Kesehatan
25-Feb-2008 14:54:49 WIB
JEJAK KASUS
Anakku Sayang Anakku Malang



Reportase : Wihartoseno
Kameraman : Ahmad Susanto
Produser : Firdaus Masrun
Tayang : Senin, 25 Februari 2008, Pukul 12:30 WIB

Kembar siam. Anda tentu mengenal istilah itu. Ya, kembar siam adalah sebutan bagi kembar dempet, dan baru-baru ini terjadi dan dialami sepasang suami isteri dari Sidoarjo, Jawa Timur. Kelahiran kembar siam kerap mendatangkan situasi dilematis bagi orang tua. Mengapa demikian? Dan benarkan kembar siam sulit bertahan hidup ? Kami coba membahas secara mendalam. Inilah Jejak Kasus.

****

Inilah akhir dari kisah 17 hari perjuangan hidup dua bayi kembar siam, yang lahir dari pasangan Sigit dan Santi, warga Sidoarjo, Jawa Timur. Jumat pagi, 15 Februari 2008, tim medis rumah sakit tak mampu lagi menyelamatkan kedua bayi yang sempat diberi nama Sri Lestari dan Sri Mulyani ini.

Keduanya menghembus nafas terakhir sekitar pukul 4.30 dini hari. Hari itu juga kedua dimakamkan, dihantar ratusan warga kerabat dan tetangga di Desa Katerungan, Kecamatan Krian, Sidoarjo.

Sejak dirawat di Rumah Sakit Dokter Soetomo Surabaya, 29 Januari lalu, dan mendapat perhatian besar masyarakat, banyak kalangan menilai, dengan sifat kembarnya yang menyatuh luar dalam, dibutuhkan kerja keras dan cermat dari tim dokter untuk menyelamatkannya. Karena kembar siam anak sulung pasangan Sigit dan Santi dengan bobot 4,4 kilogram ini, tak hanya dempet dada sampai perut di bagian luar saja, tapi jantung dan livernya juga menyatu.

Praktis, tak mungkin bagi tim dokter untuk memisahkan keduanya. Tingginya resiko yang harus dihadapi kelahiran anak kembar, memang membuat kalangan orang tua berharap, mereka tak melahirkan anak kembar, apalagi kembar siam.

Kembar memang beragam jenis. Tapi kembar siam kemunculannya terbilang langka, berkisar satu diantara 200. Ribu kelahiran. Tapi kembar bukan tak bisa diprediksi atau dihindari, karena kelahiran anak kembar terkait banyak faktor, salah satunya faktor gaya hidup dan pola makan sang ibu, selain faktor keturunan.

Peran ibu memang sangat besar dalam menentukan kwalitas bayi yang dilahirkan. Tak hanya potensi kembar, resiko lain seperti terkena kanker juga bisa diturunkan sang ibu. Begitupun penyakit lain seperti diabetes, talasemia atau kekurangan haemoglobin dalam sel darah merah, hipertensi dan hepatitis B. Hampir 90% ibu hamil yang menderita hepatitis B, menurunkan warisannya itu kepada bayinya.

Selain faktor genetika, kelainan pada bayi dapat pula karena bawaan lahir, seperti kelainan jantung, yang biasanya karena saat hamil, sang ibu terkena radiasi atau zat kimia tertentu.

Tapi dari beragam masalah itu, melahirkan bayi kembar siam, memang hampir tak diharapkan semua ibu, karena itu tadi, risikonya yang tinggi. Usia harapan hidupnya berkisar 5 sampai 25 persen. Tapi yang terpenting dan harus dipahami masyarakat, melahirkan anak kembar siam bukan kutukan, sebagaimana dipahami sebagian kalangan.

Secara ilmiah, kelahiran bayi kembar siam disebabkan kelainan sang ibu saat proses pembuahan sel telur, pada awal kehamilan.

Kembar siam. Istilah itu pertama kali muncul di Thailand saat negara itu masih bernama Siam. Dipakai untuk menyebut kelahiran pasangan kembar siam pertama bernama Eng Chang dan Bunker Chang, hampir dua abad lalu. Kelahiran kembar siam terbilang langka, 1 berbanding 200 ribu kelahiran, dan dari keseluruhan kembar siam yang lahir, 75 persen berjenis kelamin perempuan.

Secara garis besar, kembar ada dua macam. Kembar dari satu telur atau monozigot dan kembar dari dua telur, dizigot. Yang terlahir, kebanyakan dari kembar satu telur. selain faktor genetika, melahirkan kembar juga bisa karena faktor lain, sebut saja dari obat penyubur yang dikonsumsi sang ibu untuk maksud mematangkan sel telur.

Adapun kembar siam, terjadi karena saat pembuahan, sel telur membelah secara tidak sempurna. Soal bagian tubuh yang dempet, kebanyakan terjadi pada empat anggota tubuh, dada, perut, kepala dan panggul.

Di Indonesia, kasus kembar siam lumayan banyak. Dua pekan setelah kelahiran Sri Lestari dan Sri Mulyani, di Jombang lahir pula bayi sepasang kembar siam, dengan kondisi menyatu leher sampai dada. Sayang, anak pasangan Slamet dan Muarifah yang sempat diberi nama Lia dan Ita ini, hanya bertahan hidup 15 menit.

Risiko kematian bagi kembar siam memang cukup tinggi, walau tetap ada yang berhasil diselamatkan dengan operasi pemisahan, walau sebenarnya tidak pasti harus dilakukan. Salah satu contoh yang paling menakjubkan adalah pasangan Laden dan Laleh Bijani, asal Iran. Kedua pasangan kembar siam di kepala ini, dapat bertahan hidup sampai usia 29 tahun. Sayang, pada operasi pemisahan kepala yang coba dilakukan di Singapura, mengalami kegagalan dan nyawa keduanyapun tak tertolong.

Pada kembar siam Sri Lestari dan Sri Mulyani, dokter memang tidak mungkin melakukan operasi pemisahan, karena tak hanya menyatu fisik luar tapi juga jantung dan livernya. Gangguan multi organ itu pula yang akhirnya membuat keduanya tak bisa diselamatkan. Kematian bayi kembar siam kali ini merupakan kasus yang ke 21 dari 31 bayi kembar siam, yang ditangani Rumah Sakit Dokter Soetomo Surabaya.

Bayi kembar, lebih-lebih kembar siam, cenderung memiliki berat tubuh lebih kecil, karena asupan gizi yang kurang, dan kelahirannya hampir pasti melalui operasi caesar, karena jika tidak, bisa berisiko tinggi bagi keselamatan sang ibu.

Kembar siam, hanyalah salah satu bentuk kelahiran dengan resiko kematian tinggi, yang disebabkan oleh faktor keturunan. Ada banyak jenis kelainan yang bisa dialami janin atau bayi, karena faktor sang ibu. Sebut saja misalnya kanker. Di Indonesia, bayi yang lahir dengan menderita kanker cukup banyak.

Kanker memang bukan monopoli manusia dewasa. Ada banyak kasus, bayi lahir terdeteksi menderita kanker sejak masih dalam kandungan. Berdasarkan catatan, angkanya mencapai 110 sampai 130 dari 1 juta anak. Sayangnya, gejala kanker pada anak sulit untuk dideteksi, mengingat anak tidak dapat merasakan atau menceritakan keluhannya.

Salah satu faktor yang diduga mengakibatkan kanker pada anak adalah penyimpangan pertumbuhan sel akibat cacat gen. Hal ini yang menyebabkan pertumbuhan sel jadi menyimpang dan tidak dapat dikendalikan.

Pengaruh lingkungan yang berinteraksi atau faktor ekogenetik dan berbagai cacat atau kelainan bawaan juga diduga ikut meningkatkan risiko kanker pada anak. Kemungkinan lainnya adalah faktor pra-konsepsi, yang bisa terjadi pada ibu-ibu yang bekerja dengan resiko tinggi, seperti bekerja di area sinyal radiasi.

Meskipun berisiko tinggi sehingga menyebabkan kematian, kanker pada anak ternyata dapat diobati sampai sembuh, terutama yang ditemukan sejak stadium dini. Penanganannya melalui gabungan antara operasi pengangkatan tumor, kemoterapi, radiasi, pengobatan suportif, dan rehabilitasi pasca operasi.

Kanker pada anak terbagi dalam beberapa jenis, yaitu leukemia atau kanker darah, kanker otak, tumor mata, kanker kelenjar getah bening, kanker saraf kanker kelenjar otot, dan kanker tulang.

Dari kesemuanya, leukemia atau kanker darah adalah yang paling banyak dijumpai pada anak-anak. Untungnya, leukemia memiliki harapan sembuh jika diberikan pengobatan yang tepat dan benar.

Tumor mata juga dapat menyebabkan kematian. Gejalanya adalah pengelihatan terganggu, juling mendadak, dan bila telah lanjut maka bola mata akan menonjol keluar. Namun jika gejala awal telah ditemukan, dengan pengobatan yang baik, maka kanker mata ini dapat disembuhkan walaupun harus mengorbankan sebelah mata.

Peran orang tua dan orang-orang sekitar sangat diperlukan agar sedini mungkin bisa mendeteksi atau melihat gejala-gejala adanya kanker pada anak. Dengan pengobatan yang baik, harapan sembuh dari kanker semakin terbuka, sehingga anak-anak dapat terus bermain di dunia mereka yang ceria.(Ijs)

Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :