Kesehatan
21-Jan-2008 14:09:39 WIB
JEJAK KASUS
Waspadai Gaya Hidup



Peliput : Erwin Saputra – Dedi Suhardiman
Produser : Firdaus Masrun
Tayang : Senin, 21 Januari 2007, Pukul 12:30 WIB

Hati-hati dengan pola hidup anda, karena maraknya peredaran makanan menggunaan zat pengawet telah membawa dampak bermunculan aneka penyakit berbahaya, dengan tingkat kematian yang makin mencemaskan. Dalam episode kali ini, kami hadirkan beragam penyakit yang mengintai kehidupan kita. Inilah Jejak Kasus.

Prilaku masyarakat menjalani pola hidup, kini semakin mengkhawatirkan, seiring makin gandrungnya masyarakat mengkonsumsi aneka makanan yang mengunakan zat pengawet dan pewarna. Karena banyak zat pengawet yang dipakai, memberi dampak berbahaya bagi kesehatan. Ambil contoh Formalin, yang bisa menimbulkan kanker paru-paru dan jantung, atau Borak yang bisa merusak otak, hati dan kulit.

Terlebih di kampung-kampung. Rendahnya kesadaran menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menambah mudahnya bibit penyakit berkembang. Demam berdarah dan Chikungunya, adalah dua jenis penyakit yang disebabkan nyamuk Aedesaegypti dan kerap muncul di lingkungan yang tak bersih.

Rendahnya pendidikan dan pengetahuan akan pentingnya hidup sehat, makin membuat masyarakat tak berdaya, ketika kemudian, muncul penyakit-penyakit aneh seperti Kaki Gajah, Lupus, Autis yang semuanya ditularkan virus-virus berbahaya dan tak dipahami masyarakat. Mungkin belum lupa, bagaimana saudara-saudara kita banyak yang menjadi korban ganasnya virus Flu Burung beberapa waktu lalu.

Dari Jawa Barat, masyarakat beberapa waktu lalu di dikejutkan seorang laki-laki bernama Dede, yang sekujur tubuhnya ditumbuhi kutil-kutil raksasa. Tim Medis yang memeriksanya berkesimpulan, Dede terjangkit virus berbahaya bernama Human Papilloma Virus-2, yang timbul akibat lemahnya jaringan sel darah putih dalam tubuh laki-laki ini.

Banyak kalangan berpendapat, hadirnya berbagai penyakit ini, terkait langsung dengan pola hidup yang tidak sehat. Dokter Erna Tresnaningsih, salah seorang dokter yang banyak menangani masalah ini berpendapat, munculnya penyakit-penyakit berbahaya itu, hendaknya disikapi serius, jika tak ingin berakibat fatal.

Lupus, atau tepatnya Systemic Lupus Eritematosus, satu dari beberapa jenis penyakit berbahaya, yang sampai kini belum ditemukan obatnya. Kini, penyakit itu terus berkembang.

Lupus, satu jenis penyakit yang sampai kini belum banyak dikenal masyarakat. Padahal penyakit ini sangat berbahaya dan belum ditemukan obatnya. Dari waktu ke waktu penderitanya terus bertambah. Lupus membuat penderita yang disebut Odapus, mengalami situasi dimana sel kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi, justru berbalik dan menggerogoti tubuh penderitanya.

Dian Syarif, mantan karyawan salah satu Bank di Jakarta, sembilan tahun lalu langsung berhenti bekerja saat divonis dokter mengidap penyakit ini. Sejak itu ia harus bolak-balik menjalani perobatan, sampai menjalani operasi di luar negeri.

Menurut wanita berusia 38 tahun ini, kurang pahamnya masyarakat akan penyakit ini, kadang menjadi masalah tersendiri buat mereka penderitanya. Padahal, ia menegaskan, penyakit ini tidak menular dan tidak perlu dijauhi.

Sadar penyakit yang ia derita sulit diatasi, Dian bersama sejumlah warga sesama penderita Lupus, sejak empat tahun lalu lewat Yayasan Syamsi Duha yang Ia dan beberapa temannya dirikan, aktif menggalang kepedulian, sambil bersama-sama mempelajari tabir misteri penyakit ini. Dian memang tidak sendirian. Bersamanya ada banyak penderita Lupus dan kebanyakan dari mereka telah tegar menjalaninya.

Menurut Dokter Rahmat Gunadi, Hematolog dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, sampai kini penyebab penyakit ini belum diketahui pasti, begitupun penyembuhannya. Penyakit ini juga dapat memicu munculnya banyak masalah bagi penderitanya, dari gangguan penyakit lain, pengaruh efek samping pengobatan sampai masalah sosial yang harus dihadapi penderitanya. Tapi satu hal, penyakit ini tidak menular.

Menurut Rakhmat, penyakit Lupus di Indonesia masih tergolong baru dan uniknya, ciri kemunculannya bisa berbeda-beda. Di Eropa misalnya, ciri umum penderitanya berupa pecah-pecahnya kulit pipi, sementara di Indonesia, ciri awalnya nyeri persendian. Penyakit ini penyebarannya cukup mengkhawatirkan, berkisar 1 berbanding 1000 penduduk. Apakah bisa karena keturunan?, Rahmat belum bisa memastikan.

Di Indonesia, jumlah penderita Lupus mencapai lebih dari 1,5 juta orang, dengan meninggal dunia kurang dari 5 persen. Sembilan puluh persen penderitanya adalah wanita dan biasanya muncul pada usia produktif antara 15 sampai 44 tahun, walaupun tetap ada pengecualian, seperti yang dialami Hastuti. Wanita yang tinggal di kota Bandung ini.

Lupus merupakan penyakit kambuhan, jika mendapat faktor pencetus, seperti emosi, paparan sinar matahari, juga kelelahan. Karena itu, seperti dikatakan Dian Syarif dan Hastuti, bagi penderitanya, dukungan dan pengertian orang-orang terdekat, sangat diperlukan untuk mengurangi beban penderitanya.

Tak hanya Lupus, penyakit berbahaya dan mengancam hidup manusia, tapi juga beragam penyakit lain, termasuk yang berasal dari virus hewan seperti Flu Burung, dan juga Autis.

Autis, sama seperti Lupus, juga merupakan satu jenis penyakit misterius, yang sampai kini belum ditemukan obatnya dan merupakan penyakit gangguan prilaku pada anak. Namun berbeda dengan Lupus, para ahli sudah mengetahui sebab penyakit ini, yaitu virus Toksoplasma, yang brasal dari hewan peliharaan seperti unggas. Biasanya penularan terjadi, saat kehamilan sang ibu.

Penyakit Autis biasanya bisa diketahui, saat sang anak berusia 1-3 tahun. Gejalanya, misalnya sang anak tertarik pada hal-hal tertentu, seperti daun bergoyang, gerakan roda mobil. Umumnya, sang anak akan hiperaktif dan mengalami keterlambatan berbicara.

Menurut Dokter Sani Hermawan, salah seorang Psikolog dari Yayasan Autisma Indonesia, Autis memiliki beberapa karakter. Menghadapi anak penderita Autis, harus dengan rutin melakukan terapi. Kurangnya penanganan, bisa membuat penyakitnya kembali kambuh dikemudian hari.

Karena itu, sama seperti penyakit Lupus, sikap orang-orang terdekat, terutama keluarga dan lingkungan, sangat menentukan proses penyembuhan penderita penyakit ini.

Hal lain yang tak kalah penting, dari munculnya penyakit-penyakit seperti ini adalah tetap terjaganya kebersihan dan kesehatan, pada hewan-hewan peliharaan, terutama dari jenis unggas. Virus Avian Influenza jenis H5N-1/ atau yang lebih dikenal dengan Flu Burung, terbukti sangat berbahaya bagi keselamatan kita, karena penularannya dari manusia ke manusia yang lain. Ketika sejumlah negara diguncang wabah penyakit ini, Indonesia, disebut-sebut yang paling parah.

Pada akhirnya, berbagai penyakit, entah itu Chikungunya, Demam Berdarah, Lupus sampai Flu Burung, kemunculannya sangat bergantung pada bagaimana kita menerapkan pola hidup sehat, dan berhati-hati dalam mengkonsumsi sesuatu. Namun lepas dari itu semua, kita semua harus menunjukkan kepedulian kepada para penderita, untuk meringankan beban mereka.(Ijs)


Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :