Hukum dan Kriminal
11-Feb-2008 16:33:37 WIB
JEJAK KASUS
Prostitusi Rumahan



Reporter : Erwin Saputra - Albert Bembot
Tayang : Senin, 11 Februari 2008, Pukul 12. 30 WIB
Lokasi : Subang

indosiar.com, - Kehidupan malam memang identik dengan kota besar. Apalagi jika kota besar itu bernama Jakarta. Uang yang bicara, maka tak ada yang tak bisa. Termasuk jika ingin mendapatkan kepuasan seks. Bahwa wanita-wanita penghibur datang ke ibukota karena alasan ekonomi, ya. Tapi sebagian mereka menjalani kehidupan demikian atas restu orangtua, mungkin tak banyak yang tahu.

Mengutip hukum ekonomi. Dimana ada permintaan, disitu ada penawaran. Demikian pula kehidupan malam di kota-kota besar. Kerlap kerlip lampu dengan alunan musik yang membuai, mengisyaratkan adanya kehidupan lain dibalik kegelapan sekelilingnya.

Wanita-wanita malam melengkapi sisi kehidupan ini. Usia mereka masih muda, rata-rata antara 20 hingga 25 tahun. Menebar senyum menawarkan pesona keindahan yang mereka miliki. Sesekali terdengar tawa renyah, lembut dan menghanyutkan.

Inilah potret nyata kehidupan malam di Jakarta. Mereka ada, karena ada yang membutuhkan. Kian hari jumlah mereka kian banyak, tak terhingga, entah dari mana.

Prostitusi terselubung. Itulah sebagian kalangan menyebut, karena mereka adanya di jalanan. Tentu saja ilegal, dan bukan tak pernah mereka ditertibkan.

Upaya memberantas prostitusi di Jakarta seperti menyiram garam di lautan, hari ini ditangkap, besok lusa melenggang lagi di jalanan.

Sudah rahasia umum mereka tak bekerja sendirian. Ada tangan-tangan kuat yang mengatur kerja mereka. Dari mulai mendatangkan mereka sampai menjalani kerja seperti ini sebagai pemuas nafsu para lelaki hidung belang.

Di Jakarta, masyarakat mengenal ada beberapa tempat dimana para PSK jalanan ini biasa berkumpul menjajakan dirinya yakni dikawasan Prumpung, Pramuka, Jakarta Timur, Blok M, Jakarta Selatan dan kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat.

Dari waktu ke waktu PSK jalanan ini terus ada dan silih berganti. Mereka berasal dari beragam daerah, sebagian datang sendiri, tapi lebih banyak didatangkan.

Pekerja seks komersial memang menjadi bagian dari denyut nadi kota besar-besar. Tapi tak berarti di daerah tak ada. Hasil kunjungan kami ke beberapa tempat di Jawa Barat menunjukkan seks komersial tumbuh subur dan tak lagi ditutup-tutupi. Bahkan jangan kaget, untuk berkencan anda bisa lakukan di rumah mereka.

Untuk sampai ke kota Subang, Jawa Barat dari Jakarta diperlukan waktu tempuh 2 jam. Memang tidak banyak orang tahu kalau di Subang dapat ditemui lokasi seks bebas.

Kehidupan warga Subang khususnya di pedesaan adalah sebagai petani. Sawah dan kebun adalah bagian dari hidup mereka yang menjadi topangan hidup. Faktor ekonomi menjadi penyebab utama mereka beralih profesi sebagai PSK.

Dari 22 kecamatan di Subang, 3 diantaranya ditenggarai sebagai lokasi prostitusi terselubung yang tersebar di rumah-rumah penduduk Kecamata Ciasem, Pagaden dan Cipunegara. Kehidupan kelam ini hanya dilakukan sebagian warga saja. Sehingga tidak mudah pula bagi pendatang untuk mengetahui lokasi terselubung ini.

Para pendatang yang singgah ke daerah ini biasanya memanfaatkan jasa ojek untuk sampai di lokasi yang dituju. Kadang-kadang juga yang membawa kendaraan pribadi.

Para tukang ojek sebagai pemberi informasi soal adanya prostitusi terselubung didalam rumah-rumah penduduk. Peran tukang ojek sangat besar, warga pendatang yang membutuhkan jasa wanita penghibur.

Sekilas perkampungan ini seperti pedesaan pada umumnya. Tidak memiliki ciri khusus kalau perkampungan ini tempat praktek gelap prostitusi.

Aparat Pemda setempat akan menindak dengan tegas jika ditemukan warganya melakukan perbuatan yang melanggar norma agama. Salah satu jika ketahuan, rumah mereka terpaksa dibeli pemda setempat.

Namun demikian, pihak kecamatan setempat menemui kesulitan mendeteksi warganya yang terlibat membuka usaha gelap seks bebas, walau usaha berpraktek secara terang-terangan.

Fakta menunjukkan, praktek prostitusi ini masih ada di sana. Meskipun aparat menegakkan aturan. Ketidak laziman praktek prostitusi di rumah bertolak belakang dengan kebanggaan mereka, para pelakunya. Sudah berlangsung lama hal ini terjadi, sampai kapan akan terus seperti ini.

Aparat kelihatannya belum maksimal menindak atau menegur para pemilik rumah yang menyediakan para pekerja seks komersial. Prilaku warga setempat tampaknya sulit dibrantas. Sebab aksi itu sudah sangat kental dan lekat dengan warganya sendiri.

Memang tak lazim kenyataannya, orangtua dengan sengaja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tega menjual anak sebagai pekerja seks komersial. Di wilayah ini, perbuatan orangtua itu merupakan suatu kebanggaan dan persaingan antar tetangga. Apalagi jika keluarganya kedatangan tamu dari Jakarta atau Bandung.

Bagi yang suka, bisa melakukan dibeberapa rumah warga. Wanita penghibur yang disediakan, tak lain adalah tetangga, saudara atau bahkan anaknya sendiri.

Sebagian dari mereka memang pernah bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Karena sudah terbiasa hidup enak, maka prilaku menyimpang terus dilakukan demi gengsi dengan para tetangga.

Sementara itu Kepolisian Resort Subang, Jawa Barat akan menindaklanjuti setiap laporan atau temuan yang mengarah ke tindak pidana kriminal.

Polisi akan bertindak persuasif melalui unsur terkait seperti tokoh agama dan unsur perangkat desa. Namun demikian, sewaktu-waktu razia dadakan akan dilakukan tanpa koordinasi dengan siapapun demi penengakan hukum. Kita lihat saja, apakah jurus-jurus yang dilakukan polisi ampuh atau hanya bersifat sementara.

Faktor ekonomi kerap dituding sebagai penyebab utama maraknya praktek asusila ini. Namun demikian, pemahaman agama dan rendahnya pendidikan di keluarga kurang mampu menambah panjang alasan beralih menjadi PSK.

Menurut Sosiolog dari Universitas Indonesia, Erna Karim, untuk mengatasi masalah sosial ini perlu dilakukan pencerahan melalui agama maupun pemerintah.

Masalah penyakit masyarakat perlu penanganan yang serius. Tak sedikit masalah lain akan muncul dari penyakit masyarakat ini. Sebut saja penyakit kelamin atau HIV Aids.

Disini tidak cukup hanya peran pemerintah saja, perlu pula upaya warga, tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk menyadarkan mereka yang sudah terlanjur terjerumus. (Firdaus Masrun/Sup)

Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :