Hukum dan Kriminal
14-Apr-2008 15:40:17 WIB
JEJAK KASUS
Taxi Perampok



Reporter : Budi Sampurno – Erwin Saputra
Juru Kamera : Sri Indro Purnomo – Dedi Suhardiman – Iwan Agung
Tayang : Senin 14 April 2008, Pukul 12.30 WIB

Produser : Widayat s. Noeswa

Bagi Anda kaum wanita, kini harus waspada ketika harus menggunakan taxi, terutama dimalam hari. Dalam beberapa bulan terakhir, khususnya di Ibukota Jakarta dan sekitarnya, banyak kasus perampokan, yang justru bekerjasama dengan sang sopir taxi.

Kasus perampokan penumpang taksi, dalam beberapa tahun terakhir, marak terjadi di Ibukota Jakarta. Yang lebih mengerikan, para penjahat menyamar sebagai sopir taxi, sehingga masyarakat tidak bisa membedakan mana taxi yang digunakan perampok, dan mana taxi yang aman. Korbannya sebagian besar adalah wanita, dan terjadi di malam hari.

Bagi Anda kaum wanita, memang harus berhati hati dan jeli saat akan menggunakan taxi. Apalagi bagi yang setiap hari menggunakan jasa angkutan ini. Karena bisa-bisa, impian kenyamanan, justru berubah jadi petaka.

Harus diakui, hingga saat ini, taxi masih menjadi moda angkutan umum favorite, ditengah kemacetan lalu lintas di Kota Jakarta, agar terhindar dari stres, lelah bertarung dengan kesembrawutan lalu lintas, dan tentu mendapat layanan kenyamanan, dibanding menggunakan bus, kereta api, apalagi angkot.

Dari sejumlah kasus perampokan penumpang taxi yang terjadi di ibukota Jakarta, terungkap, kawanan perampok jalanan tersebut biasanya mulai beraksi pada sore hingga malam hari.

Mereka mencari mangsa para karyawati di lokasi lokasi strategis, seperti di Jalan Sudirman, Thamrin, Jalan Gatot Subroto, atau Jalan S Parman, saat jam pulang kerja. Namun tidak menutup kemungkinan di lokasi lokasi lain.

Yang lebih mengerikan, modus yang digunakan, para perampok, selalu bekerjasama dengan sang sopir. Biasanya mereka mangkal di depan pusat perkantoran, atau pusat perbelanjaan. Setelah mendapatkan mangsa, sang sopir berusaha membawa taxinya menempuh jalur yang memungkinkan untuk beraksi.

Di tengah jalan, sang sopir tiba tiba menghentikan mobilnya, dengan alasan untuk memeriksa ban yang kempes. Saat itulah kawanan perampok yang membuntuti dengan mobil lain, langsung masuk ke dalam taxi.

Para kawanan perampok biasanya memaksa korbannya menyerahkan harta bendanya, seperti perhiasan, uang, laptop atau handpone. Setelah itu, mereka juga meminta kartu atm, atau kartu kredit. Dibawah ancaman senjata tajam, atau ancaman akan diperkosa, tentu korban dibuat tidak berkutik. Meski demikian, ada sejumlah korban berusaha memberontak dan melawan hingga terluka.

Para perampok kemudian meminta nomer pin kartu ATM. Setelah mendapatklan pin, para perampok memberikan kepada kawannya, untuk segera mengambil uang di ATM. Sambil menunggu proses pengambilan uang, korban di bawa keliling kota.

Bahkan tidak jarang, para perampok meminta korban untuk menghubungi teman atau saudaranya, untuk mentransfer uang ke ATMnya sehingga di sesuatu tempat yang sepi, walaupun sudah menyerahkan barang-barangnya. Salah seorang korban, mengaku hingga kini masih taruma dengan kejadian yang menimpanya.


Maraknya kasus perampokan penumpang, membuat pengguna taxi menjadi takut. Karena hanya itulah moda transportasi yang bisa diandalkan, ditengah kemacetan, kesemrawutan lalu lintas dan panasnya udara di ibukota Jakarta.

