
indosiar.com - Masih trauma dengan kejadian gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh dan Nias, pada tahun 2006 ini, bangsa Indonesia kembali merasakan duka yang tak terperikan. Belum tuntas penanganan gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang juga menelan ribuan korban, tanggal 17 Juli 2006, kembali gempa dan tsunami menguncang Pantai Selatan Pulau Jawa.
Gempa bumi terjadi dengan tiba-tiba, tanpa memberi peringatan. Gempa bumi dapat terjadi setiap saat pada waktu siang hari maupun malam hari. Ada 25 wilayah di Indonesia yang rawan gempa bumi. Yaitu (1). Nanggroe Aceh Darussalam, (2). Sumatera Utara - Simeulue, (3).Sumatera Barat - Jambi, (4). Bengkulu, (5) Lampung, (6). Banten - Pandenglang, (7). Jawa Barat - Bantar Kawung, (8). DI Yogyakarta, (9). Lasem, (10). Jawa Timur - Bali, (11). Nusa Tenggara Barat, (12). Nusa Tenggara Timur, (13). Kepulauan Aru, (14). Sulawesi Selatan, (15). Sulawesi Tenggara, (16). Sulawesi Tengang, (17). Sulawesi Utara, (18). Sangihe Talaud, (19). Maluku Utara, (20). Maluku Selatan, (21). Kepulauan Burung - Papua Utara, (22). Jayapura, (23). Nabire, (24). Wamena, (25). Kalimantan Timur.
Gempa Bumi dan Penyebabnya
Gempa bumi adalah suatu guncangan yang cepat di bumi disebabkan oleh patahan atau pergeseran lempengan tanah di bawah permukaan bumi. Kebanyakan gempa bumi terjadi di perbatasan antara pertemuan dua lempengan. Setiap hari terjadi puluhan bahkan ratusan gempa bumi di muka bumi ini, hanya saja kebanyakan kekuatannya kecil sekali sehingga tidak terasa oleh kita.
Ada tiga gelombang gempa yaitu :
Ketiga gelombang tersebut menjalar serempak dari pusat gempa atau hiposentrum, tetapi karena faktor perbedaan dalam kecepatan, gelombang itu tertangkap secara beruntun pada seismograf. Dari perbedaan waktu itu dapat diperhitungkan tempat yang merupakan pusat getaran pada permukaan bumi atau episentrum.
Beberapa Jenis Gempa :
Getaran gempa ada yang horizontal dan ada yang vertikal, sehingga alat pencatatnya juga ada macamnya.
Di sebuah stasiun gempa dipasang dua seismograf horizontal yang masing-masing berarah timur-barat dan utara-selatan. Dengan dua seismograf ini tercatat getaran berarah timur-barat dan utara-selatan, sehingga dari resultannya petugas dapat menentukan arah episentrum. Dibantu oleh sebuah seismograf vertikal yang dipasang bersama kedua seismograf tadi, dapat ditentukan letak episentrum gempa tersebut. Untuk mencatat getaran yang lemah, diperlukan seismograf yang sangat peka. Namun, getaran yang terlalu kuat membuat seismograf tidak mampu membuat catatan, karena tangkai alat pencatat bisa mengalami kerusakan.
Pada awalnya gempa bumi yang lebih kecil akan diikuti oleh goncangan yang utama yang dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan lebih lanjut. Gempa kecil dapat terjadi pada jam pertama, atau setelah beberapa hari, beberapa minggu, dan bahkan bulan setelah terjadinya gempa utama.
Yang perlu diperhatikan pada saat terjadinya gempa bumi adalah bangunan tempat tinggal yang mudah roboh, sehingga kita perlu berhati-hati, jika perlu pindah dari gedung bekas gempa. Sedangkan mereka yang tinggal di sekitar pantai, perlu memperhatikan gejala air laut, sehingga kita segera mengungsi ke tempat lebih tinggi, agar tidak dapat dijangkau oleh ombak tsunami.
Tips Menghadapi Gempa Bumi
- Bila berada didalam rumah :
- Bila berada di luar ruangan
- Bila berada di dalam ruangan umum
1. Jangan panik dan jangan berlari keluar karena kemungkinan dipenuhi orang.
2. Jauhi benda-benda yang mudah tergelincir seperti rak, almari dan jendela kaca dsb.
Bila sedang mengendarai kendaraan
1. Segera hentikan di tempat yang terbuka.
2. Jangan berhenti di atas jembatan atau dibawah jembatan layang/jembatan penyeberangan.(Berbagai sumber/Idh)