Reporter : Erwin Saputra, Budi Sampurno & Sisca Tiur GurningSegmen I
indosiar.com, Jakarta - Ratusan massa Front Pembela Islam, menyerbu para tokoh dan aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, saat akan digelar perayakan Hari Kelahiran Pancasila. Massa FPI, menyerang dengan pentungan bambu, kayu, dan batu.
Aksi ini berawal, saat ratusan massa AKKBB sudah berkumpul di lapangan Monas, untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Acara ini sudah jauh hari dipersiapkan, bahkan AKKBB memasang iklan di media massa, dengan mengatasnamakan sejumlah tokoh nasional, sebagai peserta acara ini, seperti mantan Ketua MPR Amien Rais, mantan Presiden Abdruhaman Wahid, dan istri, serta Gusti Ratu Hemas.
Dalam iklan ini, mereka mengundang masyarakat untuk hadir dalam apel akbar, dengan tema mari pertahankan Indonesia kita. Pada saat yang sama, ratusan Laskar FPI melakukan aksi demo menolak kenaikkan harga BBM di dekat kawasan Monas. Namun karena kelompok FPI melihat ada kelompok Amhadiyah yang ikut dalam acara ini, maka mereka berusaha melarangnya.
FPI juga menyatakan, acara yang digelar AKKBB, tidak mendapat izin dari Polda Metro. Sejumlah aparat kepolisian yang berada di lokasi, tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah aksi penyerangan ini. Akibat peristiwa penyerangan ini, belasan peserta menderita luka – luka, termasuk Direktur Wahid Institute, Ahmad Suaedy, Sementara puluhan ibu - ibu dan anak – anak, lari ketakutan.
Komando Laskar Islam, yang merupakan gabungan seluruh Ormas Islam yang memiliki Laskar, termasuk FPI, mengaku, kelompoknyalah yang melakukan aksi di Monas, namun menolak bertanggung jawab. Panglima Komando Laskar Islam, Munarman justru menuduh kelompok AKKBB yang harus bertanggung jawab. Namun Munarman menyatakan siap ditangkap.
Dari pihak aliansi kebangsaan kebebasan berbangsa dan beragama menolak tuduhan itu. Menurut data tim advokasi AKKBB jumlah korban akibat insiden Monas, 70 orang. 7 orang diantaranya harus mendapat perawatan intensif.
Aksi kekerasan massa Front Pembela Islam terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Keyakinan di Monas, mendapat perhatian serius dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Bahkan Presiden menggelar rapat koordinasi, para Menteri Bidang Polkam, yang khusus membahas masalah penyerangan kelompok FPI. Presiden meminta aparat kepolisian memberi sanksi yang tepat bagi pelaku penyerangan.
Menurut Presiden, aksi kekerasan yang dilakukan oleh organisasi tertentu atau orang - orang tertentu, mencoreng nama baik negara. Usai Rakor, Menko Polhukam juga meminta aparat kepolisian segera bertindak tegas terhadap pelaku penyerangan. Penyerangan kelompok FPI di Monas, juga mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan. Karena aksi kekerasan, dengan dalih apapaun tidak pernah dibenarkan.
Segmen II
Setelah Presiden meminta aparat kepolisian bertindak tegas, Polda Metro Jaya kemudian bergerak. Enam aparat Polda berpakaian preman, Senin 2 Juni malam, mendatangi kediaman Ketua FPI, Habib Rizieq di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat. Namun polisi tidak melakukan penangkapan terhadap Rizieq, ataupun anggota FPI yang diduga melakukan penyerangan.
Pada siang harinya, Habib Rizieq dan Panglima Komando Laskar Islam, Munarman memberikan keterangan kepada para wartawan mengenai insiden di Monas. Munarman menyatakan, bahwa insiden di Monas, bukan dilakukan oleh Front Pembela Islam, namun oleh Komando Laskar Islam, yang beranggotakan seluruh Ormas Islam yang memiliki Laskar.
Sementara Habib Rizieq mengatakan, tidak akan membiarkan anggotanya ditangkap polisi, sebelum pemerintah membubarkan Ahmadiyah. Bahkan, FPI akan memberikan perlawanan, jika anggota ditangkap.
Namun polisi tidak tinggal diam. Kapolda Metro Jaya, kemudian memberikan ultimatum kepada anggota FPI untuk menyerahkan diri. Kapolda menyatakan, telah menetapkan enam, tersangka pelaku penyerangan terhadap peserta apel akbar yang digelar AKKBB, di Monas.
Namun hingga pagi hari, belum satupun anggota FPI menyerahlkan diri kepada aparat kepolisian. Karena itu, polisi kemudian mendatangi Markas FPI di Petamburan. Bahkan kali ini polisi mengerahkan 1500 pasukannya. Kali in, sikap Ketua FPI Habib Rizieq berubah. Bahkan Habib Rizieq meminta anggota FPI untuk tidak memberikan perlawanan kepada polisi.
Proses penangkapan kelompok FPI, berjalan lancar dan aman tanpa perlawanan. Bahkan Habib Rizieq bersama 59 anggota FPI bersedia dibawa ke Mapolda Metro Jaya untuk dimintai keterangan. Dari pemeriksaan sejumlah saksi tersebut polisi akhirnya menetapkan 20 anggota Laskar Pembela Islam sebagai tersangka. Bahkan Ketua FPI Habib Rizieq Shihab juga dinyatakan sebagai tersangka, dan langsung ditahan. Rizieq dikenai pasal 221 KUHP, dengan tuduhan melindungi dan menyembunyikan pelaku tindak kejahatan.
Namun, Panglima Komando Laskar Islam, Munarman belum berhasil ditangkap. Polisi kemudian resmi menyatakan, Munarman masuk daftar pencarian orang, alias buron. Namun, dalam persembunyiannya, Munarman membantah bahwa dirinya melarikan diri dari tanggungjawab. Munarman bahkan mengirimkan surat pernyatan dan video kepada media elektronik. Munarman menyatakan akan menyerahkan diri, jika Presiden membubarkan kelompok Ahmadiyah.
Menanggapi pernyatan Munarman, pihak pemerintahpun menyatakan, tidak ada kompromi dengan tuntutan Munarman. Juru Kepresidenen, Andi Malarangeng bahkan meminta Munarman untuk segera menyerahkan diri.
Segmen III
Aksi kekerasan Front Pembela Islam di Jakarta, mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan. Bahkan di sejumlah daerah, berbagai elemen meminta FPI dibubarkan. Mereka menyatakn tidak setuju dengan keberadaan FPI yang sering melakukan aksi - aksi kekerasan.
Sejumlah Kiai Nahdahtul Ulama, seperti di Cirebon, mengutuk keras perilaku FPI, dan mereka mendesak agar FPI di seluruh Indonesia dibubarkan. Markas Kantor Dewan Pimpinan wilayah FPI di Cirebon pun, jadi sasaran para santri Pondok Pesantren Khatulistiwa, Kempek. Mereka melampiaskan kemarahan dengan merobohkan plang FPI.
Di Surabaya, juga sempat terjadi ketegangan antara puluhan massa pemuda Anshor dan Garda Bangsa, dengan pimpinan FPI cabang Surabaya, Habib Ali Alhabsy, yang menolak pembubaran FPI. Aksi ini berakhir setelah kelompok FPI wilayah Surabaya menyatakan bubar.
Begitu pula aksi pendukung setia Gus Dur di Jember, Jawa Timur, menutut pembubaran FPI cabang Jember. Massa yang menyatroni Markas FPI ini, terlihat emosional, hampir bertindak anarkis. Namun dapat diredam berkat kearifan Ketua FPI Jember, Habib Abubakar yang meminta maaf kepada korban penyerangan insiden Monas, dan menyatakan mengundurkan diri dan membubarkan FPI cabang Jember.
Ketua Umum Muhamadiyah, Din Syamsuddin, juga mengecam tindakan kekerasan Front Pembela Islam, apalagi tindakan anarkis itu mengatas namakan agama. Menurut Din Syamsuddin, wewenangan membubarkan dan melarang kegiatan sebuah organisasi, adalah wewenang pemerintah. Din berharap insiden Monas, segera diproses dan dituntaskan secara hokum.
Sementara itu, mantan Ketua PBNU Abdurrahman Wahid menyesalkan aparat kepolisian yang terkesan membiarkan kekerasan oleh FPI di Monas. Bahkan Gus Dur menyatakan akan membubarkan FPI.
Namun langkah tegas aparat kepolisian, yang kemudian menengkap sejumlah angota FPI, di markasanya di kawasan Petamburan mendapat pujian dari mantan Ketua PP Muhammadiyah, Syaei ma'arif. Menurut Ma'arif, sikap tegas dibutuhkan untuk meredam terjadinya konflik horisontal maupun vertical.
Sementara itu di Markas FPI cabang Depok, terjadi Deklarasi damai antara FPI dengan Partai Kebangkitan Bangsa, Garda Bangsa dan GP Anshor, Depok. Deklarasi ini untuk mengusung agar tidak terjadi konflik horisontal dilapisan bawah.
Terlepas dari pro dan kontra keberadaan Front Pembela Islam, insiden di Monas, adalah ekses dari sikap pemerintah, yang kurang tegas dan cepat menangani keberadaan kelompok Ahmadiyah. Kontroversi mengenai kelompok Ahmadiyah akan terus terjadi dan berpotensi menyulut konflik horizontal, jika pemerintah tidak segera mengambil keputusan.
Namun yang lebih penting adalah, insiden Monas, menjadi cermin diri, perbedaan pendapat dan kepentingan, tidak harus diselesaikan dengan cara anarkis. Buah kekerasan hanyalah kekerasan. Sudah seharusnya bangsa ini, mendapat teladan dan guru yang baik, dalam menyelesaikan satu konflik. (Dv/Sup).