
Mutilasi. Pembunuhan keji dengan memotong-motong bagian tubuh korban, kembali terjadi dan membuat hati kita semua miris. Begitu sadis dan tidak berprikemanusiaan. Mental masyarakat kita boleh jadi memang sedang sakit. Bayangkan, dalam tiga minggu pertama di bulan Januari ini, tujuh kasus mutilasi terjadi. Di Jakarta Utara, korban dibunuh di sebuah kamar hotel, dengan kepala dipenggal.
Jumat 18 Januari 2008, suasana masih gelap, keramaian terlihat di sebuah hotel melati di kawasan Koja Jakarta Utara. Sejumlah polisi berpakaian preman tampak di sana. Sesosok tubuh wanita ditemukan tergeletak di lantai salah satu kamar, dalam keadaan bugil. Tragis. Wanita berusia sekitar 24 tahun ini, sudah tidak ada lagi kepala.
Hampir satu jam, polisi belum menemukan petunjuk, siapa korban dan mengapa ia dibunuh. Begitupun bukti yang mengarah pada sang pelaku. Di resepsionis hotel, identitas penghuni kamar di lantai 3 inipun tidak tercatat. Pagi itu juga, jenasah dibawa ke Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Jakarta untuk diperiksa.
Sadar kasus ini mendapat perhatian besar masyarakat, polisi bekerja cepat. Kabar temuan mayat dipublikasikan secara luas. Sketsa wajah coba dibuat sebagai petunjuk, dan masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga, diminta segera melapor ke polisi.
Memasuki hari keempat, misteri mayat akhirnya terungkap. Di tempat pembuangan sampah tak jauh dari hotel tempat kejadian, seorang petugas dinas kebersihan menemukan potongan kepala manusia. Polisi langsung mendatangi lokasi dengan membawa saksi bernama Kasman, kasir hotel yang mengaku ingat dengan ciri wajah wanita yang datang Kamis malam itu.
Malam harinya, ahli forensik RSCM Dokter Mun`im Idris menyatakan, potongan kepala cocok dengan tubuh wanita di kamar hotel itu. Hasil otopsi, menurut Munim, menunjukkan kepala korban tidak dipotong dengan pisau panjang sebab bekas lukanya patah-patah, karena pelaku memotongnya berkali-kali.
Dari sini identitas korban benar-benar terungkap, bahwa dia bernama Atika Septiani, berusia 23 tahun dan beralamat di Jln. Cempaka, Gg. IV, Blok I, No.9, Rt 08 Rw 16 Kampung Lagoa, Jakarta Utara. Kepastian ini diperkuat pernyataan kerabat dan tetangga korban.
Berbekal bukti-bukti itu, polisi kemudian membekuk seorang pria bernama Zaki Afrizal, yang tak lain adalah pacar korban. Di Kepolisian, ia langsung mengakui, memang dia yang membunuh Atika.
Segmen 1
Orang tua mana yang tidak terpukul melihat anaknya diperlakukan demikian keji. Demikian pula orang tua Atika. Apalagi jika mereka tahu, bagaimana cara anak mereka dihabisi.
Tenang dan nyaris tanpa ekspresi, itulah kesan yang tampak dari tersangka Zaky, saat diminta menceritakan bagaimana ia menghabisi korban Atika. Menurut tersangka, pertemuan di hotel. Karena tidak ada titik temu, menurut tersangka, ia dan korban lalu terlibat perkelahian fisik. Ia bahkan jadi tak bisa mengendalikan diri ketika korban menghina ia dan keluarganya.
Tindakan tersangka ini, dinilai polisi telah di luar batas kemanusiaan, karena itu mereka menjerat laki-laki ini dengan sejumlah pasal, agar tidak memungkinkannya lepas dari hukuman.
Langkah polisi ini disambut baik pihak keluarga korban. Saat ditemui di kediaman mereka, orang tua korban menceritakan bagaimana mereka sama sekali tidak menduga Atika akan mengalami nasib setragis ini. Muchtar, ayah korban menceritakan, jam 11 malam Jumat tanggal 17, saat Atika diperkirakan habis dibunuh, ia menerima sms dari handphone anaknya.
Tersangka, menurut ayah korban, tampaknya memang berusaha menyembunyikan jejak kejahatannya, karena tak lama setelah sms itu, adiknya perempuan juga menerima sms. Dan terakhir, sekitar pukul 3 malam, ia kembali menerima sms ketiga, yang belakangan terungkap, semua dikirim tersangka.
Menurut Haripah, ibu korban, di malam anaknya dibunuh, Rizky, anak korban tidurnya gelisah dan memanggil-manggil ibunya. Wiwin, kakak korban menduga, pembunuhan ini sudah direncanakan. Lima hari sebelum kejadian, laki-laki itu ikut hadir dalam acara ulang tahun anak korban dan sempat berfoto dengan keluarga Atika.
Perasaan terpukul tak cuma dirasakan keluarga korban, tapi juga orang-orang terdekat tersangka. Ditemui di kediamannya di Desa Dukuh Tengah, Kecamatan Bojong-Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Muhaimin, ayah tersangka, mengaku sangat kaget dan terpukul. Zaki anaknya, menjadi pembunuh bahkan memotong-motong tubuh korbannya.
Muhaimin mengatakan, Zaki telah berkeluarga dan memiliki satu anak perempuan berusia 1,5 tahun. Ia membantah kabar anaknya memiliki ilmu pelet dan sering mempermainkan wanita, karena sejak kecil sang anak sangat santun dan rajin sholat. Zaki bahkan alumni pesantren di Tegal.
Tentang kepribadian tersangka yang baik ini, juga diakui tetangga. Karena itu mereka sama terkejutnya ketika tahu Zaki menjadi seorang pembunuh keji. Keluarga sepakat, melihat kasus ini sebagai musibah yang harus diterima, karena itu mereka pasrah apapun hukuman yang akan diterima Zaki. Ibunya yang menjadi TKW di Malaysia sengaja tidak diberitahu, walaupun mereka sadar, tak mungkin terus menutup rapat kasus yang sudah jadi rahasia umum ini.
Segmen 3
Mutilasi adalah tindakan keji, sadis dan sangat tidak berprikemanusiaan. Kita sebagai bangsa beradab pantas merasa prihatin, karena kasus mutilasi banyak sekali terjadi. Jika dihitung sejak tahun 2007, sedikitnya ada 14 peristiwa mutilasi. Dan ini, 7 kasus terakhir terjadi di 3 minggu pertama bulan Januari ini.
Empat hari sebelum kasus terbunuhnya Atika, masyarakat sudah dikejutkan satu peristiwa pembunuhan dengan mutilasi, yang menimpa seorang bocah berusia sekitar 10 tahun. Identitasnya tidak diketahui, karena saat ditemukan di jalan Joyomartono Kelurahan Margahayu , Bekasi Timur, Senin petang, kondisi tubuh korban terpotong menjadi empat bagian.
Yaitu bagian leher , pinggul dan kedua lutut kaki. Aparat Kepolisian yang memeriksa kondisinya, menemukan petunjuk, korban juga mengalami kekerasan seksual. Bagian anus korban mengalami rusak akibat benda tumpul.
Adalah pejalan kaki bernama Ja’un, yang pertama kali menemukan tubuh korban, saat melihat bungkusan aneh tergeletak di pinggir jalan.
Lima hari setelah kasus terbunuhnya Atika, dua kasus mutilasi terjadi, yakni di Surabaya Jawa Timur dan di Semarang Jawa Tengah. Di Surabaya, korbannya seorang laki-laki yang konon sudah diketahui identitasnya bernama Syahrul. Tubuhnya ditemukan Selasa dini hari di tol Dupak, Surabaya Jawa Timur.
Identitasnya cepat diketahui karena memiliki ciri tato di tubuhnya. Kondisinya lebih tragis dari Atika, karena selain kepala, bagian lain yang dipotong adalah tangan dan kaki. Sadisnya lagi, alat vital korban dipotong, dan kulit wajah korban juga dikelupasi. Sang pelaku tampak sekali ingin menghilangkan jejak kejahatannya.
Sementara di Semarang, korbannya seorang wanita, tubuhnya ditemukan seorang nelayan mengapung di perairan Tugu, Semarang Barat, dengan tanpa kepala. Melihat kondisinya, diduga jenasah korban telah beberapa hari terapung di tempat itu.
Peristiwa mutilasi,makin banyak dan makin mengkhawatirkan saja. Dalam satu tahun terakhir saja, dihitung sejak tahun 2007, sedikitnya telah terjadi 14 kali kasus mutilasi. Tentu saja yang terjadi di tahun 2008 ini pantas membuat kita kaget. Karena dari 14 kasus itu, 7 diantaranya terjadi di bulan Januari, hanya dalam tempo 24 hari terakhir.
Kalangan ahli tidak seragam dalam melihat prilaku mutilasi, karena motiv dan karakter prilaku pelakunya memang beragam. Tapi banyak yang melihat tindakan ini termasuk kelainan, prilaku Psikopat. Pelaku mutilasi adalah orang-orang yang tidak memiliki suara hati.
Melihat kasus-kasus mutilasi yang terjadi, ada dua hal yang bisa kita ketahui. Pertama, motivnya kebanyakan terkait dengan prilaku seksual, dan kedua, kasusnya relatif sulit diungkap, bahkan sebagian besar, tidak berhasil diungkap Polisi.
Mutilasi, adalah tragedi anak manusia. Pelakunya, juga adalah musuh peradaban manusia, karena tak memiliki perasaan dan belas kasih. Tak difikirkan bagaimana keluarga korban harus menanggung luka perasaan karenanya. Semoga hukum masih berpihak pada mereka yang kini tak punya pilihan kecuali mengharap, keadilan masih ditegakkan untuk mereka.(Ijs)