Kesehatan
5-Mar-2007 15:13:30 WIB
KATA
Lepra : Tantangan Eliminasi Berkelanjutan Sebagai Masalah Kesehatan Masyarakat



indosiar.com - Penyakit lepra atau kusta, yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, adalah salah satu penyakit tertua yang dikenal manusia. Penyakit ini terutama menyerang saraf peripheral dan kulit. Keterlibatan dan kerusakan saraf dapat menimbulkan cacat dan kelumpuhan tangan, kaki dan wajah. Penyakit ini umumnya mempengaruhi kelompok masyarakat yang miskin, rentan dan terpinggirkan dan secara tradisional berhubungan dengan mitos dan takhyul. Para korbannya akan terkena stigma, diasingkan dan didiskriminasi.

Dengan implementasi Multidrug Therapy (MDT) – sebuah kombinasi dari tiga obat yang dipromosikan oleh WHO sejak awal tahun 1980-an, telah terjadi penurunan drastis dalam jumlah kasus lepra secara global dari >10 juta kasus pada tahun 1985 menjadi < 0,3 juta kasus di tahun 2005. Didorong oleh kesuksesan implementasi MDT, Majelis Kesehatan Dunia pada tahun 1991 menerbitkan sebuah resolusi yang menyerukan pada negara anggota untuk mengupayakan Pemberantasan Penyakit Lepra sebagai sebuah masalah kesehatan umum, yang didefinisikan sebagai prevalensi < 1 kasus per 10.000 orang.

Kemajuan Hingga Saat Ini

Bangladesh, Bhutan, Indonesia, Maladewa, Sri Lanka dan Thailand mencapai target pemberantasan lepra pada tahun target awal ditahun 2000. Waktu target diperpanjang hingga Desember 2005 karena 14 negara gagal mencapai target di tahun 2000. Ini termasuk India, Myanmar, Nepal dan Timor – Leste dari kawasan Asia Tenggara. Myanmar mencapai target pada tahun 2003 dan India pada tahun 2005, yang hanya menyisakan Nepal dan Timor – Leste untuk mencapai target. Maka 9 dari 11 negara di wilayah tersebut telah mencapai target peniadaan penyakit lepra.

Prevalensi dan deteksi kasus baru telah menurun di semua Negara pada tahun 2005 dibandingkan tahun 2004, kecuali di Indonesia, yang diindikasikan selalu muncul kasus baru setiap tahun dan meningkat dari 16.549 kasus pada tahun 2004 menjadi 19.695 kasus di tahun 2005. Penurunan paling signifikan terjadi di India dengan 36 % penurunan pada prevalensinya dan 38 % penurunan pada deteksi kasus baru. Hal ini merupakan akibat dari upaya keras dalam meminimalkan ‘faktor operasional’ yang mempengaruhi indikator sebelumnya.

Dari hampir 15 juta kasus yang disembuhkan secara global dengan MDT, sekitar 12,8 juta berasal dari wilayah Asia Tenggara, lebih dari 11,8 juta diantaranya dari India. Wilayah Asia Tenggara dan India telah memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan dalam beban penyakit lepra secara global. Bangladesh, Bhutan, DPR Korea, Indonesia, Maladewa, Myanmar, Sri Lanka dan Thailand telah mempertahankan eliminasi lepra pada tingkat nasional dan bermaksud untuk terus mengurangi beban itu.

Bangladesh dan Myanmar telah mencapai penghilangan lepra pada unit adminitratif kedua antara lain seluruh 6 divisi di Bangladesh dan seluruh 17 negara bagian / divisi di Myanmar. Thailand telah mencapai penghilangan penyakit lepra di 75 dari 76 distrik, Sri lanka di 21 dari 25 distrik dan Indonesia di 18 dari 30 provinsi. Maladewa melaporkan hanya 15 kasus di tahun 2005 dan Bhutan setiap tahunnya melaporkan kurang dari 20 kasus dalam lima tahun terakhir.

Upaya pemberantasan lepra telah terintegrasi dalam pelayanan kesehatan umum di semua negara tersebut dan program it uterus mendapat prioritas di seluruh negara.

Fokus Masa Depan

  • Mencapai eliminasi di dua Negara yang belum – Nepal dan Timor – Leste ;
  • Mempertahankan komitmen politik dan memastikan sumber daya yang cukup untuk eliminasi yang berlanjut pada tingkat nasional dan terus mengurangi jumlah penderita lepra.
  • Memperkuat integrasi dari pelayanan penyakit lepra ke dalam system kesehatan umum melalui pembangunan kapasitas dan pengembangan keterampilan, untuk menjamin dan mempertahankan pelayanan penyakit lepra yang berkualitas, termasuk diagnosa dan perawatan ;
  • Memastikan jangkauan pelayanan penyakit lepra yang lebih luas, terutama dikelompok masyarakat yang saat ini kurang terlayani seperti wilayah pedesaan yang sulit dijangkau, daerah kumuh perkotaan, tenaga kerja migran ;
  • Meningkatkan dan melanjutkan kesadaran masyarakat melalui advokasi yang berkelanjutan dan kegiatan–kegiatan IEC untuk mendorong deteksi kasus secara sukarela dan mengurangi stigma ;
  • Meminimalkan / mencegah factor–factor operasional ;
  • Pencegahan dan perawatan terhadap kecacatan, mencegah dipindahkannya orang yang terkena penyakit lepra dan menjamin rehabilitasi berbasis masyarakat dari penderita lepra yang sembuh / cacat, dan
  • Merampingkan pengelolaan persediaan dan cadangan MDT di seluruh tingkatan, mengingat situasi endemic yang rendah.

Seluruh isu yang disebutkan di atas perlu diberi perhatian, dan dorongan harus dilanjutkan. Kita perlu memastikan dan melanjutkan komitmen politik, sumber daya yang cukup dan pelayanan penyakit lepra secara berkualitas. Diperlukan juga upaya memperkuat integrasi pelayanan penyakit lepra ke dalam sistem kesehatan umum, melalui pembangunan kapasitas dan pengembangan ketrampilan dari saraf perawat kesehatan umum. Kesadaran masyarakat harus dilanjutkan melalui advokasi dan kegiatan IEC. Mencegah dan merawat kecacatan, mencegah dipindahkannya orang yang terkena penyakit lepra, dan memastikan rehabilitasi berbasis masyarakat dari penderita lepra yang sembuh / cacat, mengurangi stigma dan menempatkan isu hak asasi manusia akan menjadi prioritas utama untuk masa depan. Kegiatan penting lain adalah merampingkan pengelolaan suplai dan cadangan MDT di semua tingkatan, mengingat situasi endemic yang rendah.

Peran WHO

WHO akan tetap membantu negara – negara melakukan konsolidasi pencapaian yang telah dilakukan hingga saat ini, dan menyediakan dukungan teknis untuk terus mengurangi beban penyakit lepra di negara tersebut. WHO juga akan mendorong penguatan lebih lanjut dari kemitraan di tingkat regional dan nasional, dan memfasilitasi interaksi dan jaringan antara seluruh pihak yang berkepentingan. Diharapkan, kemitraan semacam itu dan partisipasi stakeholder akan mempertahankan komitmen terhadap pemberantasan penyakit lepra di semua tingkatan, memastikan alokasi dari sumber daya tambahan yang dibutuhkan, memastikan suplai gratis dari obat dan bahan–bahan MDT, memfasilitasi implementasi kegiatan yang efektif dan menciptakan mekanisme pengawasan, supervise dan evaluasi yang efektif. Keseluruhan kebutuhan financial untuk dukungan WHO pada tingkat regional dan negara dari 2006–2010 akan berjumlah sekitar US$ 4.200.000. (WHO/Dv/Idh)


Nama:
Email:

More KATA:
[ more Kata ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :