
Reporter : Budi Sampurno - Asep Saifullah
Kamerawan : Dedi Suhardiman - Sri Indro Purnomo
Produser : Widayat S. Noeswa
indosiar.com, Jakarta - Musim hujan baru tiba. Namun ratusan rumah di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan sudah terendam air. Kawasan ini memang salah satu titik rawan banjir yang ada di wilayah DKI Jakarta. Senin pekan lalu, Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan lebat, selama beberapa jam. Akibatnya saluran air tidak bisa menampung air, sehingga menggenang. Sementara Sungai Ciliwung yang membawa air dari kawasan Bogor, meluap. Ketinggian air mencapai 2 meter lebih, namun warga enggan mengungsi karena menurut mereka banjir hanya berlangsung beberapa jam dan belum membahayakan.
Banjir juga merendam Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Puluhan rumah terendam. Menurut warga, kawasan ini memang tidak pernah luput dari banjir, setiap musim hujan tiba.
Kota Bandung, Jawa Barat, pekan lalu juga mulai digenangi air. Puluhan rumah di Kampung Ciheunteum, terendam. Banjir terjadi setelah hujan mengguyur sejak pagi selama beberapa jam, sehingga Sungai Citarum meluap. Kampung inin memang menjadi langganan banjir.
Selain di wilayah Kecamatan Bale Endah, banjir juga menggenangi kawasan Kecamatan Dayeh Kolot. Kedua kecamatan tersebut, merupakan daerah aliran Sungai Citarum.
Banjir juga melanda
kawasan Kota Medan, Sumatera Utara, akhir Oktober lalu. Ribuan rumah, di bantaran Sungai Deli terendam. Warga sempat panik karena air mencapai 1,5 meter. Air mulai menggenang sejak pukul 4 pagi, saat warga masih terlelap tidur.
Bencana banjir memang telah menjadi persoalan serius di kota-kota besar terutama DKI Jakarta. Di Jakarta, setidaknya terdapat 99 titik rawan banjir, terutama daerah aliran sungai makro, seperti Kali Ciliwung, Kali Sunter, Kali Cakung, dan lain-lain.
Badan Meterologi jauh-jauh hari sudah memberikan peringatan, tahun ini intensitas curah hujan akan mulai tinggi saat memasuki bulan Desember dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada bulan Pebruari. BMG juga memperingatkan bahwa curah hujan tahun ini termasuk tinggi, yaitu diperkirakan akan mencapai 400 milimeter lebih.
Pada bulan Pebruari, hujan akan turun sangat lebat dan berpotensi akan menimbulkan banjir. Daerah yang berpotensi akan terjadi curah hujan yang lebat, adalah di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Seperti Kramat Jati, Cipayung, Ciracas, dan Pasar Minggu.
----
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah datangnya banjir. Namun banjir tidak mungkin dihindari. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi dan mengantisipasi.
-----
Banjir merupakan masalah besar bagi Ibukota Jakarta. Setiap tahun, bisa dipastikan Jakarta akan selalu menghadapi banjir. Bahkan setiap 5 tahun sekali, akan terjadi siklus 5 tahunan, dimana akan terjadi banjir besar, yang melumpuhkan sebagian besar aktifitas warga Ibukota.
Ada banyak penyebab banjir di Jakarta. Diantaranya, banyaknya sungai yang telah mengalami pendangkalan, kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah di sungai, berkurangnya daerah hijau atau resapan air, dan seringnya terjadi air kiriman dari wilayah hulu yang melalui 13 sungai.
Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah DKI Jakarta. Diantaranya, membangun Banjir Kanal Timur dan Barat, normalisasi sungai dengan mengeruk lumpur dan sampah, pembuatan folder serta membangun pompa-pompa pengeruk air.
Pada bulan ini, akan dilakukan pengerukan 16 kali dengan biaya sebesar Rp 30 milyar. Sementara pembangunan folder atau sistem penyedot air banjir di kawasan yang lokasinya di bawah permukaan laut, masih terkendala dana. Saat ini baru ada 29 folder dari 45 folder yang direncanakan. Padahal, untuk membangun satu folder dibutuhkan dana Rp 2 triliun.
Selain itu, juga dilakukan tata guna lahan. Atau mengembalikan fungsi kawasan hijau sebagai kawasan resapan dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat, agar tidak membuang sampah ke sungai.
Satu faktor yang menyebabkan banjir, yang masih sulit diatasi adalah buruknya perilaku masyarakat, yang seenaknya membuang sampah di sungai. Pemerintah DKI Jakarta secara bertahap juga memindahkan ribuan warga yang menghuni rumah-rumah di bantaran kali. Mereka akan dipindahkan ke rumah susun. Namun upaya pemerintah melakukan antisipasi datangnya banjir, dinilai bukan solusi yang tepat, karena banyak faktor yang tidak sinkron.
Ruwetnya tata ruang di ibukota juga memberi sumbangan terjadinya banjir. Karena banyak kawasan hijau yang sudah berubah menjadi kawasan bisnis atau perumahan.
Dengan lahirnya Undang-undang No.26 Tahun 2007, pemerintah sebenarnya memberikan kesempatan kepada daerah untuk merevisi berbagai PP yang terkait dengan tata ruang. Bahkan pejabat yang menyalahgunakan wewenang, bisa dikenai sanksi pidana.
Jakarta memang tidak mungkin bebas dari banjir. Yang bisa dilakukan adalah melakukan antisipasi untukn mengurangi kerugian dan korban. Baik kerugian materi maupun korban musibah.Banyak warga Jakarta yang akrab dengan banjir, terutama mereka yang tinggal di rumah - rumah liar disepanjang bantaran kali. Bagi mereka tidak ada pilihan lain kecuali harus siap setiap saat untuk mengungsi atau membuat rumah panggung yang tinggi.
Ini adalah potret bantaran kali yang melintas kota Jakarta, kumuh dan tidak tertata. Rumah - rumah ini tumbuh liar dibibir sungai. Kondisi ini tentu menyumbang terjadinya banjir, karena selain mengganggu kelancaran arus air, penghuninya juga memiliki perilaku buruk dalam membuang sampah.
Saat ini diperkirakan ada sekitar 70 ribu kepala keluarga yang membangun rumah liar dibantaran kali diwilayah ibukota. Bagi warga Jakarta yang berada dibantaran sungai banjir adalah sahabat mereka disaat musim hujan tiba. Bahkan mereka menanggapi banjir adalah persoalan biasa.
Ade Irawan sudah tinggal dikawasan sungai Ciliwung sejak 26 tahun lalu. Ade mengaku hafal dengan perilaku air sungai, termasuk kapan dan seberapa tinggi banjir akan menggenang ? karena itu Ade tidak melakukan persiapan khusus untuk menghadapi banjir meskipun memiliki bayi.
Ade juga tahu kapan akan terjadi banjir besar, diantaranya ditandai oleh banyaknya sampah memenuhi sungai bersama datangnya air. Jika terjadi banjir besar dan rumahnya dipenuhi air, baru Ade akan mengungsi ke mushollah dekat rumahnya bersama warga lainnya.
Beberapa hari lalu kali Ciliwung mulai meluap saat terjadi air kiriman dari wilayah Bogor. Ade juga belum merasa risau. Ade enggan pindah karena sudah merasa akrab dengan lingkungannya dan yang paling utama Ade tidak memiliki uang untuk membeli atau menyewa rumah.
Ade merupakan potret warga penghuni rumah - rumah liar di Jakarta. Mereka adalah kaum urban miskin yang datang ke Jakarta tanpa bekal yang mencukupi. Mereka akhirnya mendirikan rumah dilahan - lahan kosong termasuk dibantaran kali.
Rumah liar dibantaran sungai memang menjadi persoalan tersendiri bagi pemerintah DKI Jakarta. Selain mengganggu pemandangan rumah - rumah liar ini semakin memperbanyak kawasan kumuh yang memunculkan berbagai persoalan, termasuk banjir.(Ijs/Dv)