
***
Sungguh malang nasib bocah kecil ini. Tasya namanya. Umurnya belum lagi genap dua tahun. Tasya tewas dengan kepala menganga serta usus terburai setelah berkali-kali ditebas parang oleh ayah kandungnya, Maikel Sampouw. Peristiwa sadis itu terjadi di Desa Makalonsouw, Tondano Timur, Minahasa, Sulawesi Utara, pada Selasa, 22 Agustus lalu.
Menyaksikan jenazah Tasya yang seperti tertidur lelap itu kian mengundang kesedihan. Sang ibu hanya bisa terpekur melihat anak tunggalnya tiada akibat perbuatan sang suami.
Ironisnya, pembantaian itu sendiri terjadi di depan mata puluhan warga, termasuk ibu korban, tanpa bisa berbuat sesuatu untuk menyelamatkan si kecil Tasya. Mereka ketakutan melihat Maikel mengamuk sambil memegang parang. Ayah satu anak itu juga mengejar warga yang mencoba mendekat, sambil terus mengayunkan parang ke tubuh mungil bayinya yang telah tanpa daya.
Bukan hanya itu. Tubuh Tasya yang sudah tak bernyawa, juga berkali-kali diinjak sang ayah. Lalu bocah malang yang telah bersimbah darah itu dibopong Maikel menuju gereja yang letaknya hanya berkisar dua ratus meter dari rumahnya. Lelaki yang telah hilang akal itu mengatakan akan membaptis putri kecilnya.
Sambil menunggu kedatangan aparat kepolisian, warga pun lalu mengikat tangan Maikel yang sempat berusaha mencoba melakukan bunuh diri saat menyadari perbuatannya.
Menurut istri tersangka sekaligus ibu korban, beberapa hari sebelum pembantaian itu terjadi, suaminya sudah menunjukkan perilaku yang aneh. Bahkan tersangka sempat merobek-robek kitab suci miliknya, yang lalu dihanyutkan ke sebuah mata air.
Desa Makalonsouw, Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Disinilah peristiwa bak film horor itu terjadi. Karangan bunga tanda duka atas tewasnya Tasya Sampouw terpasang di sekeliling rumah keluarga. Termasuk di depan rumah, tempat sang ayah, Maikel, mengayunkan parang berkali-kali ke tubuh mungil bocah itu.
Duka pun masih tergurat pada wajah kakek dan nenek Tasya. Sementara Selvi, ibu Tasya yang juga istri Maikel, terlihat tegar menghadapi tragedi rumah tangganya. Walau sedih tak terkira, perempuan berusia 20 tahun itu mencoba memahami kenapa lelaki yang dicintainya sepenuh hati tega berbuat sadis pada darah dagingnya sendiri.
Menurut Selvie, perilaku aneh yang sering ditunjukkan suaminya mulai terlihat sejak pulang dari memetik cengkeh di Desa Motoling, salah datu desa di Kabupaten Minahasa. Perilaku aneh itu antara lain badannya gemetar kalau mendengar Selvi membaca ayat-ayat alkitab.
Maikel juga merobek-robek alkitab, yang lalu dihanyutkannya ke sungai, dan minta dibaptis ulang pada setiap orang yang lewat. Bahkan sempat mengatakan istrinya itu akan melahirkan Lucifer atau dewa para pemuja setan. Selvie yang mendengarnya heran, karena ia sama sekali tidak sedang hamil.
Sang nenek yang merupakan mertua tersangka itu sulit memendam kesedihannya atas kematian sang cucu. Apa yang terjadi memang di luar dugaan. Malam sebelum kejadian, Maikel sempat memaksa istrinya untuk dibaptis. Tersangka membawa Selvi berputar-putar ke pusat Kota Tondano, mencari gereja yang dirasanya tepat.
Selvi sendiri berpikir suaminya akan tenang bila diikuti kemauannya. Benar saja, Maikel memang sempat tenang dan kembali bersikap seperti biasa. Sehingga pihak keluarga menganggap, keadaan sudah kembali normal. Tak diduga, besok paginya terjadilah tragedi itu.
Kuasa kegelapan atau yang lebih dikenal sebagai kerasukan setan, demikianlah dugaan warga mengenai tingkah laku aneh Maikel yang berujung menjadikan buah hatinya sebagai kurban persembahan.
Maikel yang ditemui Tim Liputan Kami di rumah sakit jiwa, mengakui ia sadar dengan perbuatannya, membantai dan menginjak-injak tubuh putrinya. Namun menurutnya itu karena ada sesuatu di luar kendalinya, yang mengatur gerak-geriknya untuk melakukan hal mengerikan tersebut. Sesuatu yang disebut sebagai kuasa kegelapan.
***
Di Rumah Sakit Jiwa Ratumbuysang, Manado, Sulawesi Utara inilah tersangka Maikel Sampouw diperiksa kondisi kejiwaannya. Sosoknya terlihat tenang. Ketika diajak bicara pun tak tampak ada keganjilan pada ucapan lelaki berusia 26 tahun itu.
Tersangka selalu bersikukuh, walau ketika pembantaian terjadi, ia tahu itu adalah putrinya, ia tak sanggup mengendalikan diri. Tersangka membantah kalau dirinya pernah berguru ajaran atau aliran sesat, sehingga harus mengorbankan buah hatinya. Selama ini Maikel merasa ada sesuatu yang kerap mengendalikan organ tubuhnya, untuk berbuat di luar kemauannya.
Maikel juga mengaku, pernah mendengar bisikan yang membuatnya ketakutan. Bisikan itu mengatakan, ia akan punya anak yang merupakan perwujudan Lucifer, sebutan bagi raja segala setan.
Sementara itu Hance, ayah tersangka yang setia menemani, hanya bisa pasrah. Ia tak paham kenapa putra yang selama ini baik, tak pernah berulah dan juga amat sayang pada Tasya bisa berbuat demikan sadis. Seingatnya, walau dirinya dan ibu tersangka bercerai sejak tersangka berusia 3 tahun, Maikel tak pernah berulah. Kerja pun selalu semangat.
Maikel sendiri tidak yakin, kuasa kegelapan yang menurutnya ada pada dirinya sudah lenyap. Ia masih ketakutan, dan berharap ada yang bisa menyembuhkan pikiran jahatnya. Walau sejumlah pasal untuk menjerat tersangka sudah disiapkan, polisi sendiri hingga kini masih menunggu hasil pemeriksaan atas kejiwaan tersangka.
Sementara itu istri tersangka mengaku, walau masih mencintai suaminya, ia berharap sang suami mendapat hukuman sesuai aturan yang berlaku. Kengerian akibat perbuatan tersangka, memang sulit pupus dari ingatan. Makam Tasya yang berada di atas bukit, seperti jadi saksi bisu bagi kekejaman yang di luar jangkauan akal sehat itu.
Satu hal barangkali yang bisa dipetik dari peristiwa ini, jangan pernah remehkan tingkah laku tak biasa dari orang yang kita kenal. Konsultasikan ke ahli kejiwaan, atau berilah pengawasan lebih, agar peristiwa tragis seperti yang terjadi di Desa Makalonsouw, Minahasa, Sulawesi Utara ini tidak terulang lagi di manapun.(Arni Gusmiarni/Ijs)