Hukum dan Kriminal
27-Aug-2007 15:26:53 WIB
JEJAK KASUS
Maafkan Kami, Anakku.....



Reporter/Penulis Naskah : Kuncoro Wijayanto
Juru Kamera : Kuncoro Wijayanto
Tayang : Senin, 27 Agustus 2007, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Batang - Setiap tindak kejahatan punya banyak alasan yang bahkan barangkali bisa dipahami setiap orang. Namun sayangnya, tetap tidak bisa dibenarkan. Seperti dalam Jejak Kasus kali ini, sepasang suami istri yang menjadi tersangka pembunuh putra kandung mereka sendiri. Semasa hidup, anak kandung mereka itu selalu membawa rasa takut bagi kehidupan pasangan suami istri tersebut.


Mistar dan istrinya Saripah, warga Desa Karang Tengah Subah, Batang, Jawa Tengah ini tak menyangka bakal menghuni sel tahanan Polres Batang di usia senja mereka. Keduanya ditangkap petugas pada akhir Juli lalu dengan tuduhan telah membunuh anak kandung mereka Waris.


Waris tewas akibat lehernya dijerat tali tambang saat sedang mabuk minuman keras. Perbuatan pasangan suami istri tersebut nyaris saja tak tercium polisi. Namun karena di leher korban terlihat ada seperti bekas jeratan, ada warga yang curiga dan melaporkan kecurigaan itu pada polisi.


Peristiwa itu bermula saat Waris pulang ke rumah pada tanggal 27 Juli 2007 sekitar jam 11 malam. Waris yang sedang mabuk mengedor pintu rumah orangtuanya. Saat tersangka Mistar membukakan pintu, Waris malah memukul ayahnya itu serta mengancam akan membunuh sang ayah.


Saripah berusaha melerai, namun Waris justru kian kalap. Hingga akhirnya Waris jatuh tersungkur di teras rumah. Mistar langsung mencekik leher putranya, sementara Saripah mengambil tali tambang yang kemudian ia jeratkan pada leher anaknya hingga Waris tak bernapas lagi.


Mengetahui Waris sudah tak bernyawa, keduanya langsung mengotong kedalam rumah dan menutupinya dengan kain selendang.


Ya, para tersangka mengaku awalnya tak berniat membunuh Waris, anak kedua mereka. Namun karena Waris terus mengancam akan membunuh mereka berdua, para tersangka pun panik. Selama ini Waris sering merongrong kedua orangtuanya dan akan mengamuk bila permintaannya tidak dipenuhi.


Hampir tiap hari, Waris minta uang mulai dari 50 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah. Selain itu, Waris juga beberapa kali minta sepeda motor. Tapi begitu belikan, motor itu selalu ia jual untuk mabuk-mabukan.


Demi menuruti permintaan anaknya, Saripah mengaku sudah kehilangan harta berupa ladang, hasil jerih payahnya selama 5 tahun menjadi TKI di Malaysia. Ayah Waris pun tak bisa berbuat banyak menghadapi ulah anaknya.


Lelah menghadapi ulah putra mereka, kedua tersangka pun bahu membahu menghabisi nyawa anak yang sudah mereka besarkan selama ini. Tak disangka, polisi ternyata sanggup mengendus tindak kejahatan mereka.


Tindak kejahatan pasangan suami istri yang menjadi tersangka pembunuh putra kandung mereka ini, awalnya tidak diketahui oleh warga. Mereka justru tahu ketika polisi datang ke desa mereka untuk menyelidiki kematian korban.


Desa Karang Tengah Subah, Batang, Jawa Tengah, inilah desa tempat tinggal para tersangka Mistar dan Saripah yang mengaku telah membunuh putra kandung mereka Waris.


Para tetangga mereka sendiri tidak menyadari tindak pembunuhan tersebut. Mereka percaya begitu saja dengan apa yang disampaikan kedua tersangka, kalau Waris meninggal akibat kebanyakan minum minuman keras. Untuk menghindari kecurigaan warga, kedua tersangka menutup jenazah korban dengan kain dan tidak memperkenankan para pelayat melihat jenazah korban.


Ketika tim liputan kami datang ke rumah suami istri Mistar dan Saripah, ada anak sulung mereka Ruswanti. Sejak kedua orangtuanya ditahan polisi, Ruswanti yang tinggal di luar kota itu untuk sementara menunggui rumah orangtuanya tersebut.


Menurut Ruswanti, adiknya Waris memang selalu bersikap kasar terhadap orangtua mereka. Seingatnya sikap tersebut mulai kelihatan ketika Waris memasuki usia remaja.


Nenek korban juga jadi saksi betapa cucunya itu sering mengamuk karena permintaannya tidak bisa dituruti para tersangka.


Selain merusak perabotan, Warispun kerap mengancam akan membakar rumah atau membunuh orangtua dan adik tunggalnya bila permintaannya tidak dituruti. Setidaknya sudah dua kali kaca jendela diganti akibat dilempar batu oleh korban.


Selama ini orangtua korban sudah berupaya sebisanya untuk memenuhi keinginan Waris yang merupakan anak lelaki pertama mereka. Dari mulai menjual sawah hingga ke hewan peliharaan mereka. Singkat kata, harta benda keluarga sudah habis diperas Waris.


Sikap korban yang kasar dan tempramental itu bukan hanya ditujukan kepada kedua orangtuanya. Kakak perempuannya Ruswanti dan adik lelakinya yang baru berusia 12 tahun pun tak luput dari sasaran.


Karena perilaku korban itu juga lah, mahligai pernikahannya dengan gadis tetangga desa kandas di tengah jalan. Mantan istri Waris yang kini berada di Jakarta minta bercerai akibat tidak tahan dengan perlakuan kasar Waris.


Apa yang dialami kedua tersangka memang bagai buah simalakama. Jika sikap korban didiamkan, maka keluarga mereka akan terus terancam. Namun jika dibungkam maka hasilnya mereka akan dipenjara, seperti yang saat ini mereka hadapi. Bagaimana polisi menyikapi hal ini ?


Kebanyakan warga Desa Karang Tengah Subah, Batang, Jawa Tengah, enggan berkomentar banyak soal tragedi keluarga tersebut. Berbeda dari pandangan keluarga, di mata para tetangga, Waris dikenal sebagai sosok pemuda yang tidak suka berbuat onar, meski dikenal sering mabuk - mabukan.


Di kampungnya, Waris bisa dikatakan tidak punya teman. Korban yang tidak tamat sekolah dasar itu lebih banyak berteman dengan orang luar desa. Hal ini disebabkan keengganan para pemuda di kampungnya berteman dengan Waris yang dikenal suka mabuk-mabukan. Meski demikian, Waris jarang berselisih dengan mereka.


Karena itulah mereka kaget ternyata Waris kerap memeras orangtuanya. Bagaimana pun kepergian Waris, putra kedua dari tiga bersaudara membawa kesedihan bagi kakak semata wayangnya Ruswanti. Apalagi yang menyebabkan kematiannya adalah ayah dan ibu kandung mereka.


Sang kakak pun tak pernah memahami kenapa adiknya itu bisa berperangai amat kasar terlebih pada orangtua mereka. Di sisi lain, walau tidak berterus terang mengenai penyebab kematian putra mereka, para tersangka mengaku tak punya maksud menyembunyikan perbuatan itu.


Artinya, kalau ketahuan, mereka tak akan mengingkari. Tapi kalau tidak ada yang tahu, pembunuhan itu mungkin akan jadi rahasia yang mereka bawa hingga liang kubur. Apa yang terjadi menurut para tersangka diluar kehendak mereka.

Kedua tersangka mengaku tidak tenang setelah peristiwa pembunuhan itu. Rasa sedih dan galau menghantui pikiran. Bagaimanapun durhakanya Waris, ia adalah darah daging mereka. Kakak korban yang juga anak sulung para tersangka berharap hukuman terhadap orangtuanya bisa diringankan mengingat latar belakang peristiwa tersebut.


Sayangnya, tak pernah terlintas sebelumnya dalam pikiran Mistar dan Saripah untuk melaporkan tindak pemerasan dan penganiayaan yang dilakukan Waris kepada polisi. Mungkin bila itu dilakukan kedua tersangka yang sudah masuk usia senja itu tak perlu menghabiskan sisa hidup mereka di balik jeruji penjara. (Arni Gusmiarni/Supri)


Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :