Kesehatan
30-Jan-2007 15:56:24 WIB
KATA
Deteksi Dini Diagnosis DBD



* Dr Widodo Judarwanto SpA

Setiap tahun penderita Demam Berdarah Dengue (DBD)   meningkat tajam di beberapa daerah di Indonesia. Kecemasan orang tua bertambah,   bila anaknya mengalami panas badan apapun penyebabnya. Pikiran pertama yang   menghantui adalah apakah anak saya menderita DBD ?

DBD adalah penyakit infeksi yang sangat ganas, yang hanya terjadi sekitar dalam   5 hari. Tetapi dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan jam, kondisi anak bisa   masuk dalam keadaan kritis dan mengancam jiwa. Tragisnya bila penyakit ini terlambat   didiagnosis, maka kondisi penderita sulit untuk diselamatkan.

Seorang ayah penderita DBD yang meninggal, tak habis pikir dikatakan anaknya   terlambat dibawa ke dokter. Padahal baru panas satu hari anaknya sudah diperiksakan   ke dokter. Saat itu dokter spesialis anak yang memeriksa hanya menyatakan terdapat   infeksi tenggorokan.

Jangankan masyarakat awam, seorang profesor yang ahlipun sering mengalami kesulitan   mendeteksi lebih awal diagnosis DBD. Gejalanya amat luas, hampir semua infeksi   akut pada awal penyakitnya menyerupai DBD. Gejala khas seperti perdarahan kulit   atau tanda perdarahan lainnya kadang terjadi hanya di akhir periode penyakit.   Untuk mengenali diagnosis DBD sejak dini, perlu mengetahui bagaimana perjalanan   klinis penyakit ini.

Perjalanan Penyakit DBD

Virus   Dengue penyebab DBD termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran kecil sekali   yaitu 35-45 nm. Virus tersebut memasuki tubuh manusia melalui gigitan nyamuk   yang menembus kulit. Setelah itu disusul oleh periode tenang selama kurang lebih   4 hari, dimana virus melakukan replikasi secara cepat dalam tubuh manusia. Apabila   jumlah virus sudah cukup maka virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia),   dan pada saat ini manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala panas. Dengan   adanya virus dengue dalam tubuh manusia, maka tubuh akan memberi reaksi. Bentuk   reaksi tubuh terhadap virus ini antara manusia yang satu dengan manusia yang   lain dapat berbeda, dimana perbedaan reaksi ini akan memanifestasikan perbedaan   penampilan gejala klinis dan perjalanan penyakit.

Pada prinsipnya, bentuk reaksi tubuh manusia terhadap keberadaan virus dengue   melalui beberapa tahapan. Bentuk reaksi pertama adalah terjadi netralisasi virus,   dan disusul dengan mengendapkan bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah   kecil di kulit berupa gejala ruam (rash). Bentuk reaksi kedua terjadi gangguan   fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah dan kualitas komponen-komponen   beku darah yang menimbulkan manifestasi perdarahan.

Bentuk reaksi ketiga terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan   keluarnya komponen plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah menuju ke   rongga perut berupa gejala ascites dan rongga selaput paru berupa gejala efusi   pleura. Apabila tubuh manusia hanya memberi reaksi bentuk 1 dan 2 saja maka   orang tersebut akan menderita demam dengue, sedangkan apabila ketiga bentuk   reaksi terjadi maka orang tersebut akan mengalami demam berdarah dengue.

Penyakit demam berdarah dengue adalah salah satu bentuk klinis dari penyakit   akibat infeksi dengan virus dengue pada manusia. Manifestasi klinis dari infeksi   virus dengue dapat berupa “Demam Dengue” dan “Demam Berdarah   Dengue”. Demam Dengue adalah infeksi karena virus dengue, tetapi tidak   membahayakan atau tidak mengancam jiwa seperti DBD. Biasanya kasus demam dengue   sering diistilahkan masyarakat awam sebagai gejala demam berdarah. Bila terdapat   1 penderita DBD di suatu daerah, biasanya disekitar wilayah tersebut juga terdapat   banyak penderita demam dengue.

Demam Dengue

Manifestasi klinis infeksi Demam Dengue ditandai oleh gejala-gejala klinik   berupa demam, nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan. Demam yang terjadi   pada infeksi virus dengue ini timbulnya mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-40   derajat celcius) dan dapat disertai dengan menggigil. Begitu mendadaknya, sering   kali dalam pengalaman sehari-hari kita mendengar cerita seorang ibu bahwa pada   saat melepas putranya berangkat sekolah dalam keadaan sehat walafiat, akan tetapi   pada saat pulang putranya sudah mengeluh panas dan ternyata panasnya mendadak   tinggi. Pada saat anak mulai panas ini biasanya sudah tidak mau bermain, minta   gendong terus atau hanya rebahan di tempat tidur.

Demam ini hanya berlangsung sekitar 5 hari. Biasanya demam turun pada hari   ke III. Kadang-kadang dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung   selama beberapa hari itu sempat turun ditengahnya menjadi normal kemudian naik   lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh (gambaran kurva panas sebagai   punggung unta).

Pada hari ke VI biasanya demam mulai turun. Sering kali dalam bentuk turun   mendadak (lysis), dan disertai dengan berkeringat banyak, dimana anak tampak   agak loyo dan lemah. Gejala panas pada penderita infeksi virus dengue, akan   segera disusul dengan timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya   yang dikeluhkan adalah nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung dan nyeri pada   bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan. Karena adanya gejala nyeri   ini, sehingga di kalangan masyarakat awam ada istilah flu tulang. Dengan sembuhnya   penderita gejala-gejala nyeri pada seluruh tubuh ini juga akan hilang.

Ruam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini dapat timbul pada saat awal   panas yang berupa "flushing" yaitu berupa kemerahan pada daerah muka,   leher, dan dada. Ruam juga dapat timbul pada hari ke IV sakit berupa bercak-bercak   merah kecil seperti bercak pada penyakit campak. Kadang-kadang ruam tersebut   hanya timbul pada daerah tangan atau kaki saja sehingga memberi bentuk spesifik   seperti kaos tangan dan kaki. Yang terakhir ini biasanya timbul setelah panas   turun atau setelah hari ke V.

Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis demam berdarah dengue   selalu disertai dengan tanda perdarahan. Hanya saja tanda perdarahan ini tidak   selalu didapat secara spontan oleh penderita, bahkan pada sebagian besar penderita   tanda perdarahan ini muncul setelah dilakukan test tourniquet. Bentuk-bentuk   perdarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam dengue dapat berupa   perdarahan kecil-kecil di kulit (petechiae), perdarahan agak besar di kulit   (echimosis), perdarahan gusi, perdarahan hidung dan kadang-kadang dapat terjadi   perdarahan yang masif yang dapat berakhir dengan kematian.

Berkaitan dengan tanda perdarahan ini, pada anak-anak tertentu diketahui oleh   orang tuanya bahwa apabila anaknya menderita panas selalu disertai dengan perdarahan   hidung (epistaksis). Dalam istilah medis dikenal sebagai habitual epistaksis,   sebagai akibat kelainan yang bersifat sementara dari gangguan berbagai infeksi   (tidak hanya oleh virus dengue). Pada keadaan lain ada penderita anak yang apabila   mengalami sakit panas kemudian minum obat-obat panas tertentu akan disusul dengan   terjadinya perdarahan hidung atau perdarahan labung (muntah darah). Untuk penderita   dengan kondisi seperti ini pemberian obat-obat panas jenis tertentu seperti   golongan acetosal dan sejenisnya sebaiknya dihindari.

Demam Berdarah Dengue

Secara   umum 4 gejala yang terjadi pada demam dengue sebagai manifestasi gejala klinis   dari bentuk reaksi 1 dan 2 tubuh manusia, atas keberadaan virus dengue juga   didapatkan pada demam berdarah dengue. Yang membedakan demam berdarah dengue   dengan demam dengue adalah adanya manifestasi gejala klinis sebagai akibat adanya   bentuk reaksi 3 tubuh manusia terhadap virus dengue, yaitu berupa keluarnya   plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah keluar dan masuk kedalam rongga   perut dan rongga selaput paru. Fenomena ini apabila tidak segera ditanggulangi   dapat mempengaruhi manifestasi gejala perdarahan menjadi sangat masif. Yang   dalam praktek kedokteran, sering kali membuat seorang dokter terpaksa memberikan   tranfusi darah dalam jumlah yang tidak terbayangkan.

Bagi masyarakat awam, yang paling penting adalah dapat mengetahui atau mendeteksi   kapan seorang penderita demam berdarah dengue mulai mengalami keluarnya plasma   (cairan) darah, dari dalam pembuluh darah. Keluarnya plasma darah ini apabila   ada biasanya terjadi pada hari sakit ke III sampai dengan ke VI. Biasanya didahului   oleh penurunan panas badan penderita, yang sering kali terjadi secara memdadak   (lysis) dan diikuti oleh keadaan anak yang tampak loyo, dan pada perabaan akan   didapatkan ujung-ujung tangan/kaki dingin serta nadi yang kecil dan cepat.

Banyak kasus ditemui kondisi demikian tampak suhu tubuh penderita dirasakan   normal mengira kalau putranya sembuh dari sakit. Kondisi tersebut mengakibatkan   orang tua tidak segera membawa putranya ke fasilitas kesehatan terdekat. Pada   keadaan ini penderita sudah dalam keadaan terlambat sehingga kurang optimal   untuk diselamatkan dari penyakitnya.

Manifestasi Klinis yang Harus Diwaspadai

Seringkali terjadi, anak dikatakan tidak mengalami DBD ketika panas hari I   dan ke II. Fase ini sebenarnya masih masuk periode yang aman, sehingga gejala   klinis dan laboratorium tidak ditemukan kelainan. Fase kritis atau periode berbahaya   biasanya terjadi pada hari ke III hingga ke V. Periode inilah yang harus diwaspadai,   dan harus segera dilakukan pemeriksaan oleh dokter.

Beberapa gejala yang diwaspadai seorang anak penderita DBD bila panas yang   timbulnya mendadak, langsung tinggi dan disertai dengan anak tampak lemas, loyo   dan tidak mau bermain. Panas yang disertai flushing atau kemerahan pada muka,   leher dan dada. Gejala lain yang sering timbul di akhir periode penyakit adalah   panas yang disertai tanda-tanda perdarahan kulit, hidung dan gusi. Tanda bahaya   lainnya bila panas yang berangsur dingin, tapi anak tampak loyo, lemah dan pada   perabaan dirasakan ujung-ujung tangan atau kaki dingin.

Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis DBD adalah pemeriksaan laboratorium.   Gambaran khas hasil laboratorium DBD adalah terjadi peningkatan peningkatan   hematokrit (meningkat 20%, sekitar >40% atau nilai Hematokrit lebih 3 kali   nilai Hemoglobin) disertai penurunan trombosit kurang dari 100.000/uL. Perubahan   tersebut biasanya terjadi pada hari ke III hingga ke V panas. Sehingga sering   dokter menolak memeriksa darah pada hari pertama atau kedua panas, karena biasanya   hasilnya masih dalam keadaan normal.

Dalam perjalanannya trombosit akan terus menurun pada hari ke III, ke IV dan   hari Ke V. Pada hari ke VI dan selanjutnya jumlah trombosit akan meningkat terus   kembali ke nilai normal. Peningkatan jumlah trombosit setelah hari ke VI inilah   mungkin yang sering dianggap karena pengaruh pemberian jambu biji. Biasanya   setelah hari ke VI jumlah trombosit di atas 50.000, bila panas badan sudah turun   dan tidak disertai komplikasi penderita diperbolehkan pulang.

Pemeriksaan lain yang sering dilakukan adalah pemeriksaan Imunoglobulin G (Ig   G) dan imunoglobulin M (IgM). Meskipun tidak secara spesifik, pemeriksaan ini   sering membantu menunjang diagnosis DBD. IgG dan IgM antidengue inipun bisa   terdeteksi setelah hari ke III panas.

Seperti infeksi virus lainnya, infeksi virus DBD kadangkala dijumpai juga peningkatan   hasil Widal. Pemeriksaan Widal adalah identifikasi antibodi tubuh terhadap penyakit   demam tiphoid (tifus). Kejadian seperti inilah yang menimbulkan kerancuan diagnosis   DBD. Sehingga banyak penderita penyakit virus atau DBD sering awalnya didiagnosis   dokter sebagai penyakit tifus. Penyakit demam tiphoid pada minggu awal panas   biasanya malah tidak terdeteksi pemeriksaan Widal tersebut. Sebaiknya pemeriksaan   Widal dilakukan menjelang akhir minggu pertama panas atau awal minggu ke dua   panas.

Secara medis sebenarnya tidak ada pengobatan secara khusus pada penderita DBD.   Penyakit ini adalah self limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh sendiri.   Prinsip pengobatan secara umum adalah pemberian cairan berupa elektrolit (khususnya   Natrium) dan Glukosa. Sehingga pemberian minum yang mengandung elektrolit dan   glukosa seperti air buah atau minuman lain yang manis dapat membantu mengatasi   kekurangan cairan pada penderita DBD.(Idh)

=====================================

* dr Widodo Judarwanto adalah dokter Spesialis Anak, pada Rumah Sakit   Bunda Jakarta

Nama:
Email:

More KATA:
[ more Kata ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :