Kesehatan
29-Nov-2006 11:51:03 WIB
KATA
Selamatkan Ibu dan Bayi dari Infeksi HIV



indosiar.com - Infeksi HIV kini telah mulai memasuki populasi umum. Telah ada ibu rumah tangga dan bayi -bayi HIV positif. Dari kegiatan konseling dan tes darah yang dilakukan Yayasan Pelita Ilmu (YPI) (2003-2006) terhadap 2470 ibu hamil di pemukiman padat penduduk Jakarta diketahui bahwa 11 orang (0,5%) diantaranya HIV positif.

Sementara 44 orang ibu hamil HIV positif lainnya dirujuk dari berbagai rumah sakit ke Yayasan Pelita Ilmu. Mengingat semakin meningkatnya kasus HIV/Aids di kalangan pencandu narkoba suntik yang mayoritas berusia muda dan memilik pasangan seksual, maka kasus-kasus persalinan dnegan HIV positif diperkirakan akan kian meningkat di berbagai rumah sakit.

Data RSUPN Ciptomangun Kusumo Jakarta menunjukkan bahwa jika pada tahun 1996 dan 2002 diketahui masing-masing terdapat 1 bayi yang dilharikan dari ibu HIV positif, maka pada tahun 2003 terdapat 17 kasus baru. Jumlah tersebut terus meningkat menjadi 44 kasus baru bayi/anak yang dilahirkan dari ibu HIV positif pada tahun 2004 dan 74 kasus baru pada tahun 2005. Dari total jumlah tersebut, sebanyak 88 bayi/anak diketahui hasil test darahnya HIV positif.

Penularan HIV dari ibu ke bayi bisa dicegah. Dengan intervensi (Ibu HIV positif minum obat ARV Profilaksis selama hamil, persalinan dengan operasi ceasar, dan memberikan susu formula untuk bayinya), maka resiko penularan bdari yang semula 25 - 45% bisa ditekan menjadi kurang dari 2%. Intervensi tersebut dikenal dengan program Prevention of Mother to Child HIV Transmission (PMTCT).

Menurut estimasi Depkes, setiap tahun terdapat 9.000 ibu hamil HIV positif yang melahirkan di Indonesia. Berarti, jika tidak ada intervensi sektiar 3000 bayi dikhawatirkan lahir HIV positif setiap tahunnya di Indonesia. Sangat disayangkan, efektivitas intervensi PMTCT tersebut seringkali terhambat oleh faktor biaya. Hampir semua dari 56 orang ibu hamil HIV positif yang berhubungan dengan YPI berasal dari golongan ekonomi kurang mampu.

Mereka memang cukup beruntung karna obat-obatan ARV Profilaksis yang harus diminum selama hamil bisa didapatkan gratis di rumah sakit rujukan pemerintah. Namun, mereka tidak mampu menanggung biaya operasi ceasar, sekitar 6 juta rupiah. Selain itu, ditambah dengan biaya susu formula untu bayi sekitar 150 ribu rupiah perbulan.

Menurut kebijakan Nasional PMTCT yang ditandatangani Menteri Kesehatan RI tahun 2005, pemerintah menyediakan obat ARV, layanan persalinan dan susu formula kepada ibu hamil HIV positif secara gratis. Namun, berhubung sumber dana atas biaya-biaya tersebut berasal dari lembaga donor internasional, maka kurang bisa dijamin kesinambungannya.

Contohnya, saat ini sekitar 20 orang ibu hamil HIV positif di Jakarta tidak bisa memperoleh layanan operasi caesar dan susu formula gratis karena dana Global Fund ke Indonesia sedang terhenti. Padahal, hampir semua perempuan HIV positif tersebut memutuskan untuk hamil karena mendengar adanya program PMTCT yang memungkinkannya memiliki anak yang bebas dari infeksi HIV, dan tentu saja karena adanya bantuan biaya untuk operasi caesar dan susu formula.

Berhubung usia kandungan ibu hamil HIV positif sudah masuk bulanny untuk melahirkan dan janji pemerintah bahwa dana lembaga dono sebentar lagi turun belum juga terbukti, maka YPI berusaha mencarikan sendiri bantuan dana operasi caesar dari beberapa dermawan. Sekitar 100 juta rupiah harus pontang panting dicari YPI untuk membantu 20 ibu hamil HIV positif. YPI tetap berkomitmen untuk memberikan dukungan psikososial kepada orang dengan HIV/Aids (Odha).

Program yang bersifat layanan langsung kepada masyarakat sudah selayaknya tidak boleh terhenti. Sangat tidak etis menghentikan layanan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkannya, terlebih lagi layanan yang menyangkut kehidupan seseorang.

Hambatan lain dari layanan PMTCT adalah kesiapan tenaga kesehatan. Beberapa rumah sakit di Jakarta dan daerah lain telah memberikan layanan yang baik terhadap Odha. Meski demikian masih sering terdengar adanya petugas kesehatan yang bersikap diskriminatif terhadap pasien HIV/Aids.

Beberapa petugas kesehatan tidak bersedia memberikan layanan operasi caesar bagi ibu HIV positif dengan alasan belum siap, peralatan medis kurang memadai ataupun karena belum ada ijin dari pihak pimpinan rumah sakit untuk melakukannya. Padahal, perawatan medis untuk Odha (termasuk ibu hamil HIV positif) bisa dilakukan sama seperti terhadap pasien-pasien umum lainnya, jika diterapkan prinsip kewaspadaan universal.

Sebagai lembaga yang telah menjalankan program PMTCT sejak tahun 1990, dalam rangka Hari Aids se-Dunia 1 Desember 2006 yang bertema "Keep the Promise" (Tepati Janjimu), Yayasan Pelita Ilmu menyampaikan beberapa seruan sebagai berikut:

  1. Segenap masyarakat harus waspada dan sadar bahwa infeksi HIV telah mulai mengancam populasi umum, termasuk ibu rumah tangga dan bayi yang dikandungnya.
  2. Ibu hamil harus rutin memeriksakan kehamilannya ke dokter/bidan, termasuk menjalani konseling dan tes HIV.
  3. Petugas kesehatan diseluruh Indonesia harus memberikan pelayanan yang tidak diskriminatif terhadap pasien dengan HIV/Aids, termasuk siap dan bersedia memerikan layanan operasi caesar bagi ibu hamil HIV positif.
  4. Pemerintah harus menjamin layanan kesehatan yang optimal, termasuk pendanaan, bagi ibu hamil HIV positif untuk mengurangi resiko penularan HIV ke janin yang dikandungnya.
  5. Kalangan masyarakat umum bisa berpartisipasi aktif dalam kegiatan peduli Aids dengan memberikan sumbangan dana untuk operasi caesar ibu hamil HIV positif dan biaya membeli susu formula untuk bayi yang dilahirkan ibu HIV positif. (Yayasan Pelita Ilmu/Idh)
Nama:
Email:

More KATA:
[ more Kata ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :