Kesehatan
26-Feb-2007 15:58:40 WIB
KATA
Penyakit Tropis yang Terabaikan



indosiar.com - Di Asia, termasuk Indonesia,penanganan untuk penyakit seperti kusta, kaki gajah, frambusia dan kala-azar, masih merupakan masalah yang besar, terutama pada masyarakat miskin, pedesaan dan marginal. Para penderita penyakit-penyakit tersebut mendapat tindakan yang diskriminatif dan dikucilkan oleh masyarakat sekitarnya.

Indonesia sebagai bagian dari negara Asia yang berkembang, hingga kini masih belum bisa dinyatakan bebas dari jenis-jenis penyakit-penyakit menular tersebut. Padahal, dahulu Asia termasuk Indonesia telah menyatakan terbebas dari jenis-jenis penyakit tersebut, namun keberadaannya tetap tidak bisa dieliminasi. "

Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular Departemen Kesehatan I Nyoman Kandoen dalam suatu kesempatan mengakui, pemerintah telah melalaikan keberadaan jenis-jenis penyakit berbahaya tersebut. "Memang keberadaan penyakit tersebut sempat terkendala penanganannya. Hal ini karena banyak muncul kasus penyakit baru di Indonesia, yang diprioritaskan untuk dituntaskan dulu karena merupakan perhatian dari masyarakat luas."

Untuk itu, Departemen Kesehatan melalui unit pelayanan kesehatan pedesaan, tetap memantau keberadaan dan perkembangan penyakit tersebut. Kusta misalnya, di Indonesia masih terindikasi menjadi endemis di 262 kabupaten. Padahal di wilayah tersebut juga berdiam 150 juta penduduk yang mungkin belum terjangkit. Kemungkinan tertular atau menjadi daerah pusat penyebaran penyakit sangat mungkin terjadi, jika sikap empati atau mengabaikan penyakit masih terjadi.

Setiap tahun, 20000 kasus baru penderita kusta muncul dari hasil laporan dinas-dinas kesehatan diseluruh Indonesia. Jumlahnya kian meningkat seiring tingkat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. "Terutama di wilayah Indonesia Timur, bagian Sulawesi Selatan juga di bagian Jawa Timur di pulau-pulau kecil, masih ditemukan kasus kusta", ungkap Kandoen.

Pemerintah Indonesia sendiri menyatakan dalam 10 tahun terakhir berhasil menurunkan 371.000 penderita kusta dengan 1722 penderita diantaranya mengalami kecacatan permanen. Sayangnya pernyataan itu justru menurunkan volume kampenye bahaya wabah penayakit kusta dimasyarakat. Sehingga yang menjadi patokan dalam penangannya hanya pada tingkat keberhasilan menekan jumlah penderita seminimal mungkin kasus yang muncul.

Frambusia, sejenis penyakit gangguan pada kulit ini juga masih menjangkit di Indonesia. Jumlahnya di Indoensia telah mencapai 5000 penderita. "Contohnya di Sumba, kecamatan Bepepoli, NTB yang masyarakatnya berstatus stadium 1 Fambusia akut".

Walau bergerak lambat, namun Badan Kesehatan Dunia, WHO memastikan Indonesia adalah salah satu dari tiga negara yakni India dan Tmor Leste sebagai negara yang memiliki penderita Frambusia terbanyak. "Seharusnya kita malu dengan status itu," kata Kandoen.

Faktor penyebab penyebaran penyakit ini adalah sistem sanitasi air atau ketersediaan air bersih, atau jarang mandi, jarang menggunakan pembersih sabun, menjadi peluang tertular. Kondisi tersebut sulit didapat didaerah-daerah yang sistem sanitasi airnya belum terakriditasi dalam rumah tangga, seperti didaerah pedalaman. Kondisi ekonominya semakin jelek, maka perkembangannya menjadi akut.

Penyakit yang muncul di daerah tropik seperti di Indonesia yakni kusta, kaki gajah dan frambusia, di Indonesia adalah berifat endemis dengan masalah terbesar adalah para penderita yang mengalami kecacatan menetap. Di regional penyakit kala azar hanya ditemukan di Bangladesh, India dan Nepal

Dr. Jai Narain dari Director of Communicable Diseases, South East Asia Regional Office (SEARO) dalam sebuah kesempatan forum konsultatif menyatakan, "penyakit-penaykit torpis ini berkaitan erat dengan tingkat kemiskinan, sehingga eliminasi, pemberantasan penyakit-penyakit tersebut akan merupakan langkah signifikan bagi pengurangan kemiskinan dan memudahkan pencapaian millennium Development goals.

Dengan tingkat pendapatan perkapita yang rendah di banyak daerah di Indonesia, kiranya menjadi daerah-daerah endemi penyebaran penyakit tropic tadi. Sebaiknya, kampanye akan bahaya penyakit-penyakit menakutkan yang pernah menghantui di Indonesia harus kembali di gencarkan bersama. Tanpa itu, bahaya akan penyebaran penyakit masih terus mengintai sambil menunggu disaat kita lengah dan terlena akan keberhasilan menekan jumlahnya.(Bagus Herawan/Idh)

Nama:
Email:

More KATA:
[ more Kata ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :