
indosiar.com, Jakarta - Narkoba. Dengan segala bentuk dan jenisnya, telah merusak kehidupan kita warga masyarakat. Tadi sengaja kami hadirkan, gambar salah satu hasil liputan kami, drama penangkapan pengedar narkoba ditangkap aparat kepolisian, yang boleh jadi andapun pernah melihat dan melibatkan orang dekat sekitar kita.
Narkoba, daya rusaknya benar-benar telah merasuk sampai ke urat nadi kehidupan kita, sampai ke lapis bawah. Banyak saudara-saudara kita, yang karena alasan ekonomi memilih bisnis ini, menjadi pengedar demi alasan perut. Padahal pilihan itu sangat salah dan beresiko.
Akhir Desember 2007 lalu, aparat Kepolisian Unit Dua Narkoba Mabes Polri, menggrebeg tempat persembunyian seorang pengedar narkoba, yang telah lama jadi incaran, di tempat kostnya di Gang Mandor Enam-Lautze Jakarta Pusat.
Di sini polisi menemukan sejumlah alat bukti berupa tiga buah alat hisap sabu atau bong, timbangan elektronik dan bungkusan plastik yang diduga digunakannya untuk membungkus sabu siap dijual. Menurut Kanit DuaNarkoba Bareskrim Mabes Polri, Komisaris Besar Siswandi, hampir dua bulan pihaknya terus mengikuti jejak laki-laki yang diduga terkait jaringan besar peredaran narkoba di sejumlah kota besar Indonesia akhir-akhir ini.
Ya, penggerebegan itu menjadi bagian dari langkah aparat kepolisian, menggulung habis seluruh jaringan narkoba berskala internasional, yang kini makin mengepakkan sayapnya dengan menjadikan Indonesia sebagai target pasar untuk barang terlarang mereka. Satu bulan sebelumnya, di salah satu kamar di apartemen Taman Anggrek Jakarta Barat, polisi telah pula meringkus dua anggota jaringan pengedar narkoba berkebangsaan Malaysia.
Kedua tersangka, masing-masing Lim Piek Kong alias Monas, 47 tahun, dan Thio Bokan alias Johan, 60 tahun, adalah bagian dari jaringan yang jejaknya terus diendus aparat.
Dari sini kasusnya berkembang hingga menyeret rocker gaek Ahmad Albar, yang satu hari berselang langsung diringkus di kediamannya.
Tertangkapnya Akhmad Albar, artis-artis lain dan terjerumusnya kembali Roy Marten dalam pemakaian narkoba, boleh jadi hanya petunjuk kecil, kekalahan bangsa kita memerangi narkoba di masyarakat. Narkoba, seperti halnya korupsi, sudah begitu masuk merasuk dan merusak sendi-sendi kehidupan kita sebagai bangsa. Karena di luar mereka yang terkenal, korban terbesar narkoba sesungguhnya ada di lapis bawah, di kalangan masyarakat biasa.
Bagi masyarakat perkotaan, sudah terlalu sering disuguhkan drama penangkapan para pengedar dan pemakai narkoba oleh aparat kepolisian, dan kebanyakan dari mereka, dari kalangan kelas bawah.
Segmen 2
Ada beberapa faktor, mengapa narkoba begitu mudah masuk dalam kehidupan masyarakat kelas bawah. Selain harganya dibuat murah dan terjangkau, menjadi penjualnya tak memerlukan tetek bengek persyaratan, layaknya mencari pekerjaan di kantor-kantor. Hasilnyapun, cepat dan tak terhingga. Padahal, resiko sangat besar dan lambat atau cepat pasti tertangkap.
Dalam catatan kami, tahun 2002, adalah tahun di mana banyak sekali kasus penangkapan para pemakai dan pengedar narkoba, termasuk ganja, di Jakarta. Karena di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, peredaran ganja di kota-kota besar terbilang besar dan meresahkan masyarakat, hingga aparat kepolisian tanpa henti melakukan penangkapan.
Biasanya tak sulit buat polisi menggulung jaringan peredaran kelas bawah ini, karena satu sama lain sudah saling kenal.
Narkoba, apapapun jenisnya, sebenarnya berharga mahal, tapi para pengedar membuatnya murah dan terjangkau. Ada banyak jenis paket yang dikenal di kalangan pengguna, dan paling populer tentu saja pahe, paket hemat. Untuk jenis putaw misalnya, paket yang beratnya di bawah 0,1 gram ini berharga 20 ribu rupiah, bahkan kadang dipecah menjadi paket 10 ribu rupiah. Di atasnya ada paket A,B dan C, lalu ada lagi paket gocip, plesetan dari gocap yang dengan berat 0,1 gram seharga 50 ribu.
Paket hemat, memang paling banyak diperjualbelikan, dan konon penjualnya tersebar di pusat-pusat keramaian, sehingga polisi tak boleh kalah cerdik dengan para pelakunya. Dari saling intip sampai penyamaran sebagai calon pembeli, kadang mereka lakukan.
Memiliki seperti halnya jenis narkoba lain, ganjapun peredarannya di masyarakat sangat mengkhawatirkan. Aparat kepolisian siang-malam dibuat sibuk memberantas, dan adu cekatan dengan para pelakunya. Untuk sekali aksi penangkapan, hasil pengembangan bisa membuat petugas menggulung kawanan komplotannya.
Berhasil mendapatkan satu tersangka, bagi polisi, seperti membuka jalan menggulung anggota komplotan yang lain. Narkoba, memang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat kita. Maka tak heran, banyak yang menjadikannya sumber nafkah. Luasnya pasar dan besaranya penghasilan yang bisa didapatkan, membuat banyak yang tergiur. Resiko tertangkap seperti tak dihiraukan, sampai akhirnya polisi datang dan meringkus.
Segmen 3
Peredaran narkoba, sudah begitu mengkhawatirkan, dan sangat sulit diberantas. Bahkan, penjara, yang seyogyanya menjadi tempat penjeraan para pelakunya, juga sudah tidak steril lagi. Alih-alih membuat jera, di banyak penjara, para pelaku justru seperti menemukan komunitasnya. Inilah fakta, mengapa membersihkan bangsa ini dari narkoba sangat sulit dilakukan.
Kampung Bali. Satu kampung di Tanah Aang Jakarta Pusat. Menyebut nama kampung ini, sebagian warga Jakarta mungkin langsung terbayang narkoba. Ya, kampung ini begitu identik dengan narkoba, karena banyaknya warga yang menjadi pemakai. Seperti dikatakan Wahyudi, Sekretaris RW, setempat, di tahun 1998 hingga tahun 2000, hampir setiap bulan ada saja warga yang tewas karenanya.
Di kampung ini, banyak orang tua dibuat pusing tujuh keliling, melihat anak-anak mereka terlibat pemakaian narkoba, bahkan beberapa diantaranya tewas karena tak lagi bisa dikontrol. Misbah Mur salah satunya.
Laki-laki ini mengaku sang anak mulai mengkonsumsi narkoba saat duduk di kelas 3 SMP. Anaknya bahkan pernah sampai menjadi pengedar, untuk membiayai narkoba yang ia konsumsi.
Adalah Badan Narkotika Nasional (BNN), yang kemudian melihat perkembangan di Kampung Bali sebagai sesuatu yang sangat mengkhawatirkan, terlebih ketika beberapa waktu lalu, hasil tes darah di Puskesmas Kampung Bali menunjukkan, 93 persen pasien yang diperiksa, positiv terjangkit virus HIV. BNN kemudian memprakarsai beroperasinya LSM Yayasan Pelita Ilmu untuk melakukan pembinaan ke masyarakat di kampung ini.
Ya, penanganan secara serius emang perlu dilakukan, dan penanganan terbaik para pecandu narkoba, hanyalah lewat pengobatan medis. Tentang ini Dadang Hawari, Psikiater yang selama ini dikenal banyak menangani para pecandu narkoba lewat metode detoksnya, mengatakan, perlu kesamaan pandang antar semua pihak yang terlibat, termasuk dokter yang menanganinya.
Di kesempatan ini, Dadang kembali mengatakan tidaks setuju pecandu narkoba dibuat berhenti dengan memenjarakannya. Karena di penjara, tak ada jaminan seseorang berhenti, justru faktanya, ia bertemu dengan komunitas yang akhirnya makin menjerumuskannya. Seperti diakui salah seorang mantan napi narkoba di LP Tangerang ini.
Menurutnya selama 1 tahun lebih mendekam di lapas ini, peredaran narkoba di dalam seperti pasar bebas, tanpa pengawasan, yang paling digemari jenis putauw dan biasa dikonsumsi para napi pagi hari.
Tentang maraknya peredaran narkoba di penjara ini, dibenarkan Kombes Polisi Siswandi, Kanit 2 Narkoba Bareskrim Mabes Polri. Menurut Siswandi, ada banyak faktor yang membuat demikian, salah satu tentunya oknum sipir di dalamnya.
Kita harus mendukung, langkah dan kepedulian sejumlah pihak dalam rangka pemberantasan narkoba ini. Langkah yang dilakukan Dadang Hawari, para orang tua di Kampung Bali dengan mendirikan pusat-pusat pembinaan dan pengawasan, juga pro aktif aparat kepolisian menangani para pengedar, harus diteruskan.
Karena narkoba sudah seperti racun ganas, dan perlu keseriusan menanganinya. Jika tidak, satu bahkan dua generasi bangsa ini menjadi taruhannya. (Firdaus Masrun/Sup)