Reporter : Erwin Saputra dan Budi Sampurno
Kameraman : Iwan Agung dan Dedi Suhardiman
Produser : Widayat S. Noeswa
Tayang : Senin, 16 Juni 2008 Pukul 12.30 WIB
Segmen I
indosiar.com, Jakarta - Kasus penculikkan dalam beberapa bulan ini terakhir ini, makin marak terjadi di wilayah ibukota Jakarta dan sekitarnya. Bahkan kasus penculikkan anak yang pada umumnya pelajar SD dan SMP sudah merebak di kota - kota besar di daerah. Pelaku dalam mencari targetnya, tidak hanya orang kaya.
Anak yang orangtuanya tidak mampu pun menjadi sasaran pelaku penculikkan. Tampaknya, pelaku serampangan memilih korban, yang penting si orangtua korban, bisa diperas. Yang lebih mengerikan, para penjahat tidak segan - segan membunuh korban jika tuntutanya tidak dipenuhi.
Kasus penculikkan yang terjadi awal pekan lalu, terhadap seorang pelajar kelas lima SD Negeri di Mekar Jaya, Depok. Korban bernama Efendi, dipaksa orang tak dikenal untuk masuk ke dalam taksi, ketika ia akan berangkat sekolah. Beruntung, sang sopir taxi mencium gelagat tidak wajar. Karena itu, sopir taxi kemudian membelokkan taksi ke halaman Mapolres Metro Depok.
Efendi mengaku shock dan bingung. Karena kejadiannya begitu cepat dan ia tidak menyangka menjadi korban penculikkan.
Sementara Novazi Irwandi, si pelaku, yang juga warga Depok, ketika mintai keterangan, berpura - pura seperti orang gila. Pelaku mengaku korban adalah anaknya dan akan dibawa jalan - jalan.
Ali Saputra orangtua korban, yang sehari - hari berjualan sayur di rumahnya, bingung kenapa anaknya yang menjadi incaran para penculik. Pengalaman lain yang sama, di ungkapkan seorang ibu. Anaknya masih sekolah di Taman Kanak - Kanak juga menjadi korban penculikkan. Pelaku yang berjumlah dua orang, mengaku pamannya korban. Tidak tidak di gubris oleh pihak sekolah.
Masih segar ingatan kita, kasus penculikkan yang sadis di sertai dengan pembunuhan terjadi bulan Mei lalu. Farrel korban siswa SD, ini menghilang selama 4 hari, saat ia sehabis mengikuti pengajian yang tidak jauh dari rumahnya. Korban tewas ditemukan di sebuah kali di kawasan Depok.
Menurut Erwin, ia merasa aneh kenapa anaknya yang menjadi sasaran penculik. Padahal selama ini, keluarganya tidak memiliki musuh. Kasus ini terkantung – kantung. Jajaran Polda Metro Jaya, bisa menguak siapa pelaku yang membunuhnya anaknya Erwin.
Untuk mengungkap kasus ini, polisi kesulitan mencari barang bukti dan saksi - saksi di lapangan. Karena si pelaku tidak pernah sama sekali menghubungi keluarga korban untuk meminta tebusan.
Kasus yang paling menghebohkan adalah penculikan seorang perempuan di Jakarta Utara, bernama Surini, pada 20 April 2008 lalu. Saat itu korban, yang tengah berada di parkiran sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Pluit, Jakarta Utara, tiba - tiba disekap didalam mobilnya. Korban ditodong dengan senjata api dan tangannya diborgol. Penculik, kemudian membawa korban ke sebuah rumah untuk disekap.
Kepada orang tua korban, penculik meminta uang tebusan, sebesar 100 ribu dolar Amerika atau sekitar 1 miliar rupiah. Penculik yang kemudian diketahui bernama Franky Salim, warga Cina, akhirnya tewas, sesaat setelah menerima uang tebusan dari orangtua korban di parkiran pusat perbelanjaan di kawasan Mangga Dua. Franky tertembus peluru setelah terlibat baku tembak dengan aparat kepolisian. Sehari kemudian, korban Surini ditemukan disekap di sebuah rumah di kawasan Jakarta Utara.
Segmen II
Kasus - kasus penculikan, terutama yang bermotif pemerasan, selalu meninggalkan jejak yang cukup jelas. Persoalannya, adalah pelaku biasanya mengancam keluarga korban, agar tidak melapor kepada aparat kepolisian. Inilah yang kadang menjadi dilema bagi orangtua korban. Namun polisi memiliki banyak cara untuk mengatasi kasus kejahatan ini.
Dari data di Jajaran Polda Metro Jaya, banyak kasus penculikan yang berhasil diungkap, namun banyak juga yang masih menjadi misteri. Pada tahun 2007 misalnya, dari 46 kasus penculikan, 34 kasus dapat diungkap atau 73 persen.
Motivasi utama penjahat melakukan penculikan, sebagian besar adalah alasan ekonomi, selain faktor dendam, atau motif sexual, terutama mereka yang menderita paedophilia. Para pelaku juga kadang bukan penjahat profesioanal, atau spesialis penculikan. Namun tidak sedikit, kelompok penjahat yang memang Bekasi dengan modus penculikan.
Banyak faktor yang membuat kasus penculikan bisa diungkap. Diantaranya, penculik selalu berkomunikasi dengan orangtua korban, untuk bernegosiasi menukar korban dengan uang tebusan.
Meski lokasinya selalu berubah – ubah, namun polisi, memiliki petunjuk yang cukup berarti untuk terus memonitor keberadaan si penculik. Selain itu, para pelaku banyak yang tidak professional. Pelaku umumnya hanya melihat sebuah peluang, untuk mendapatkan uang. Biasanya kasus - kasus seperti ini, karena pelaku mengalami tekanan ekonomi.
Proses biasanya dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan negosiasi. Setelah itu baru dilakukan upaya penyelidikan hingga menyelamatkan jiwa korban dan menangkap pelakunya. Namun target aparat dalam menangani kasus penculikan lebih mengedepankan pada keselamatan korbannya.
Sementara kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala, menilai kejahatan penculikan sebenarnya adalah kejahatan yang paling susah dilakukan. Masalahnya sang korban harus diperhatikan dan dirawat selama dalam penyekapan.
Korban harus benar - benar diperlakukan sebaik mungkin, sementara jika sang korban sakit maka nilai tawar atau tebusan menjadi sulit.
Masalah lain lagi muncul ketika keluarga korban sudah dihubungi dan bersedia untuk membayar tebusan seperti yang diminta pelaku, namun mereka diam - diam tetap menghubungi aparat kepolisian.
Sehingga saat melakukan transaksi, para penjahat harus berhati – hati, karena mereka tentu sudah diincar oleh aparat kepolisian. Dari kasus yang terungkap, tidak heran, jika pelakunya adalah orang - orang yang tidak professional, atau bukan kelompok penjahat yang terorganisir.
Segmen III
Dari sejumlah kasus penculikan, korban yang selamat dan bertemu kembali dengan keluarganya, selalu mengalami keguncangan jiwa, atau trauma. Rasa trauma yang mendalam tidak akan mudah hilang bagi korban, maupaun orangtuanya. Si korban terutama anak - anak akan mengalami stress berat yang sangat mendalam.
Biasanya anak - anak korban penculikan, akan mengalami sulit tidur, gangguan makan dan takut dengan orang yang tidak dikenalnya, atau yang mirip pelaku penculikkan.
Ada bebagai cara untuk melakukan terapi ringan, agar anak - anak korban penculikan, bias pelan - pelan menghilangkan trauma. Seperti sering mengajak ngobrol, agar pikirannya tidak kosong, atau membelikan mainan yang di sukai korban.
Menurut seorang psikolog, pasca penculikkan, di anjurkan jangan mengisolasi anak dari kehidupan social. Justru dianjurkan, agar anak tesebut, mau bemain - main kembali dengan teman – temannya.
Orangtua cukup mengawasi secara wajar. Jika diisolasi, justru korban akan terus berada dalam ketakutan, sehingga sulit lepas dari masa trauma.
Terapi bagi orangtua korban penculikan, juga harus ditangani secara hati – hati. Karena biasanya pengalaman traumatic, akan menimbulkan emosi, atau kecemasan yang sangat mendalam.
Karena itu, seluruh emosi orangtua harus dikeluarkan semuanya, agar bisa berpikir jernih. Sehingga langkah - langkah yang diambil, terutama dalam menjaga anaknya, pasca penculikan akan lebih rasional.
Sementara kriminilog Adrianus Meliala, meminta orangtua tidak meremehkan kasus - kasus penculikan. Karena kasus penculikan biasanya dilakukan oleh orang - orang yang dekat dengan kita. Misalnya mantan pembantu, mantan sopir, atau oleh orang yang mengenal keluarga korban.
Apalagi Komnas Anak, memiliki catatan lain mengenai kejahatan penculikan anak. Dari berbagai kasus yang dilaporkan, terungkap banyak kasus penculikan anak yang bermotif perdagangan anak.
Pada tahun 2007 misalnya dari 87 kasus yang dilaporkan ke Komnas Anak, 25 kasus diantaranya bermotif perdagangan anak. Mereka dipekerjakan di jalanan sebagai pengemis, pengamen, atau dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial. Sebagian besar korban penculikan dengan motif ini, adalah anak - anak dari kalangan ekonomi lemah.
Kasus kejahatan penculikan, bisa mengancam siapa saja dan dimana saja. Karena itu, kunci utamanya adalah kewaspadaan orangtua dalam menjaga anak - anak. Mengawasi anak ketika berada di lingkungan rumah, memantau anak ketika berangkat dan pulang sekolah, bahkan ketika berada bersama - sama di pusat keramaian. (Dv/Sup).