indosiar.com, Jakarta - Bagi banyak orang, diare diangggap sebagai penyakit yang tidak begitu berbahaya. Biasanya, ketika mereka terkena penyakit ini, hal pertama yang dilakukan meminum obat yang banyak dijual seperti oralit. Lantas penyakit hilang? Penyakit ini termasuk penyakit yang mematikan bila tidak segera ditangani, karena cairan tubuh penderita akan berkurang.
Kasus kematian akibat diare yang mewabah sepanjang tahun ini di Indonesia tentunya menjadi kisah yang sangat ironis. Nah di musim pancaroba saat ini, wabah diare mulai merajalela di beberapa daerah. Berbagai bakteri dan kuman seperti ecoli, salmonella, dan staphylococcus pun leluasa untuk berkembang biak dilingkungan yang kotor.
Diare sendiri sebenarnya disebabkan oleh bermacam-macam hal. Bisa karena infeksi (infeksi virus, amoeba, atau bakteri), atau dapat juga karena sensitif atau tidak tahan terhadap makanan-makanan tertentu, mulai makanan yang terlalu asam, terlalau pedas, terlalu banyak bumbu, dan lain sebagainya.
Diare bisa juga disebabkan penggunaan obat-obatan jenis tertentu, seperti antibiotik dan obat yang mengandung magnesium. Penggunaan air minum yang kurang bersih dan tidak dimasak dengan baik juga dapat menimbulkan diare. Bahkan diare juga dapat disebabkan oleh gangguan emosional, misalnya karena stres, tegang (nervous), depresi atau gangguan emosi.
Menurut Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM dan PL) Depkes Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, diare sebenarnya bukan merupakan penyakit, tetapi merupakan gejala gangguan kesehatan.
Artinya kalau seseorang menderita diare berarti ada sesuatu yang tidak beres di tubuhnya, terutama di saluran pencernaan. Diare biasanya ditandai dengan buang air besar yang encer dan frekuensinya lebih dari tiga kali sehari. Gejala ini biasanya diikuti dengan rasa mulas, tubuh lemas, muka pucat, dan kadang-kadang disertai mual, muntah dan demam.
Penyebab diare bisa disebabkan karena :
1. Sebagian karena peradangan usus oleh bakteri, seperti vibrio cholera, shigella, salmonella, E coli (ETE\c), bacillus cereus, clostridium perfrigngens, staphylococcus aureus, dan campylobacterjejumi.
2. Disebabkan virus seprti rotavirus, adenovirus, dasn norwalk.
3. Disebabkan parasit seperti protozoa (entamoeba histolytica, giardia lamblia, blantidium cali, cryptospoorodium), cacing perut (ascaris, trichuris, dan strongyloides), jamur (candida).
Diare karena salah makan? Diare yang bukan disebakan oleh kuman spesifik seperti amoeba, kuman disentri, atau karena radang usus, disebut juga aspesifik. Diare aspesifik ini yang paling sering dan paling dan paling banyak diderita masyrakat pada umumnya.
Biasanya diare aspesifik tidak memerlukan pengobatan khusus. Yang perlu dilakukan adalah menjaga agar penderita tidak mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh, agar penyebab diarenya dapat dihilangkan sesegera mukngkin.
Buang air besar yang sering (bisa sampai belasan kali sehari) dengan kandungan cairan yang banyak tentu akan menghabiskan cairan tubuh. Dehidrasi dapat menyebabkan kematian terutama pada bayi dan anak-anak. Oleh sebab itu, langkah pertama penanggulangan diare adalah pengembalian cairan tubuh yang hilang. Ini dapat dilakukan dengan memberikan oralit atau larutan gula-garam disertai minum air yang banyak.
Biarkan oralit terserap ke dalam tubuh untuk beberapa saat (sekitar lima menit). Berikan air putih sebanyak-banyaknya yang bisa dikonsumsi oleh penderita tanpa menimbulkan rasa mual atau ingin buang air besar.
Jika diare masih belum berhenti, pemberian oralit dapat diteruskan sampai 5 - 8 sachet/bungkus. Dengan tindakan ini, biasanya diare aspesifik dapat diatasi dengan cepat dan efisien, sehingga tidak memerlukan pengobatan tambahan.
Pada dasarnya diare merupakan mekanisme alamiah tubuh untuk mengeluarkan zat-zat racun yang tidask dikehendaki dari dalam usus. Bila usus sudah "bersih" maka diare akan berhenti dengan sendirinya.
Namun, jika diperlukan obat anti diare tambahan, dapat diberikan obat-obat khusus antidiare yang dapat dibeli bebas (tanpa resep doketer). Dengan pertimbangan, jangan cepat-cepat memberikan obat yang langsung menghentikan diare. Sebab, dalam tubuh penderita terdapat zat racun atau zat penyebab diare yang harus perlu segera dikeluarkan.
Jika diberikan obat langsung penghenti diare, dikhawatirkan pengeluaran zat tersebut menjadi terhambat. Akibatnya, penyembuhan diare akan lebih lama dan zat racun bisa menyebar ke seluruh tubuh.
Sebaiknya diberikan adalah obat-obat atau bahan-bahan yang dapat menyerap gas, racun, dan zat-zat penyebab diare didalam saluran pencernaan dan yang dapat membentuk massa feses (tinja) sehingga lebih mudah dikeluarkan.
Zat-zat yang bersifat menyerap seperti norit, atau obat-obat yang mengandung atapulgit. Sedangkan untuk zat-zat yang dapat membentuk masssa feses antara lain yang mengandung kaolin dan pektin. Kandungan zat-zat tersebut bisa didapat dalam komposisi zat yang terkandung dalam obat pada kemasannya.
Sementara itu, kepada penderita dapat juga diberikan makanan bergizi yang lunak dan tidak merangsang seperti sup hangat dan bubur nasi. Hindarkan dulu mengkonsumsi makanan bersantan, yang mengandung susu, atau yang bersifat merangsang gerak peristaltik usus. Sayur, buah dan makanan yang berserat tinggi sebaiknya tidak dianjurkan dalam masa pengobatan penyakit ini. Sebab dapat menimbulkan banyak gas di dalam usus yang dapat memperparah diare.
Namun anda tetap harus waspada dan mengamati apakah gejala-gejala diare mulai menghilang, menetap atau bahkan bertambah buruk. Jika dalam rentan waktu 2 - 3 hari diare belum menghilang, atau penderita demam atau menunjukkan gangguan kesehatan yang lebih parah, dianjurkan untuk segera meminta pertolongan dokter. Demam biasanya menunjukkan adanya infeksi, yang penangananya memerlukan obat-obat khusus yang memerlukan pengawasan dokter.
Yang terpenting dan utama adalah lebih baik mencegah dari pada mengobati. Banyak hal yang bisa dilakukan seperti sebelum makan sebaiknya mencuci tangan dan mencuci tangan usai membuang hajat besar. Memperhatikan kebersihan makanan dan minuman juga bagian dari pencegahan.
Selain itu lebih melakukan selektif dalam mengkonsumsi makanan yang tidak dimasak sendiri. Untuk memproteksi tubuh, dianjurkan untuk mengkonsumsi multi vitamin agar daya tahan lebih terjaga.
Bagi balita sebaiknya, asi tetap harus diberikan sebagai makanan utama. Imunisasi campak juga perlu diberikan kepada anak-anak di bawah umur dan yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga kebersihan lingkungan tinggal dan memperhatikan penggunaan tempat membuang hajat yang bersih dan sehat di dalam tempat tinggal.(berbagai sumber/Ijs)