
Coba lihat lima arca ini. Begitu artistik dan bernilai tinggi. Bagi penggemar benda-benda purbakala, arca-arca ini sanggup dihargai puluhan bahkan sampai ratusan juta rupiah. Tapi tunggu dulu, bagi yang awam pasti tak akan tahu, kelima arca koleksi Museum Radya Pustaka, Solo, Jawa Tengah ini palsu, yang memang dibuat mirip dengan aslinya, dan karena itulah kelima arca ini ada di kantor poltabes Surakarta, dijadikan barang bukti dalam upaya polisi mengungkap kasus pemalsuan benda-benda purbakala ini.
Terungkapnya pemalsuan arca-arca koleksi Museum Radya Pustaka Solo ini bermula ketika 9 November lalu, museum yang berdiri sejak tahun 1890 ini kedatangan tamu dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP 3) Jawa Tengah, yang datang untuk melakukan pendataan ulang benda-benda purbakala di tempat ini. Boleh jadi, pihak BP 3 sebelumnya telah mendengar kabar hilangnya beberapa benda purbakala koleksi museum.
Arca-arca purbakala berusia ratusan tahun peninggalan dinasty Syailendra ini, sehari-hari memang dipajang di serambi museum dan dipamerkan kepada setiap pengunjung. Di saat inilah, petugas BP 3 Jawa Tengah melihat ada kejanggalan pada bentuk dan bahan arca-arca yang dipajang. Tangan-tangan jahil telah menggantinya dengan yang palsu.
Hari itu BP 3 Jawa Tengah memastikan, sedikitnya lima arca telah dipalsukan, yakni Arca Agastya, Durga Mahesa, Sura Madini, Mahesa Suramarhini, Mahakala dan arca Siwa Mahadewi. Kepala Museum Radya Pustaka, Kanjeng Raden Haryo Hadi Darmodipura mengaku tidak tahu, beberapa arca di museumnya telah Raib dan diganti dengan yang palsu.
Menurut Dwi, kasus ini terus mereka kembangkan, ada beberapa saksi yang telah diperiksa, terutama dari internal museum. Aparat Kepolisian Kota Besar Solo, ternyata benar-benar bekerja cepat. Hanya dalam hitungan hari, mereka sudah langsung bisa mendapatkan lagi lima arca yang asli. Cukup mengejutkan, kelima Arca ditemukan di kediaman Hasyim Djojodikusumo di Jalan Bangka, kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Menurut Kasat Reskrim Poltabes Solo, terungkapnya pemegang arca asli ini, setelah mereka mengintrogasi empat saksi yang kemudian mereka tetapkan sebagai tersangka, Kanjeng Raden Haryo Hadi Darmodipura sebagai kepala museum beserta dua orang kepercayaannya, Jarwadi dan Gatot, serta seorang kolektor lokal Bernama heru suryanto. Dari mereka pula nama Hasyim Joyohadikusumo dan kediamannya ini diketahui.
Terungkapnya kasus pencurian lima arca, membuat polisi mengambil langkah mengamankan sementara Museum Radya Pustaka Solo. Adapun pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, BP 3 Jawa Tengah, telah pula melakukan pendataan ulang semua koleksi benda purbakala.
Di antara yang berada di luar, yakni berada di gedung wayang orang Sriwedari, Solo, Jawa Tengah. Arca-arca ini merupakan peninggalan Dinasty syailendra Sanjaya di abad ke-9, yang diberikan sebagai hadiah kepada Paku Buwono X, yang kemudian menjadi benda koleksi museum purbakala.
Rabu 5 Desember lalu, BP 3 Jawa Tengah kembali mendatangi Mapoltabes Solo, menyampaikan hasil pendataan ulang atas semua benda purbakala koleksi Museum Radya Pustaka solo. Kepala BP 3 Jawa Tengah, Tri Hatmaji mengatakan, hasil pendataan ulang yang mereka lakukan Tak hanya arca yang hilang, tapi juga koleksi naskah berupa manuskrip. Dari sekitar 377 naskah yang menjadi koleksi, 24 naskah diantaranya sudah hilang. Terdapat pula 157 naskah bertulis huruf Jawa dan Latin, belum dilakukan pengecekan asli tidaknya tulisan didalamnya.
Di Poltabes Surakarta, Kepala Museum Radya Pustaka Hadi Darmodipuro yang awalnya menyangkal, akhirnya mengakui keterlibatannya dalam pencurian kelima benda purbakala tersebut. Menurutnya, hal itu semata karena ia tergiur dengan uang jutaan rupiah yang diterimanya. Hadi Darmodipuro, sebagaimana diungkapkan Kasat Reskrim Poltabes Solo, AKP Syarif Rakhman, adalah pihak yang paling berperan membuat duplikasi kelima arca. Duplikasi dilakukan di Muntilan antara Juli sampai September 2006, untuk kemudian setelah oleh tersangka Heru, kelima arca asli dihargai bervariasi.
Untuk Arca Durga Mahesa Suramardhini bertangan delapan dihargai 200 juta rupiah, arca Ciwa dihargai 35 juta rupiah, arca Agastya dihargai 90 juta, arca Mahakala dihargai 100 juta. Diperoleh informasi, tersangka heru kemudian menjualnya lagi kepada Hugo Kreijger, seorang kolektor benda-benda purbakala asal Belanda, dengan harga berkali-kali lipat.
Untuk arca Durga Mahesa Duramardhini bertangan delapan misalnya penjualan berjalan lancar, karena Heru melengkapi arca-arca tersebut dengan surat yang terkesan authentik. Belakangan, surat-surat arca tersebut dibantah pihak yang tertera menandatanganinya. Mengacu keterangan pihak-pihak terkait ini, dua nama, Hugo Kreijger dan Hasyim Djojohadikusumo memang menjadi tokoh penting dalam pengungkapan kasus ini. Karena itu beberapa setelahnya, Hasyim pun ikut dipanggil dan menjalani pemeriksaan.
Kepada wartawan, usai menjalani pemeriksaan, Hasyim dalam pernyataannya yang dibacakan Fadli Zon, membantah pihaknya telah melakukan pencurian kelima arca tersebut. Kelima arca itu memang dibeli dari Hugo Kreijger untuk maksud mengembalikannya ke Indonesia.
Entah mana dan siapa yang benar, pihak Kepolisian Solo berjanji akan terus pengembangkan kasus ini, sampai masalahnya benar-benar terungkap. Satu hal yang juga terus diusut polisi, bukan tidak mungkin tak hanya lima arca yang dicuri tapi juga ada bahkan banyak benda purbakala lain.
Membicarakan arca, patung atau karya seni pahat lainnya di tanah air, tak bisa lepas dari kehidupan masyarakat magelang dan sekitarnya, apalagi jika anda pergi ke daerah Muntilan, akan banyak ditemui sentra-sentra kerajinan pembuatan patung. Salah satunya adalah tempat pembuatan patung milik Kudi ini.
Kudi prihatin, saat ditemui beberapa hari lalu, menyatakan sedang Resah, namanya ikut terseret dalam kasus pencurian lima arca koleksi Museum Radya Pustaka solo. Bisa dipahami, karena kelima arca palsu yang menjadi duplikat lima arca yang hilang, adalah hasil karyanya. Menurut Kudi, pembuatan duplikat arca itu atas pesanan seseorang yang datang setahun yang lalu. Menurut Udi, saat pemesan datang, ia tak menaruh curiga apa-apa, layaknya pemesan lain yang biasa datang padanya.
Hasyim, lewat Fadli Zon, orang dekatnya, mengaku tidak tahu menahu dengan duplikasi kelima arca itu. Hasyim menurut Fadli Zon, murni membeli kelima arca asli dari hugo saat berada di belanda, setelah Meneliti authentifikasi surat-suratnya, itupun dengan maksud mengembalikannya ke tanah air.
Atas dasar itu Hasyim, menurut Fadli Zon, sangat mendukung langkah polisi untuk mendatangkan Hugo Kreijger, karena merekapun merasa telah ditipu. Tapi lepas dari masalah itu, kasus hilangnya benda-benda purbakala, memang diduga banyak terjadi di tanah. Dua pekan stelah hilangnya lima arca, kasus hilangnya benda purbakala juga terjadi di Sangiran.
Hal sama juga dialami pengelola situs sangiran, yang terletak di Kabupaten Sragen Jawa Tengah, walau dalam bentuk dan modus berbeda. Masyarakat setempat, tidak banyak melaporkan Temuan-temuan benda purbakala dan menjualnya untuk kenpentingan mereka sendiri.
Kasus pencurian benda-benda purbakala diduga masih banyak terjadi, dan sampai kini masih menjadi pekerjaan rumah pihak Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Satu hal yang masih jadi kendala, kesadaran masyarakat untuk ikut melestarikan aset sejarah bangsa.
Benda purbakala, memang bernilai tinggi, tak hanya bentuknya yang berseni tinggi tapi juga kandungan sejarahnya. Ironisnya, kekayaan dan tinggi nilainya banyak yang tahu. Maka tak heran, banyak Tangan-tangan jahil yang memanfaatkan situasi ini, terutam munculnya nama Hasyim dalam kasus hilangnya lima arca purbakala di Museum Radya Pustaka Solo ini, tentu saja mengagetkan banyak kalangan.
Tak banyak yang tahu, sejak kapan putera bengawan Ekonomi Sumitro Hadikusumo itu berkecimpung dengan benda-benda purbakala. Karena seperti dikatakan orang dekatnya, Fadli Zon, aktifitas Hasyim di dunia ini memang tidak pernah terpublikasikan, termasuk rencana keluarga mereka mendirikan satu museum benda-benda bersejarah.
Tapi lepas dari itu, kejadian ini hendaknya membuka mata kita, bahwa sebagai bangsa kita memang kurang menjaga aset dan kekayaan sejarah dan budaya yang kita miiliki, termasuk benda-benda purbakala yang ironisnya, bagi sejumlah kalangan di luar negeri, justru merupakan benda sangat berharga dan menggiurkan, termasuk dari segi ekonomis.(Ijs)