipukul di bagian belakang dan mulut. Belum puas sampai disitu, pelaku kemudian mematahkan leher korban hingga tewas. Dari pemeriksaan tim medis diperkirakan korban sudah tewas sehari sebelumnya.
Sementara warga yang mendatangi lokasi kejadian, juga tak ada yang mengenal wanita berkulit kuning itu.
Hanya saja, sejumlah warga menuturkan, malam sebelum penemuan mayat, berlangsung acara hiburan musik dangdut di lapangan Desa Winduaji. Sore harinya warga juga sempat melihat sepasang wanita dan pria menuju arah hutan tempat ditemukannnya mayat.
Kawasan hutan pinus milik KBPH Pekalongan Barat yang berbatasan dengan Kabupaten Banyumas tersebut, selama ini memang sering dijadikan tempat wisata. Mereka yang datang ke lokasi itu biasanya berpasang pasangan, sehingga warga setempat tidak curiga jika melihat sepasang muda mudi di areal hutan tersebut. Karena itu juga untuk sementara polisi menduga, pelaku pembunuhan adalah orang dekat korban.
Berkat penayangan di Indosiar, identitas korban pun terungkap. Korban dikenali keluarganya sebagai Amini, seorang janda yang tengah menjalin kasih dengan seorang pemuda lajang. Sang pemuda pun ditetapkan sebagai pembunuh perempuan beranak satu tersebut. Motifnya, ternyata memang berhubungan dengan status kehamilan korban.
Korban pembunuhan di hutan pinus, di Desa Winduaji, Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah, akhirnya dikenali sebagai Amini. Seorang janda beranak satu, warga Desa Krajan, Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah.
Amini terakhir kali diketahui pergi dengan sang pacar. Setelah kepergian itu, korban tak pernah kembali dan ditemukan tewas di hutan pinus Desa Winduaji Paguyangan Brebes.
Salah seorang kerabat korban beberapa kali pingsan, menerima kenyataan tragisnya kematian Amini. Kepergian Amini untuk selamanya itu memang mengejutkan keluarga dan warga Desa Krajan, Pekuncen.
Putra tunggal korban yang masih berusia tiga tahun, seperti tak menyadari tragedi yang menimpa ibunya, yang pasti akan mengubah masa depannya. Sementara itu Gunawan yang disebut-sebut pihak keluarga dan teman korban Amini sebagai orang yang pergi bersama Amini, langsung dicari pihak kepolisian.
Inilah Gunawan. Lelaki tersangka pembunuh Amini tersebut adalah orang yang dikenali keluarga dan teman-teman Amini sebagai orang yang tengah dekat dengan Amini.
Gunawan yang masih bujangan itu mengaku kenal korban sejak 7 bulan lalu, namun baru dua bulan terakhir, mereka semakin dekat, yang berujung pada hubungan suami istri. Selama menjalin hubungan asmara, tersangka dan korban berusaha merahasiakannya pada pihak luar. Setelah sekitar empat kali berhubungan intim, Amini memberitahu tersangka, kalau ia hamil.
Merasa terdesak dengan tuntutan Amini yang minta dinikahi, timbul pikiran tersangka untuk menghabisi nyawa kekasihnya itu. Cinta sudah tak ada lagi untuk Amini. Tersangka kemudian menyiapkan minuman penyegar yang dicampur racun apotas. Lalu ia menyuruh Amini untuk meminumnya.
Beberapa saat setelah menenggak minuman yang diberi tersangka, korban langsung jatuh pingsan dan mulutnya berbuih. Melihat korban terjatuh, tersangka bukannya iba, tapi justru kian sadis. Wajah perempuan yang pernah memadu cinta dengannya itu ia benamkan ke rumput, kemudian lehernya dipatahkan.
Dari pemeriksaan polisi, pelaku pembunuh itu hanya tersangka Gunawan seorang. Tersangka yang sempat tidak mengakui perbuatan jahatnya, tak bisa mengelak lagi, ketika orang tua korban menyebut, terakhir kali korban pergi bersamanya ke tempat mayat Amini kemudian ditemukan.
Tersangka yang masih bujangan berupaya merahasiakan hubungan asmaranya dengan korban yang sudah memiliki anak. Namun toh upayanya itu sia-sia, setidaknya bagi orang-orang dekat korban. Apalagi kemudian korban ternyata meninggalkan sepucuk surat yang menguatkan motif perbuatan tersangka.
Seperti habis manis sepah dibuang. Begitulah nasib Amini. Kalau bukan tersangka, entah siapa lelaki yang menghamilinya. Yang jelas, tak ada yang mau bertanggung jawab.
Di sisi lain, hubungan cinta antara korban dengan tersangka yang tinggal berbeda desa itu berlangsung secara sembunyi-sembunyi. Demi menjaga perasaan Gunawan, Juariah dan orang tua Amini pun selalu berusaha agar warga sekitar tidak tahu bila Amini dan Gunawan akan bertemu. Hubungan keduanya makin dekat sehingga apa yang dilakukan mereka selama ini sudah layaknya suami istri.
Amini yang dikenal tertutup itupun merahasiakan kehamilannya. Tapi karena khawatir perutnya makin membesar, Amini minta pertanggungjawaban pada Gunawan.
Pihak keluarga dan teman Amini memang tidak pernah menaruh curiga pada tersangka, yang bekerja sebagai supir pribadi pada tetangga Amini. Karena selama ini tersangka dikenal baik dan bertanggung jawab. Hanya saja, menurut Juariah, Amini sempat curiga.
Amini meninggalkan seorang anak bernama Rendy yang masih berusia tiga tahun. Bocah yang belum paham tragedi yang menimpa ibunya itu kini tinggal di rumah kecil berukuran tiga kali empat meter bersama nenek dan kakeknya.
Meski pihak keluarga tersangka mencoba berdamai, namun keluarga Amini tetap bersikukuh agar tersangka dihukum seberat-beratnya.
Apa yang dilakukan tersangka Gunawan memang sadis. Setelah kekasihnya disuruh minum jamu penggugur kandungan yang sebetulnya adalah racun apotas, Gunawan pun menganiaya perempuan yang tengah hamil 6 bulan itu.
Dari hasil otopsi, tidak ditemukan bukti korban tewas akibat keracunan. Polisi hanya menemukan sebuah botol yang berisi cairan berwarna hitam. Kematian Amini justru karena tulang lehernya dipatahkan tersangka.
Sungguh sebuah penyesalan yang terlambat. Kesenangan duniawi yang sempat ia alami bersama korban, membawanya ke sebuah konsekuensi. Yang sayangnya, tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Dan justru membawanya untuk memilih jalan pintas yang amat kelam.(Arni Gusmiarni/Ijs)