Dalam catatan Polda Metro Jaya, sejak bulan Januari hingga Maret tahun 2008 ini, sudah delapan kali terjadi kasus perampokan di dalam taksi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Bahkan pada awal Pebruari lalu, dalam empat hari, terjadi tiga kasus perampokan penumpang taxi. Diduga masih banyak korban perampokan di dalam taxi yang memilih tidak melapor demi alasan keamanan, malu, atau pesimis polisi akan serius menangani kasus tersebut.

Para perampok penumpang taxi, ternyata dilakukan oleh kelompok yang terorganisir rapi. Mereka menggasak harta benda, dan meminta paksa kartu ATM, untuk menguras habis uang korbannya.

Kejahatan dengan modus merampok penumpang taxi, memang kian meningkat. Menginjak tahun 2008 saja, sejak Januari hingga bulan Maret, telah terjadi delapan kasus. seluruh korbannya adalah wanita. Dari kasus tersebut, polisi telah berhasil menangkap 12 orang tersangka.

Berdasarkan penyelidikan aparat kepolisian, kejahatan perampokan penumpang taxi dilakukan oleh sejumlah kelompok yang terorganisasir. Satu kelompok terdiri dari enam hingga 12 orang, dengan tugas masing masing.

Dari menyewa taxi, mencari mangsa, sebagai eksekutor, dan mengambil uang di ATM. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam, dari loper koran, pengangguran, penjahat kambuhan, hingga bekas sopir taxi, atau bekas sopir tembak, dan bekas sopir angkot

Biasanya para perampok beraksi antara pukul 5 sore hingga jam 12 malam. Mereka menggunakan taxi yang tidak terkenal, dengan cara menyewa taxi dari sopir taxi tembak, sebesar 250 hingga 300 ribu rupiah untuk sehari penuh. Karena itu, mereka biasanya tidak memiliki identitas atau kartu ID sopir dari perusahaan taxi. Kalaupun ada, tentu sudah dipalsukan.

Bahkan dalam beberapa kasus, pelaku mengubah cat, nomer lambung, dan logo mirip dengan taxi ternama. Hal ini agar calon penumpang tidak curiga, dan memudahkan para penjahat melakukan aksinya. Para perampok, juga merusak pintu mobil, agar tidak bisa dibuka dari dalam, sehingga korban tidak bisa melarikan diri.

Sementara, aksi kejahatan ini justru dimulai dari kawasan yang ramai, bukan yang sepi seperti aksi kejahatan lain. Mereka mangkal di kawasan strategis, untuk mencari mangsanya. Wilayah Jakarta, yang paling rawan adalah kawasan Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.

Sebelum melakukan aksinya, para perampok, telah membuat perencanaan secara matang. Dari lokasi mencari penumpang, jalur yang akan dilewati, hingga taxi yang akan digunakan untuk menjalankan aksinya. Mereka juga mengaku, melakukan aksi kejahatan ini dengan alasan ekonomi atau diajak oleh temannya.

Sejumlah pelaku yang sudah tertangkap mengaku, dalam setiap aksinya, mendapatkan bagian masing masing, 200 ribu, hingga 400 ribu, tergantung perannya. Namun pernah juga tidak mendapatkan uang sepeserpun, karena korbannya memang tidak memiliki uang atau barang berharga.

Kepada polisi, mereka juga mengaku, telah berkali kali melakukan aksi kejahatan perampokan di atas taxi. Bahkan salah seorang tersangka mengaku, telah melakukan lebih dari 15 kali, itupun yang ia ingat. Polisi menduga tersangka telah melakukan kejahatan puluhan kali.

Untuk menakut-nakuti korbannya, agar menyerahkan semua hartabendanya, termasuk kartu ATM dan kartu kredit, para penjahat sering mengancam akan memperkosa korbannya. Sejumlah korban nyaris dibuka baju dan celananya. Bahkan seorang korban mengaku, nyaris diperkosa, jika tidak sedang datang bulan.

Sementara itu, maraknya kasus perampokan penumpang taxi, juga dikeluhkan oleh para sopir taxi, terutama taxi yang belum terkenal. Karena banyak calon penumpang terutama wanita, yang enggan menggunakan jasanya, terutama di malam hari.

Maraknya kejahatan ini, juga disinyalir akibat dampak ketatnya persaingan. Sehingga para pengemudi taxi, memilih menyewakan taxinya kepada orang lain, yang penting mereka mendapatkan uang.

Aparat kepolisian, telah berhasil menggulung sejumlah anggota kawanan perampok penumpnag taxi. Namun ditengarai masih banyak kelompok lain, yang masih mencari mangsa di jalanan.

Maraknya kasus kejahatan di atas taksi tentu menjadi pekerjaan rumah bagi aparat kepolisian. Jajaran Polda Metro Jaya sendiri, terus berupaya mengungkap kasus ini, dan melakukan berbagai upaya antisipasi. Diantaranya meningkatkan patroli, dan melakukan pertemuan dengan para pengusaha taxi.

Para pengusaha diminta memiliki komitment kuat untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan penumpang. Para pengusaha taxi, juga diminta tidak menggunakan sopir tembak, karena sebagian besar kasus kejahatan di atas taxi, akibat sopir tembak menyewakan taxinya kepada para penjahat.

Aparat kepolisian juga tengah memikirkan bagaimana sistem pengamanan penumpang taxi. Seperti penempatan tombol lampu bahaya di bangku penumpang, membuat pembatas pengaman antara supir dan penumpang, serta kunci pintu otomatis penumpang yang harus terpisah dari pintu supirnya .

Maraknya aksi kejahatan perampokan taxi, tentu menimbulkan keprihatinan sejumlah operator taxi ternama. Mereka berusaha melakukan berbagai langkah antisipasi, agar armadanya tidak digunakan untuk melakukan aksi kejahatan.

Salah satunya adalah, dalam merekrut pengemudi. Setiap seleksi penerimaan baru, pengemudi diminta menyerahkan identitas dan alamat yang lengkap dan jelas. bahkan setiap enam bulan sekali, identitas para pengemudinya juga didata ulang, untuk memastikan tidak ada perubahan alamat.

Operator taxi juga meminta, agar para calon penumpang berhati hati dalam memilih taxi yang akan digunakannya, mencatat identitas pengemudi, dan nomor lambung taxi. para penumpang juga harus berani menolak, jika melewati jalur yang tidak diinginkannya.

Sementara itu, para pelanggan taxi meminta operator taxi memiliki kepedulian terhadap keamanan para penumpangnya, jangan hanya mengejar keuntungan semata. Bahkan harus ada sistem yang bisa menjamin penumpang benar benar aman.

Melihat modus yang dilakukan dalam aksi kejahatan ini, para pengguna taxi nampaknya memang harus berhati hati, terutama pada jam jam rawan kejahatan. Jika cukup waktu, memang lebih aman jika memesan taxi lewat operator, sehingga dijamin keamanannya.

Jika ada apa apa di jalan, operator bisa mengetahui identitas pengemudi dengan pasti. Bahkan sejumlah operator taxi telah melengkapi armadanya dengan sistem global posisioning sytem, dimana keberadaan armadanya bisa dideteksi.

Sementara, jika terpaksa menggunakan taxi yang ada di jalanan, tentu harus memilih taxi ternama, yang diyakini aman, dan tidak pernah terjadi kasus kejahatan seperti ini.

Jika memang tidak ada pilihan lain, ya tentu harus extra hati hati. Jika merasa ada yang tidak beres, seperti tidak ada identitas pengemudi, pengemudi berlaku tidak sopan, apalagi jika sudah memaksa melalui jalan yang tidak diinginkan, lebih baik cepat cepat meminta turun.

Meski aksi kejahatan perampokan penumpang taxi, makin marak, namun masyarakat tidak mungkin tidak menggunakan taxi. Karena taxi masih sangat dibutuhkan ditengah tengah kondisi amburadulnya moda transportasi lain, di ibukota Jakarta.(Ijs/Sup)

Nama:
Email:

More JEJAK KASUS:
[ more Jejak Kasus ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :